Monday, March 21, 2022

Hidup Tragis Seorang Marie Antoinette 1

Masa Kecil Marie Antoinette Hingga Berusia 14 Tahun
Marie Antoinette dilahirkan pada 2 November 1755 sebagai anak perempuan terakhir tetapi bukan anak terakhir. Ia memiliki seorang adik laki-laki. Nama aslinya adalah Maria Antonia Josephe Jeanne. Ayahnya adalah Francis I, Kaisar Suci Romawi dan ibunya adalah permaisuri Maria Theresa. Oleh karena ia lahir di hari berkabung dalam agama Katolik, maka ulang tahun Marie Antoinette selalu dirayakan sehari sebelumnya yaitu pada hari para Santa. Hari kelahiran Marie Antoinette bertepatan dengan gempa besar di Lisbon, Portugal. Bencana berkekuatan 7,7 hingga 9 magnitude ini memakan korban hingga puluhan ribu jiwa. Secara kebetulan, banyak penduduk dan gereja yang menyalakan lilin sebagai perayaan hari Santa. Goncangan akibat gempa mengakibatkan lilin berjatuhan dan menyebabkan bencana selanjutnya, yaitu kebakaran massal. Sungguh sebuah pertanda yang tidak diinginkan oleh semua orang yang lahir di dunia ini.
Ia memiliki 14 kakak kandung dan seorang adik kandung laki-laki. Enam kakak kandung Marie Antoinette meninggal saat masih kecil atau remaja. Ironisnya, dari seluruh anggota keluarga termasuk ayah ibunya, tidak ada yang berusia melampui 70 tahun. Marie Antoinette memiliki hubungan dekat dengan Maria Carolina, kakak yang berusia 3 tahun di atasnya. Seorang musikus terkenal bernama Wolfang Amadeus Mozart datang memenuhi panggilan untuk menghibur di istana. Namun di depan penonton, Mozart tampak kikuk dan terjatuh. Marie Antoinette yang mendekat untuk menolong dan mengusap air mata Mozart. Mozart kebetulan memiliki usia sebaya dengan Marie Antoinette. Namun kelak Mozart akan wafat di usia 35 tahun akibat sakit.
Dari kecil, Marie Antoinette (saya gunakan inisial MA) sudah dijodohkan dengan Louis XVI. Perwakilan dari keluarga Louis XVI datang sejak gadis itu masih berusia remaja. Ia melaporkan kepada raja Louis XV bahwa secara akademis, Marie Antoinette memang kurang namun ia memiliki perilaku yang baik. Di usia 10 tahun, ayahnya wafat. Kakak sulung laki-laki naik tahta menjadi kaisar Joseph II, bertahta bersama sang ibu.
Sebelum MA siap dikirim ke Perancis untuk menikah, ia menjalani proses perataan gigi yang menyakitkan. Beberapa saat sebelum meninggalkan Austria untuk selamanya, Marie Antoinette menangis di pelukan ibunya. Ia mendapatkan mas kawin berupa beberapa jam tangan. Salah satu jam tangan ini kelak akan menjadi jam tangan terakhir yang ia kenakan namun disita oleh petugas penjara. Permaisuri Maria Theresa, sang ibunda berpesan "Banyaklah berbuat baik buat masyarakat Perancis, sehingga kita bisa mengatakan bahwa kita mengirim seorang malaikat untuk negara Perancis". Ia pergi ditemani oleh anjing kesayangannya bernama Mops, serta para asisten yang diangkut oleh 57 kereta. Konon perjalanan dari Vienna menuju Versailles memakan waktu hingga 3 minggu lamanya.

Pernikahan Marie Antoinette Dengan Calon Raja Louis 
Di tengah perjalanan, mereka berhenti di hutan Compiegne. Di situ Marie Antoinette disambut oleh wanita yang ia sebut Ibu Etiket. Marie Antoinette diharuskan meninggalkan anjing dan para asistennya. MA menangis saat dipisahkan dari Mops. Ibu Etiket mengatakan bahwa ia bisa memiliki anjing Perancis sebanyak yang ia mau. Gaun ala kerajaan Austria harus ia tanggalkan sebelum memasuki Perancis. MA dirias menjadi seorang putri Perancis, dengan gaun dan penutup kepala biru turqouise. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk bertemu raja Louis XV dan suami. Mereka kemudian beriringan menuju ke istana Versailles. MA pun terpana dengan kamar tidurnya yang sangat mewah. Di sebelah ranjang tidur terdapat pintu yang menghubungkan ke kamar lain yang berfungsi lebih pribadi. Dua hari kemudian, MA dan Louis menikah di gereja. Mereka kemudian menjalani ritual ranjang agar mereka memiliki keturunan. Pada kenyataannya, MA tak kunjung hamil.'

Kehidupan Setelah Menikah
Etiket untuk MA sangat rumit. Setiap bangun tidur, ia sudah disambut oleh ibu Etiket dan para wanita lain. Pada wanita itu adalah para anggota kerajaan dan bangsawan. Wanita yang memiliki status tertinggi, akan bertugas melayani MA dengan menyediakan air untuk membasuh tangan, handuk untuk mengusap tangan dan memakaikan pakaian. Kegiatan ini selalu dilakukan setiap pagi namun MA merasa konyol namun tak dapat berbuat apapun. Setelah berpakaian, ia sarapan bersama sang suami dengan ditonton oleh banyak orang. Minuman MA hanyalah air putih yang didatangkan dari sumber mata air. 
Hubungan MA terhadap anggota kerajaan lain umumnya baik, terutama pada adik ipar bungsu yang bernama Charles. Namun MA menolak berkomunikasi dengan Nyonya Jeanne Du Barry, selir raja Louis XV. Du Barry tidak dapat memulai komunikasi dengan MA sebab statusnya di bawah MA. Ibu MA dan perwakilan dari Austria bernama Mercy meminta MA membuka komunikasi dengan Nyonya (Jeanne) Du Barry. Sikap diam MA terhadap nyonya Du Barry dianggap tak bijak.  Posisi MA juga dianggap belum kuat selama ia belum memiliki keturunan. Pasalnya, suami MA adalah calon raja. Ibunda MA khawatir kalau raja Louis XV, sang kakek, akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahan. MA pun memulai percakapan singkat "Hari ini banyak orang di Versailles". Meskipun singkat, namun Du Barry disebut sangat puas. Raja Louis XV mengirim dokter tua untuk memeriksa kondisi sang cucu, mencari penyebab mengapa ia tak bisa menghamili MA. 

Menjadi Raja dan Ratu Perancis
Pada tahun 1774, Louis XV wafat akibat terserang cacar. Di usia 19 tahun, suami Marie Antoinette bertahta menjadi raja. Ia menggandeng sang istri untuk berlutut dan berdoa "kita masih muda, ini berat Tuhan". 
Ibunda MA kerap mengirim surat dari Austria, berharap agar MA lekas hamil dan memiliki keturunan. Ibunda MA berpikir ada yang salah dengan Louis sebab ia tak terangsang oleh anaknya. Hingga suatu hari pada tahun 1777, kakak laki-laki MA yaitu kaisar Joseph II datang untuk berbicara dengan Louis. Mendengar pengakuan Louis soal kehidupan seks, ia tidak melihat ada masalah medis pada diri Louis. Hanya saja cara berhubungan yang mungkin keliru. Hal ini disampaikan melalui surat ditujukan kepada Leopold, kakak laki-laki MA yang lain. 

Kelahiran Marie Therese dan Adik-Adiknya
Kedatangan Joseph ini berbuah manis, sebab pada 19 Desember 1778, MA pun melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Marie Therese Charlotte Bourbon. Marie Therese adalah nama ibunda Marie Antoinette. Keluarga kerajaan Perancis dan masyarakat masih menghendaki MA melahirkan pewaris kerajaan, yaitu bayi laki-laki. Sehingga kelahiran Marie Therese tidak disambut antusias. MA berkata "kasihan gadis kecil, kamu tidak dikehendaki, tetapi kamu tetap aku sayangi. Anak laki-laki akan menjadi milik negara, kamu akan menjadi milikku"
 Setelah kelahiran Marie Therese kecil, suami MA menghadiahkan sebuah rumah bernama Petit Trianon sebab ia mengetahui bahwa MA tidak menyukai ritual istana Versailles yang kaku. Louis membebaskan MA merenovasi rumah tersebut sesuai selera MA. MA membuat taman, sungai, perkebunan dan peternakan di sekitar rumah tersebut. Rumah tersebut dahulu dibangun oleh raja Louis XV untuk ditinggali selir bernama Nyonya Pompador.  Untuk mendatangi Petit Trianon, raja Louis XVI harus terlebih dulu mendapat undangan atau ijin dari MA. Tak lama kemudian, MA terserang cacar dan menghabiskan waktu sebulan hanya di Petit Trianon ditemani oleh empat orang pria yang diklaim bertindak sebagai "perawat". Petit Trianon masih bertahan hingga kini, dan dibuka untuk publik, sebagai museum. 
Pada 1781, MA kembali melahirkan, namun kali ini sangat dinantikan oleh banyak orang sebab sang bayi adalah anak laki-laki yang diberi nama Louis Joseph. Pada tahun 1785, Marie Antoinette melahirkan bayi laki-laki lagi bernama Charles. 

Madame Deficit
Hari-hari Marie Antoinette dilewatkan dengan berbagai kegembiraan termasuk pesta topeng, opera, balapan kuda dan judi tak berkesudahan. Dalam setahun, Marie Antoinette bisa memesan 150 gaun berikut berbagai pasang sepatu. Ia juga menyukai minyak wangi dan aneka kue. Marie Antoinette memiliki penata rambut pribadi bernama Leonard. Suatu ketika, Leonard berhasil menata rambut Marie Antoinette setinggi 90 cm. 
 Siapa yang tak suka dekat dengan seorang wanita yang memiliki posisi tertinggi di kerajaan, selain suaminya?  Wanita ini kerap mengadakan pesta tanpa perlu bersusah payah menyiapkan dan membereskan. Teman-teman hanya perlu datang dan bersuka ria. Siapapun akan terbuai menjadi temannya. Dua rekan terbaik MA adalah Yolande de Polastron dan juga nyonya Lamballe yang pernah menikah singkat dengan paman Louis XVI. Yolande de Polastron dikenal cantik dan juga pandai melukis. Sayang kebiasaan borosnya menimbulkan kebencian. 


Keuangan Perancis Benar-Benar Goyah
Pada tahun 1786, MA melahirkan untuk terakhir kalinya. Bayi perempuan yang diberi nama Sophie itu hanya bertahan hidup selama 11 bulan. Pada 1789, putra sulung Marie Antoinette wafat setelah lama menderita tuberkulosis. Penyakit ini membuat anak sulung Marie Antoinette seperti separuh lumpuh dan sempat diharuskan mengenakan penyangga tubuh. Ia selalu ditemani seorang pelayan laki-laki. Di tahun inilah, masyarakat Perancis terutama di Paris mulai merasakan harga makanan yang mencekik. Ekonomi mulai goyah. Penasihat keuangan raja Louis XVI memberi masukan yang berdampak buruk. Raja Louis XVI mulai depresi, ia berjalan di sekitaran istana tanpa tujuan. Ia menolak berbicara dengan siapapun selama 10 hari. Suami Marie Antoinette ini memiliki perawakan tinggi yaitu 194 CM. Namun penampilannya tak bisa rapi dalam jangka waktu lama meskipun ia selalu dikelilingi oleh pegawai istana yang siap merapikan penampilan sang raja. Ia selalu tidur jam 11 malam, tanpa melepas wig. Tak ayal saat bangun, wig yang ia pakai kempes sebelah. Louis menyukai kegiatan berburu, namun ia memiliki karakter yang lemah. Marie Antoinette menduga hal itu disebabkan oleh ibu kandung Louis saat Louis masih kecil. Setelah ayah Louis wafat di usia muda, ibunda Louis tak memiliki semangat hidup lagi. Ibu Louis yang bernama Maria Josepha tersebut hanya mengurung diri meratapi kepergian sang suami. Ia tak memiliki selera makan. Seluruh ruangan yang ia huni ditutup oleh kelambu berwarna abu-abu. Louis yang kala itu berusia 11 tahun dibawa masuk ke kamar sang ibu bersama adik-adiknya. Hampir setiap hari. Namun hanya Louis yang seolah paling memahami perasaan sang ibu. Ia sabar mendengarkan curhatan sang ibunda. Sementara dua adik laki-laki Louis lebih cuek. Benar saja, pada awal musim semi 1767, ibunda Louis wafat, di usia 35 tahun. 

Hubungan Dengan Axel Von Fersen Semakin Dekat
Rekan lama MA bernama Axel Von Fersen, pria kelahiran Swedia yang dikenal tampan, kembali datang. Axel ini diduga memiliki hubungan terlarang dengan MA, berdasarkan bukti surat-surat di antara mereka. Beberapa kalimat pada surat ini memang telah "dikaburkan" dengan cara dicoret-coret. Namun dengan kecanggihan alat jaman sekarang, para ahli teknologi membantu para ahli sejarah untuk membaca apa yang ada di balik coretan-coretan tersebut. Pada tahun 1785, tepat sembilan bulan setelah kepulangan Axel, MA melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Louis Charles. Banyak spekulasi menyebut bahwa anak itu adalah hasil hubungan dengan Axel. Namun para asisten menyebut bahwa pada saat sebelum mengandung, Louis XVI sering menghabiskan malam bersama MA. Axel, berkirim surat kepada adik perempuannya. Ia mengatakan telah memutuskan untuk tidak akan pernah menikah. "saya tidak bisa menjadi milik seseorang yang saya benar-benar inginkan".

Sejenak Tentang Axel Von Fersen, Pria Idaman Lain Marie Antoinette
Kelak Axel akan meninggal di usia yang relatif muda, yaitu 54 tahun dengan cara yang sama tragis dengan Marie Antoinette dan Louis XVI. Bermula dari kematian pangeran tahta Charles August, yang jatuh dari kuda dan menderita pendarahan otak setelah memeriksa pasukan di Scania, utara Swedia. Warga curiga bahwa pangeran Charles August telah diracun oleh pendukung raja Gustav IV Adolf. Tersangka utama di pikiran mereka adalah Axel Von Fersen dan adiknya, Sophie. Sejak itu, Axel menerima banyak ancaman pembunuhan. 
Tanggal 20 Juni 1810, jenazah pangeran Charles August dibawa dari Scania untuk dimakamkan. Axel berada di kereta depan memimpin iringan, bersama pasukan lain. Di perjalanan, kaca kereta yang ditumpangi Axel pecah oleh lemparan koin dan juga peluru. Kereta Axel dihadang oleh warga yang membentuk barikade. Pengikat pada kuda-kuda yang menarik kereta tersebut dilepaskan, dan Axel ditarik paksa keluar dari kereta. Pasukan yang melihat ini hanya bisa diam. Akhirnya, seorang pria bernama Silfversparre berusaha menyelamatkan Axel. Ia menawarkan agar Axel ditahan dan akan disidang. Seorang pria bernama Otto Johan Tandefelt menginjak dada Axel dengan kedua kakinya. Tulang-tulang rusuk Axel patah dan menekan organ tubuhnya. Axel tewas di tempat. Beberapa bulan kemudian, Axel dan Sophie dibebaskan dari segala tuduhan mengenai tewasnya pangeran Charles August. Jenazah Axel dimakamkan dengan upacara kenegaraan. Sementara Otto Johan Tandefelt didakwa dengan pembunuhan dan penjara. Setelah beberapa tahun ditahan, ia kemudian diampuni oleh raja Swedia, Charles XIII, yang merupakan ayah angkat pangeran Charles August. Otto pindah ke Amerika dan berganti nama menjadi Patterson. 

Istana Versailles Digeruduk Wanita Dari Paris
Pada 5 Oktober 1789, sejumlah wanita dari Paris berjalan kaki menuju ke istana Versailles. Mereka membawa berbagai senjata. Saat mendengar para wanita ini sedang dalam perjalanan, suami Marie Antoinette menolak untuk menyelamatkan diri "lari dari sekumpulan wanita yang kelaparan?"  Saat para wanita ini tiba di depan istana Versailles, Louis XVI meminta penjaganya untuk membuka gerbang dan beberapa utusan wanita masuk menemui sang raja. Kemungkinan kelelahan dan kelaparan, seorang utusan wanita pingsan di hadapan Louis. Setelah sadar, ia mengucapkan "roti". Louis XVI menjanjikan akan memenuhi permintaan tersebut. Namun para wanita lain merasa belum puas. Mereka bertahan di luar Versailles dan tidak langsung kembali ke Paris. Tanggal 6 Oktober 1789 subuh, mereka menggunakan siasat untuk masuk. Beberapa wanita muda menggunakan pesona tubuhnya untuk menggoda penjaga gerbang. Kesempatan ini dimanfaatkan pria-pria bersenjata yang juga di antara wanita-wanita ini. Tujuan utama mereka adalah ke ruang MA, tentu untuk dibunuh. Ada seorang pria mengenakan mantel dan topi, layaknya seorang bangsawan. Ia menunjukkan di mana ruang MA. Betapa bencinya ia terhadap MA sehingga ia seolah tak peduli akan nyawa MA.  Dua bodyguard yang menjaga kamar Marie Antoinette tewas ditebas. (kisah MA bersama 3 asistennya kabur melalui pintu rahasia sudah diungkap di bagian lain). Massa kemudian berkumpul di bawah balkon. Kepala dua bodyguard malang tersebut dipasang di atas tombak dan diacung-acungkan ke arah balkon. Beberapa menembakkan peluru ke jendela kaca di balkon. Marie Antoinette keluar ke balkon dan membungkuk meminta maaf. Mereka berteriak "Hidup ratu~ Hidup Ratu". Tak lama kemudian diikuti oleh teriakan "ke Paris"

Meninggalkan Istana Versailles Untuk Selamanya
Marie Antoinette, Louis XVI, kedua anak mereka dan beserta rombongan pegawai istana termasuk nyonya Lamballe berangkat menuju ke Paris. Diikuti oleh rombongan para wanita yang "kelaparan". Sesampainya di Paris, rombongan kerajaan ditempatkan di istana Tuileries. 

Upaya Pelarian Ke Montmedy
Pada 20 Juni 1791, Axel Von Fersen merancang rencana bagi MA sekeluarga untuk melarikan diri ke Montmedy. Di Montmedy, Louis XVI berencana mengadakan kontra revolusi dengan cara bergabung dengan pasukan pendukung kerajaan. Di kota Montmeidy disebutkan masih banyak warga pendukung kerajaan.
 Di dalam kereta, terdapat raja Louis XVI, Marie Antoinette, Marie Therese, Louis Charles, adik bungsu Louis XVI yaitu Elisabeth serta pengasuh Louis Charles yaitu nyonya Tourzel. Mereka menyamar sebagai keluarga turis Russia.  Pada saat yang hampir bersamaan, adik Louis XVI yaitu Count of Provence dan istrinya juga melarikan diri, menuju ke Austria-Belanda, sehingga mereka menggunakan jalur berbeda dan selamat sampai tujuan.
Axel mengikuti MA dan keluarga hingga ke tujuan berikutnya dan kemudian diperintahkan oleh Louis XVI untuk meninggalkan mereka. Namun pelarian MA ini hanya berlangsung selama 23 jam. Saat mencapai Sainte-Menehould, identitas asli mereka mulai dikenali. Dan saat mencapai Varennes, mereka diberhentikan oleh seorang pria bertubuh pendek bernama Drouet. Ia dibantu oleh beberapa serdadu untuk memblokir jalan. Setelah beradu argumen, Louis dipertemukan dengan seorang pedagang lokal bernama Saucy yang juga seorang pengacara. Kepada Saucy, Louis meminta diijinkan meneruskan perjalanan agar mereka bisa sampai di Rusia untuk memenuhi undangan Bapak Baron yang mengadakan pesta kostum akbar untuk sang istri. Awalnya Bapak Saucy percaya, apalagi setelah melihat paspor. Namun Drouet mengancam bahwa membiarkan mereka pergi berarti Saucy siap kehilangan kepala. Louis dan rombongan kemudian dibawa ke rumah Saucy, bertemu dengan istri Saucy. Mereka terpaksa menginap semalam. Salah satu alasan pelarian ini gagal akibat suami MA yang beberapa kali menunda kepergian. Raja Louis XVI semula enggan meninggalkan Paris, ia menganggap bahwa hanya segelintir orang yang mendukung revolusi.  Pelarian ini menjadi salah satu alasan kuat raja Louis XVI kelak dipenggal.

Menjadi Tahanan Tuileries Kembali
Majelis Nasional mengirim Mayor Petion dan Barnave untuk mengantar mereka kembali ke Paris. Tugas mereka selain mengantar adalah melindungi anggota kerajaan terutama Marie Antoinette. MA banyak mendapat ancaman pembunuhan. Setelah kembali ke Paris, mereka ditahan di istana Tuileries lagi namun kali ini dengan penjagaan yang ekstra ketat. Hingga pada 10 Agustus 1792, istana Tuileries diserbu warga. Banyak "Penjaga Swiss" yang menjaga anggota kerajaan terbunuh di peristiwa ini. Warga mendesak agar bekas anggota kerajaan ini dipindahkan ke penjara Temple. Untuk sementara waktu, bekas keluarga kerajaan ini ditempatkan di Feuillans. Baru pada 13 Agustus 1792, mereka dipindah ke penjara Temple. 
Penjara Temple merupakan bangunan berusia 400 tahun, dibangun dengan kokoh, dikelilingi oleh 4 menara. Pada salah satu menara terdapat sebuah tangga berbentuk spiral yang menghubungkan lantai atas. Secara bertahap, perabotan dari istana Tuileries dipindah ke penjara Temple. 

Turgy, Si Tukang Masak Yang Bernyali Besar
Tanpa diketahui bekas anggota kerajaan, secara diam-diam tukang masak Turgy pergi ke penjara Temple. Ia membawa serta kedua rekannya yaitu Chretien dan Marchand yang juga bersedia mengikuti dirinya. 
Sesampai di depan penjara, Turgy mengenali seorang penjaga yang pernah bekerja di istana Tuileries. Meski awalnya enggan, namun penjaga tersebut mengajak Turgy, Chretien dan Marchand masuk. Mereka langsung menuju ke dapur. Ternyata di dapur sudah ada tiga tukang masak. Dengan pura-pura yakin, Turgy menjelaskan bahwa mereka bertiga dikirim untuk membantu di dapur. Kedatangan Turgy dan kedua rekannya ini seperti penolong di waktu tepat sebab dapur nampak berantakan. Penjara ini tidak ditempati selama 3 tahun. Orang terakhir yang menempati adalah adik kandung Louis XVI yaitu Comte d'Artois, yang keturunannya hidup hingga saat ini. Comte d'Artois ini berhasil kabur dari Perancis pada 1789. Turgy tahu betul bahwa sewaktu-waktu ia dan kedua rekannya akan menghadapi pertanyaan dari utusan pemerintah pendukung revolusi. Benar saja, pada hari kedua ia ditanya "siapa yang memberi wewenang kalian untuk bekerja di sini?" Jawaban Turgy "konselor" meyakinkan petugas tersebut. Keesokan hari, tiga petugas konselor yang tampak lebih berpendidikan, datang ke bagian dapur. Mereka adalah Chabot, Santerre dan Billaud de Varenne. Mereka memandang Turgy, Chretien dan Marchand dengan curiga. Chabot mengetahui bahwa Turgy dan kedua rekannya bekerja di istana Tuileries dan memberi pertanyaan yang sama dengan petugas sebelumnya. Dengan yakin, Turgy menjawab "(utusan pemerintah) mayor Petion dan Manuel". Chabot membalas "mungkin kalian dianggap warga yang baik. Bertahanlah di posisi kalian, negara akan memperlakukan kalian dengan lebih perhatian daripada pemimpin kalian yang tirani itu". Turgy dan kedua rekannya serempak menjawab. Setelah konselor pergi, Chretien dan Marchand menyeletuk "kamu mau kita bertiga ini mati ya? Kamu bilang ke deputi yang menyuruh kita adalah konselor. Dan kepada konselor kamu bilang yang menyuruh kita deputi/utusan pemerintah". Beruntung mereka bertiga tidak pernah menghadapi nasib itu. 
 
Jasa Besar Tukang Masak Turgy Untuk Marie Antoinette
Ohh satu lagi jasa Turgy untuk Marie Antoinette, yaitu pada saat istana Versailles dirangsek para wanita tanggal 6 Oktober 1789 subuh silam. Bodyguard yang menjaga kamar MA segera membuka pintu kamar, berteriak agar mereka bergegas mengunci pintu kamar dan membawa sang ratu keluar dari kamar. Tentu bukan pintu yang dijaga oleh bodyguard tersebut. Seperti yang telah saya kisahkan di awal, kamar MA yang sangat menawan ini memiliki sebuah pintu "rahasia" yang terletak di pojok kamar. Meski rahasia, namun pintu ini tampak terlebih jika kita jeli. Dari pintu inilah, MA dan ketiga asistennya lari. Namun terdapat sebuah pintu yang terkunci.. Asisten MA menggedor-gedor pintu dengan rasa panik. "Demi Tuhan, buka pintu ini! Buka pintu ini untuk ratu!". Beruntung Turgy mendengar dan segera membuka pintu. Turgy mulai bekerja di dapur Versailles pada tahun 1784, saat usianya baru menginjak 21 tahun. Mulanya pekerjaan Turgy hanyalah memotong sayuran dan pekerjaan kasar lain. Namun perlahan ia mulai dipercaya untuk membuat roti untuk raja Louis XVI. Pada akhirnya Turgy benar-benar diberi kepercayaan mengantar makanan untuk raja Louis XVI, ditemani oleh petugas kerajaan bersenjata. Jarak dari dapur ke ruang makan raja Louis XVI cukup jauh. 

Sedikit Mendalam Tentang Pintu Rahasia
Pintu ini menghubungkan dengan ruangan pribadi MA. Di ruangan ini, terdapat sebuah ranjang tidur dan sedikit perabotan. Dokter kerajaan saat itu mengharuskan MA untuk rebahan setelah mandi karena mereka percaya bahwa mandi hangat itu membuat otot tubuh menjadi lemas. Dari ruangan pribadi, terhubung dengan ruangan lain yang lebih besar. Di sini, MA memainkan piano dan harpa. Terdapat beberapa pintu yang salah satunya terhubung dengan bagian belakang bangunan. Karena belakang, maka dinding dan lantai tidak disemen atau diplaster. Dari sini, terhubung dengan tangga rahasia. Sebelum masuk ke ruangan megah lain yang bersifat terbuka untuk publik, terdapat sebuah dinding yang bisa dibuka. Berbeda dengan "pintu rahasia" di kamar MA, "dinding rahasia" ini tak nampak dari luar. Saat masuk, ternyata terdapat tangga rahasia lagi yang menghubungkan dengan dua ruangan rahasia yang terhubung satu sama lain. Ruangan ini kecil. Di satu ruangan terdapat perapian, satu lagi cukup nyaman dengan lemari. Beberapa orang yang bertanggung jawab atas Versailles sekarang menduga bahwa kamar ini digunakan Axel untuk datang menginap dan bertemu MA dan pergi tanpa ada yang mengetahui.

Hari-Hari Pertama di Penjara Temple
Jika petugas dengan mudah disuap, maka tidak dengan Konselor. Mereka dedikasi penuh kepada pemerintah pendukung republik. Mereka melarang Turgy menaruh makanan di meja sebelum meja berikut taplak meja diperiksa dengan seksama. Botol air dan teko kopi diisi di hadapan mereka. Roti dan macaron dibelah untuk diperiksa apakah ada pesan rahasia diselipkan. Konselor pun puas dan mengijinkan keluarga bekas kerajaan ini masuk ke penjara Temple. Saat pertama Turgy datang menghidangkan makanan, tentu MA mengenalinya. Namun demi keselamatan Turgy, MA harus berpura-pura. Dari ratusan pekerja bawahan di Versailles dulu, tentu MA tidak mengenali mereka satu persatu. Berbeda kasus dengan Turgy, sebab ia pernah menyelamatkan nyawa MA tanpa ia rencanakan, tepatnya pada 6 Oktober 1789 subuh. 
Kesempatan untuk berkomunikasi diam-diam datang saat Turgy masuk lagi untuk membereskan peralatan makan. MA membisik "kamu tidak seharusnya datang ke sini, terlalu berbahaya" Turgy membalas "ah, kenapa saya tidak seharusnya datang ke sini, bu?" MA kemudian menempelkan jari telunjuk ke bibirnya "ssst, ada yang datang" Turgy yang dikenal pandai, setia dan menghibur ini akan menjadi perantara rahasia. Dua atau tiga kali dalam seminggu, Turgy keluar dari penjara Temple untuk membeli bahan-bahan makanan. Di saat inilah ia membawa catatan pesan dari bekas keluarga kerajaan kepada orang-orang yang dituju. Salah satunya adalah jenderal Jarjayes yang masih berada di Paris. Dan Turgy pula yang membawa masuk catatan balasan ke dalam penjara Temple. Memilih Turgy adalah tindakan yang tepat. Saat kembali ke penjara Temple, ia tidak pernah digeledah. Para penjaga menyukai Turgy. Saat penjaga kelaparan, Turgy selalu memberi mereka roti dan keju. Terkadang potongan ayam dan ham. Kita tahu pada saat itu, harga roti sedang melambung tinggi dan berdampak pada masyarakat ekonomi bawah termasuk para penjaga.



Yang Setia Hingga Ke Penjara Harus Meninggalkan Bekas Keluarga Kerajaan
Di penjara Temple, Louis menemukan sebuah perpustakaan. Setidaknya ia tak merasa bosan. MA, Louis dan Elisabeth tetap rutin mengajarkan berbagai mata pelajaran kepada Charles. MA sesekali bermain piano yang dibawa dari istana Tuileries. Malam tanggal 19 Agustus 1792, pemerintah pendukung republik memerintahkan siapapun yang tidak berkaitan dengan kerajaan harus keluar. Kedua asisten Louis yaitu bapak Hue dan Chammily dibawa.  Permintaan MA agar mereka tidak membawa Lamballe sia-sia. MA menjelaskan bahwa sejatinya Lamballe adalah keluarga kerajaan sebab dulu ia pernah menikah dengan cucu raja Louis XIV. Namun pernikahan ini berjalan singkat, dan tanpa anak. Suami Lamballe meninggal karena sakit, diduga karena sipilis akibat kebiasaannya yang menyukai seks bebas. Untungnya penyakit ini tidak ditularkan ke Lamballe yang memiliki nama asli Marie Louise. Sepeninggal sang suami, Marie Louise tidak lagi menikah. Ia diperkenalkan ke MA pada tahun 1771, setahun setelah MA datang ke Perancis untuk menikah.
Lamballe, nyonya Tourzel dan putrinya, Pauline serta Felicity akan ditahan di penjara La Force. Kemudian Nyonya Tourzel dan Pauline akan dipindah ke penjara Port Royal. Nyonya Lamballe menjadi susah berjalan. Ia akan menemui ajalnya dengan cara tragis. Ia dipaksa untuk mengucapkan kalimat yang menentang kerajaan, namun ia menolak. Seorang utusan rahasia ayah mertua Lamballe berbisik agar Lamballe mengucapkan saja agar ia selamat dan segera keluar dari kerumunan warga yang beringas. Namun Lamballe menolak. Utusan rahasia ini berpura-pura mengatakan "ya dia sudah bersumpah". Lalu ia berkata pada Lamballe untuk keluar melalui pintu di depannya dan menyerukan dukungan pada negara, maka Lamballe akan selamat. Di luar, Lamballe/Marie Louise telah ditunggu oleh Nicholas Jourdan, pria yang pernah memenggal kepala dua bodyguard malang di depan kamar MA. Tapi kali itu ia berjanji akan menyelamatkan Lamballe. Namun saat dituntun, seorang pria bernama Charlot melempar tombak mengenai kepala Lamballe. Pria lain melempar stik kayu mengenai leher Lamballe. Lamballe jatuh sambil berlutut. Kemudian pedang dan berbagai tombak memburu badannya. Ia tak berteriak sedikitpun. Jasadnya ditelanjangi dan ditonton banyak orang termasuk anak-anak. Empat pria menaruh jasad Lamballe ke bangku dan menyiram darah yang mengucur dari tujuh luka. Pria bernama Grison memotong kepala jasad Lamballe dan membawanya ke sebuah salon kecantikan dan menaruh di meja. Grison meminta agar rambut jasad Lamballe dikeriting sebelum dipersembahkan ke majikannya. Sementara pria bernama Rodi membelah dada Lamballe dan mengambil jantungnya. Di depan penjara Temple, mereka berteriak. Petugas berusaha menutup semua jendela. Meski tak sempat melihat, MA akhirnya mengetahui nasib teman baiknya itu dan sangat terpukul.

Kehidupan di Penjara Temple Setelah Banyak Yang dibawa Pergi
Hanya beberapa jam di luar untuk menjawab beberapa pertanyaan pemerintah pendukung revolusi, mereka menetapkan bahwa bapak Hue tidak bersalah. Maka beberapa jam kemudian tepatnya jam 9 malam di tanggal yang sama, bapak Hue kembali ke penjara Temple. Kembalinya bapak Hue ini mengejutkan sekaligus menambah kegembiraan. Kegembiraan yang terutama buat MA tidak utuh sebab ia mengetahui bahwa Lamballe, Tourzel, Pauline dan Felicity tidak kembali lagi. MA kemudian mengatur ulang posisi tidur. Ia menidurkan Charles dengan dirinya di satu ruangan. Marie Therese dengan bibinya, Elisabeth di ruangan lain. Dua ruangan ini dipisahkan oleh semacam lorong kecil, berseberangan dengan ruangan yang ditinggali dua penjaga. Sementara Louis dengan bapak Hue di lantai bawah. 
Setiap pagi, keluarga kerajaan di atas ini turun ke bawah untuk sarapan bersama Louis. Kemudian semuanya naik ke atas untuk melewatkan waktu bersama di ruangan MA. 
Kemudian sebelum makan malam, mereka ke taman untuk menghirup udara segar dan berjalan terutama demi kesehatan Marie Therese dan sang adik, Charles. 

Penjaga Penjara Banyak Yang Kasar dan Beringas
Pintu masuk penjara dijaga oleh seorang penjaga bernama Rocher. Tubuhnya tinggi besar dan perokok. Gigi depannya hanya tinggal dua, yaitu atas dan bawah. Kepalanya selalu mengenakan topi bulu beruang yang nampaknya tak pernah dicuci sehingga berbau sangat menyengat. Pinggangnya mengenakan sabuk yang tergantung kunci-kunci besar, dan juga sebuah pedang. Rocher kerap membuat suara ribut dari kunci-kunci tersebut. Ia kerap mengajak penjaga-penjaga lain berkumpul untuk mabuk dan bernyanyi dengan suara keras sehingga terdengar oleh tawanan bekas kerajaan ini. Saat MA keluar ke taman, Rocher sengaja berdiri di pintu. Saat MA harus keluar dengan susah payah, Rocher mengebulkan asap pipanya ke wajah MA. "Inilah dia Marie Antoinette yang terkenal. Angkuh seperti biasa" Karena pintu keluar yang agak pendek, MA harus sedikit menundukkan kepala. Rocher berucap "ohh lihat, dia membungkuk ke aku. Gak, gak usah membungkuk. Ya udahlah kalau kamu bersikeras". Para penjaga lain pun tertawa. Rocher juga mengebulkan asap pipa ke Louis dan Elisabeth. MA, Louis dan Elisabet ditemani beberapa petugas yang dikirim harian, berjalan  bersama di sekitaran pohon kastanye. Setelah sejam, kadang dua jam, mereka kembali masuk. 

Kerajaan Prussia Menguasai Kota Verdun
1 September 1792, kerajaan Prussia menyerang Perancis dan berhasil menguasai Verdun.  Seorang wanita membentangkan tulisan "Verdun sudah ditawan" menghadap ke jendela. Elisabeth melihat sekilas dan berusaha menyembunyikan perasaannya. Untung tak ada penjaga penjara yang melihat. Bisa berbahaya bagi wanita pemberani tersebut. Terdengar kabar bahwa tentara Prussia tidak lama lagi akan masuk ke Paris. Paris dalam kondisi gawat. Majelis Nasional mengirim Clery ke penjara untuk melayani Louis. Bapak Clery juga asisten Louis, namun ia tak ikut saat kepindahan dari istana Tuileries ke penjara Temple. 
Keesokan hari pada 2 September 1792, datanglah seorang petugas bernama Mathieu. Mirip dengan Rocher, Mathieu berperangai kasar datang ke penjara dalam kondisi marah. Penjaga penjara tampaknya mengenal Mathieu. Ia langsung ke ruang Louis dan mencengkeram kerah baju bapak Hue "kamu ditahan!" Bapak Hue mengatakan dia akan mengambil pakaian dulu, namun dilarang. Mathieu membentak Louis "kamu tahu gak apa yang sedang terjadi? Tentara musuh sudah mencapai Verdun dan sekarang sedang menuju ke Chalons. Kamu yang akan bertanggung jawab seandainya terjadi sesuatu!" Mathieu melanjutkan "Ingat, kita juga bersiap. Drum sudah ditabuh untuk bersiaga, meriam peringatan sudah ditembakkan. Kalau pendukung kerajaan datang ke sini, istri dan anak-anak kita akan dibantai. Kamu yang pertama kali akan dibunuh!".
Charles berlari ke ruangan sebelah sambil menangis. Marie Therese menyusul untuk menghibur. Namun kesulitan, sebab Charles merasa bahwa ayahnya sebentar lagi akan benar-benar dibunuh. Petugas lain bernama Daujon mulai terusik, ia meminta Mathieu untuk segera membawa pergi bapak Hue. Sebelum pergi, lagi-lagi Mathieu mengancam. Kali ini ke bapak Clery "kamu harus hati-hati dalam kelakuan, atau nasibmu juga akan sama"

Kesetiaan Bapak Hue Berarti Bagi Keluarga Kerajaan
Sebelum pergi, MA mendekat dan memeluk bapak Hue "Mereka berusaha memisahkan orang-orang yang perhatian ke kita. Kita akan merindukanmu. Kita takkan bisa cukup berterima kasih atas semua pengorbananmu, dan juga kebaikanmu ke kita semua"
MA memang sayang kepada bapak Hue. Nama lengkapnya adalah Francois Baron Hue, kelahiran 18 November1757. Saat makan, MA kerap menyisihkan potongan daging untuk kemudian diberikan ke bapak Hue. MA juga kerap menanyakan pendapat bapak Hue tentang minyak wangi yang ia baru beli. 
Bapak Hue segera dibawa ke balai kota. Ada yang berteriak "Kirim dia ke penjara Abbaye". Yang Lain berteriak "ke La Force". Yang lain lagi "penggal kepalanya!" Seorang penjaga tiba-tiba berdiri dan memberi saran "Pria ini memegang kunci penting semua rencana yang dicetuskan di dalam penjara Temple. Akan lebih bermanfaat dan masuk akal kalau dia ditahan sehingga kita bisa menggali informasi lebih". Petugas ini berjasa menyelamatkan nyawa bapak Hue yang sudah di ujung tanduk. Bapak Hue pun ditahan di penjara bawah tanah, persis di bawah Balai Kota Paris. Bapak Hue ditakdirkan hidup lumayan panjang. Setelah dibebaskan dari penjara, Hue menyewa sebuah apartemen di dekat penjara Temple. Dari kamar apartemennya, Hue bisa memantau Marie Therese saat ia duduk di bawah pohon kastanye, di halaman depan penjara Temple. Pada Desember 1795, Hue dipilih Marie Therese untuk menemani dirinya saat dibebaskan dari penjara Temple menuju ke Vienna, Austria. Bapak Hue menulis sebuah buku, mengisahkan hidupnya bersama keluarga kerajaan. Hue wafat pada tahun 1819, di usia 61 tahun. 

Suami Marie Antoinette Dijatuhi Hukuman Mati
 Pada Januari 1793, suami Marie Antoinette menjalani persidangan. Ia dituduh berbagai macam, termasuk pertumpahan darah masyarakat Perancis. Setelah melakukan vote, sebagian lebih menginginkan raja Louis XVI dijatuhi hukuman mati. Pada malam sebelum eksekusi, Marie Antoinette, Putri Elisabeth dan anak-anak dibawa turun ke ruangan Louis XVI. Suami Marie Antoinette berjanji akan menemui mereka lagi pada pagi hari jam 8, namun Marie Antoinette meminta jam 7 pagi dan disetujui. Namun esok harinya, Louis XVI tidak menemui mereka karena Louis tidak ingin menambah beban perasaan. Sepeninggal Louis XVI, Marie Antoinette enggan membawa kedua anaknya untuk turun ke taman. Hal ini disebabkan ia harus melewati pintu kamar mendiang sang suami, dan ia tak dapat menahan perasaannya. Seorang petugas menyarankan Marie Antoinette membawa anak-anak ke taman di atas penjara. Setidaknya anak-anak membutuhkan udara segar demi kesehatan. Saat yang bersamaan, kaki Marie Therese mengalami infeksi. Marie Antoinette minta dipertemukan Clery, asisten pribadi Louis yang menemani hingga sebelum Louis dibawa pergi dari penjara Temple namun petugas mengatakan kondisi Clery buruk. Para petugas di penjara Temple dilarang mempertemukan Marie Antoinette dengan Clery. Clery tetap berada di ruangan mendiang majikannya. Secara psikis, ia sangat terpukul. Saat dikunjungi dan diajak duduk di meja makan, Clery nampak enggan makan. Kemudian datanglah dua petugas yang menyaksikan eksekusi Louis, dengan santai bercerita bagaimana ia mempercepat eksekusi. Clery semakin terlihat depresi. Ia kemudian diajak kembali ke ruangan, dan beberapa kali hampir pingsan. Di sela-sela itu, Clery berkisah kalau saja sang majikan mau kabur, dengan mudah bisa dilakukan. Sebab jendela ruangan Louis hanya sejengkal dari dasar. Namun Louis tak ingin lolos meninggalkan keluarganya tertahan di penjara Temple. 

Pagi Terakhir Bersama Sang Anak Sulung dan Adik Ipar
Sekitar jam 2 pagi, beberapa petugas masuk. Mereka membacakan perintah pemindahan Marie Antoinette. MA tidak mengucapkan sepatah kata atau emosi sedikitpun. Putri Elisabeth dan Marie Therese memohon untuk diikutsertakan, namun tentu keinginan ini ditolak mentah-mentah. Mereka memeriksa barang-barang yang akan dibawa, dan menemukan paket kecil berisi rambut Louis XVI dan anak-anak, juga secarik kertas matematika yang ia ajarkan ke Louis Charles, sebuah buku yang mencatat alamat dokter anak-anak, miniatur sahabat dekatnya nyonya Lamballe, dua teman masa remaja yaitu putri Hesse dan Mecklenburg serta dua buku doa. Namun petugas membiarkan MA membawa saputangan dan botol parfum. Elisabeth membisikkan sesuatu di telinga MA, namun tidak terdengar. Setelah mengucap perpisahan pada Marie Therese dan memohon memperlakukan Elisabeth seperti ibu kedua, MA pun beranjak pergi tanpa menoleh lagi. Di pintu depan, kepala MA membentur pintu, karena tak menyadari bahwa pintu itu rendah. Seorang petugas bertanya apakah ia merasa sakit, "tidak, tidak ada yang bisa menyakiti diriku lagi" Dalam perjalanan dari penjara Temple menuju ke Conciergerie, MA ditemani oleh kepala penjara Michonis dan beberapa pengawal. 
 
Bersambung ke bagian 2




Wednesday, February 9, 2022

Kisah Hidup Marie Therese Charlotte Bourbon, Putri Kerajaan Perancis Yang Menjadi Sebatang Kara, Bagian 1

 Selama delapan tahun, Kelahiran dia sejatinya dinantikan oleh masyarakat Perancis pada umumnya dan keluarga kerajaan pada khususnya. Kedua orang tuanya adalah sosok terkenal, yaitu raja Louis XVI dan Marie Antoinette. Ibunya yaitu Marie Antoinette berasal dari kerajaan Austria. Kedua orang tua Marie menikah di usia yang masih sangat belia, yang mana ayahnya saat itu masih berstatus Dauphin/pangeran dan berusia 15 tahun. Sementara ibunya masih berusia 14 tahun. Pada tahun 1774, ayah ibunya meneruskan tahta menjadi raja dan ratu. Ayahnya mengatakan "kita masih sangat muda, ini berat Tuhan"

Saat ia lahir pada 19 Desember 1778, kelahiran dia yang dinanti agak mengecewakan sebab ia seorang perempuan. Masyarakat meminta seorang laki-laki untuk menjadi penerus tahta. Ibunya mengatakan "tak apa mereka tak menginginkan kamu, kamu menjadi milikku". Tak lama setelah kelahiran Marie Therese, ayahnya menghadiahkan sebuah rumah "petit trianon" kepada sang ibu. Ayahnya memahami kondisi sang ibu yang tidak menyukai rutinitas kerajaan yang sangat kaku melelahkan. Rumah itu adalah bekas rumah yang dibangun sang kakek buyut, yaitu raja Louis XV untuk salah satu selirnya yang bernama Nyonya Pompador. Bahkan ayahnya membebaskan ibunya mendesain ulang rumah tersebut sesuai selera. Sang ibu melakukan renovasi yang konon menghabiskan dana sangat banyak, hal yang ironis di saat harga roti sedang tinggi. Ia membuat sungai tiruan, taman dan peternakan di sekitar rumah itu. 

Empat tahun kemudian tepatnya pada 1781, Marie mendapatkan adik laki-laki yang sangat dinanti, yaitu Louis Joseph. Pada 1785, Marie kembali mendapatkan adik laki-laki, Louis Charles. Posisi kedua orang tua Marie terasa aman sebab mereka memiliki dua anak laki-laki. Pada 1789, Marie dikaruniai seorang adik perempuan bernama Sophie. Namun Sophie hanya bertahan hidup selama setahun. 

Ibunda Marie dikenal sebagai sosok yang ramah namun suka berhura-hura. Meskipun saat itu kondisi ekonomi Perancis tidak baik, namun ibunda Marie tetap gemar berjudi, membeli pakaian yang mewah, berpesta dan memesan makanan-makanan mahal. Konon dalam setahun, ibunya belanja 150 pakaian mewah. Sang ibu juga memiliki seorang asisten rambut bernama Leonard. Rambut sang ibu kerap didesain setinggi 90 cm. Masyarakat mulai memberi julukan sang ibu "Madame Deficit". Ia dianggap sebagai sosok yang membuat masyarakat Perancis kekurangan pangan dan ekonomi yang buruk. Roti sebagai makanan pokok masyarakat hampir tidak layak dikonsumsi karena bertekstur sangat keras seperti batu. 

Pada 4 Juni 1789, adik sulung laki-laki Marie wafat akibat tuberkulosis tulang. Pada 5 Oktober 1789, ratusan wanita bersama para pria berjalan kaki dari Paris ke istana Versailles. Di pintu gerbang, empat orang wanita dipersilahkan masuk untuk menyampaikan keinginannya di hadapan ayah Marie Therese. Permintaan roti dikabulkan namun wanita-wanita lain dan pria-pria  di depan istana tak merasa puas. Mereka sengaja bertahan semalaman di depan istana. Subuh hari, beberapa wanita menggoda petugas jaga, sehingga membuat rombongan lain berhasil merangsek ke dalam. Beberapa langsung menuju ke apartemen ibu Marie Therese. Dua bodyguard yang menjaga kamar sang ibunda tewas dan kepala mereka dipenggal kemudian ditancapkan di atas tombak.  Namun sesaat sebelum itu, salah satu bodyguard sigap memberitahu tiga asisten sang ibunda untuk segera kabur dari kamar. Mereka kabur melalui pintu rahasia, menuju ke kamar ayah Marie Terese. Kemudian rombongan wanita dan pria ini berkumpul di bawah balkon. Di depan mereka, ibunda Marie memberi hormat tanda minta maaf. Mereka menuntut agar keluarga Marie Bourbon segera ke Paris. Pemerintah menempatkan Marie dan keluarga sebagai tahanan rumah di istana Tuileries. Beberapa pegawai dan sahabat baik sang ibunda yaitu nyonya Lamballe setia mengikuti. 

Pada Juni 1791, ayah, ibu, bibinya yang bernama Elisabeth, Louis Charles dan pengasuhnya yaitu Nyonya Tourzel melarikan diri. Sejatinya mereka hendak menuju ke Montmeidy. Di kota itu banyak royalis, pendukung kerajaan. Jika telah sampai, ayah Marie berencana mengadakan kontra revolusi. Pelarian itu dibantu oleh rekan baik sang ibu yang bernama Axel Von Fersen. Pria kelahiran Swedia yang tampan itu merupakan pria idaman lain sang ibunda. Di tengah perjalanan, ayah Marie Therese meminta Axel untuk pergi meninggalkan mereka. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 24 jam, perjalanan mereka gagal sebab salah satu mengenali wajah ayahnya sebagai seorang raja dari sebuah uang koin. Di Varennes, mereka dipaksa kembali. Pelarian ini konon mencoreng reputasi keluarga Marie di mata orang-orang yang masih mendukung kerajaan. 

Pada 10 Agustus 1792, masyarakat Perancis menggeruduk istana Tuileries dan memaksa keluarga Marie ditahan di penjara Temple, Paris. Pada 14 Agustus 1792, Marie sekeluarga tiba di penjara Temple pukul 7 malam. Mereka ditemani oleh beberapa rekan dan pegawai setia. Mereka adalah nyonya Lamballe, bapak Hue dan Chamilly, nyonya Tourzel dan putrinya Pauline, nyonya Navarre yang menjaga putri Elisabeth, nyonya Cimbris yang menjaga Louis Charles, juga nyonya Thibaut yang menjaga sang ibu. Selama ditahan, ayah Marie mengajarkan pelajaran geografi kepada adik Marie. Ibunda Marie mengajarkan sejarah. Sementara bibi Elisabeth mengajarkan matematika. Beruntung ayah Marie menemukan sebuah perpustakaan yang membuatnya tak merasa bosan berada di tahanan. Ibunda Marie menyibukkan diri dengan menyulam dan juga bermain piano. Tukang masak Turgy mengajak kedua rekan kerjanya yaitu Chretien dan Marchand untuk mengikuti dirinya masuk ke penjara Temple. Tentu mereka harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan penjaga yang curiga dengan ketiganya. Turgy yang dikenal setia, cerdas dan menghibur, menjawab dengan berbohong bahwa ia dan kedua rekannya ditugaskan ke Temple untuk melayani keluarga kerajaan. Hebatnya Turgy, penjaga pun percaya. Marchand dan Chretien sangat ketakutan, namun Turgy nampak biasa saja. Saat bertemu, Marie Antoinette sangat terharu "pak, kamu seharusnya tidak usah datang ke sini, terlalu berbahaya". Turgy menjawab "Kenapa saya tidak usah datang, Yang Mulia?" Marie Antoinette lekas menegur "sstt, jangan pakai panggilan itu, dilarang". Sejak keluarga Marie Therese ditahan, panggilan-panggilan harus diawali dengan "BEKAS" contohnya "BEKAS RATU...BEKAS RAJA".

Sebanyak dua atau tiga kali seminggu, Turgy keluar dari penjara Temple untuk membeli kebutuhan dapur. Di kesempatan itulah, Turgy bisa membawa pesan rahasia dari kedua orang tua Marie Therese ke berbagai orang yang dituju termasuk jenderal Francois Augustin Regnier de Jarjaye. Jenderal Jarjaye merupakan bekas pegawai istana yang masih tinggal di Paris. Sang jenderal membalas pesan dengan cara yang sama. Memilih Turgy sebagai perantara memang cocok, karena saat keluar dan masuk penjara Temple, Turgy tidak pernah diperiksa atau digeledah. Para penjaga penjara Temple menyukai Turgy. Salah satu alasannya adalah, Turgy kerap memberi mereka makanan saat mereka datang ke dapur dalam kondisi lapar. Kita tahu bahwa saat itu, harga makanan pokok berupa roti melambung sangat tinggi. Banyak masyarakat kalangan bawah yang kelaparan. Hal ini juga tentu berimbas pada para penjaga yang juga dari kalangan bawah. Namun mereka bisa mendapatkan roti, keju, kadang potongan ayam dan ham berkat Turgy, tentu membuat mereka senang. Alasan lain adalah, Turgy suka lelucon.

Pada 20 Agustus 1792 jam 1 pagi, diperintah bahwa semua orang yang bukan anggota kerajaan harus segera meninggalkan Temple. Hal ini memicu protes dari ibunda Marie. Ibunda Marie bersikeras bahwa Nyonya Lamballe merupakan anggota kerajaan. Nyonya Lamballe sejatinya memiliki hubungan keluarga dengan kerajaan. Ia pernah menikah dengan salah satu pangeran/dauphin (cucu raja Louis XIV) namun sang pangeran wafat di usia muda. Namun tetap saja Nyonya Lamballe harus pergi. Mereka semua saling berangkulan, berharap akan berjumpa lagi beberapa hari kemudian. Kedua asisten sang ayah juga dibawa pergi. Setelah mereka pergi, Marie, ibu, bibi dan adiknya tidak dapat kembali tidur. Ia yakin ayahnya juga terbangun namun sang ayah tidak beranjak dari ruangan. Selang beberapa jam kemudian, Hue kembali. Ia dinyatakan tak bersalah dan boleh kembali ke penjara Temple.

Keesokan hari jam 7 pagi, mereka mengetahui bahwa yang lain tidak akan kembali lagi ke Temple dan mereka telah dibawa ke La Force. Nyonya Tourzel dan putrinya, Pauline kemudian dipindah ke penjara Port Royal. Kemudian pada 2 September 1792, pegawai ayah Marie Therese yang bernama Clery dikirim ke penjara Temple. Tentu ini mengejutkan namun juga sedikit membuat gembira. Memang awalnya Clery tidak ikut dalam rombongan pegawai saat pertama kali keluarga kerajaan pindah dari istana Tuilleries ke penjara Temple.

Ternyata pengiriman Clery ini ada maksud. Tak lama setelah kehadiran Clery , seorang utusan bernama Mathieu datang ke penjara Temple dan langsung mencengkeram kerah bapak Hue "kamu ditahan!". Hue hendak ke ruangannya untuk mengambil barang-barangnya, namun dilarang oleh Mathieu. Kemudian Mathieu menunjuk-nunjuk ayah Marie Therese "kamu tidak tahu apa yang terjadi kan? Negara ini dalam kondisi bahaya. Tentara musuh sudah mencapai Verdun. Raja Prussia kini menguasai Chalons. Tetapi, kamu akan bertanggung jawab seandainya terjadi sesuatu! Kalau pendukung kerajaan ke sini, kita tahu bahwa istri dan anak-anak kita akan dibantai. Tetapi rakyat akan membalas. Kamu yang akan mati duluan !" Adik Marie Therese berlari ke ruangan sebelah sambil menangis. Marie Therese menyusul dan terdengar menghibur sang adik. Namun upayanya saat itu sia-sia karena sang adik yakin bahwa ayahnya sebentar lagi akan dibunuh. Petugas lain bernama Daujon meminta Mathieu untuk segera membawa Hue pergi. Ibunda Marie Therese menyempatkan diri memeluk bapak Hue sambil berbisik "Mereka berusaha memisahkan kita dari siapapun yang peduli pada kita. Kita akan merindukanmu. Kita takkan pernah bisa cukup berterima kasih atas semua pengorbananmu dan kebaikanmu"

Ibunda Marie Therese memang dekat dengan bapak Hue. Saat di istana Versailles, mereka kerap berinteraksi santai. Kadang sang ibunda mengoleskan minyak wangi ke pergelangan tangan dan meminta pendapat ke bapak Hue "aromanya wangi kan?". Saat makan, ibunda Marie Therese kerap menyisakan potongan daging untuk bapak Hue "saya yakin bapak Hue menyukai ini"

Sebelum membawa pergi, Mathieu berkata kepada Clery "Kamu harus hati-hati, jaga sikapmu, atau kamu akan bernasib sama!" Dari semua pegawai yang ada, tinggal Clery seorang diri. 

Ibunda Marie tidur bersama adik Marie. Sementara Marie tidur bersama bibi Elisabeth. Sang ayah tetap berada satu lantai di atas ruangan Marie Therese. Setiap pagi, Marie dan adiknya naik ke ruangan ayah mereka untuk sarapan. Setelah itu ketiganya turun ke ruangan sang ibu untuk menghabiskan waktu bersama. Setiap pagi, Marie juga berjalan-jalan di kebun bersama sang adik dan ayahnya demi kesehatan sang adik. Tentu mereka tidak mengetahui bahwa penjara La Force menjadi target serangan warga yang tidak menginginkan penjara di isi oleh para bangsawan. Pengasuh Marie Therese yaitu nyonya Tourzel dan anaknya diselamatkan oleh seorang pria misterius. Pria misterius yang mengaku sebagai Bapak Hardi ini meminta Tourzel dan Pauline melarikan diri dari Paris sebab sewaktu-waktu mereka bisa ditahan lagi. Tourzel dan Pauline kemudian pergi ke Aboundant, tinggal di rumah anak lelakinya, yang juga saudara laki Pauline. Sementara nyonya Lamballe tidak beruntung. Ia diseret keluar, dipaksa untuk mengucapkan kalimat yang menentang keluarga kerajaan, namun ia menolak. Ada pria suruhan ayah mertua Lamballe, membujuk Lamballe untuk mengatakan saja agar ia dapat selamat. Namun Lamballe tetap menolak. Dahi Lamballe ditombak, lalu dadanya dibelah untuk diambil jantungnya. Kepalanya dipenggal. 

Pada 3 September 1792 jam 3 sore, Marie sekeluarga mendengar suara rentetan tembakan di luar. Petugas penjara menutup pintu dan jendela berikut korden. Ayah Marie diberitahu bahwa mereka yang di luar ingin mempertontonkan potongan kepala Nyonya Lamballe kepada keluarga kerajaan. Meski tidak melihat sendiri, ibunda Marie sangat shock. 

Pada 21 September 1792, kerajaan diruntuhkan. Semenjak ayah Marie bukan seorang raja, ia tidak lagi dihormati. Ayah Marie hanya dipanggil nama Louis atau Bapak. Pemerintah bernama Pethion mengirim dua petugas untuk berjaga di ruangan ayah Marie. Mereka menyita pedang milik ayah Marie dan juga memeriksa isi kantong pakaian sang ayah. Pethion juga mengirim juru kunci penjara bernama Rocher. Rocher ini seorang perokok namun ayah Marie tak menyukai baunya. Mengetahui hal itu, Rocher justru sengaja meniupkan asap rokok ke wajah ayah Marie. 

Berikutnya mereka hendak memisahkan ibunda Marie dengan cara memindahkan ke ruangan di atas ruangan ayah Marie. Namun mereka tidak berhasil sebab Marie Therese dan bibi Elisabeth mengikuti. Ruangan baru itu kurang menyenangkan sebab jendela ditutup oleh tiang besi dan tirai. Asap dari cerobong juga sangat mengganggu. Adik Marie dipindah ke ruangan sang ayah yang berada di bawah ruangan baru mereka. 

Ayah Marie selalu bangun tidur pukul 7 pagi dan kemudian berdoa hingga pukul 8 pagi. Kemudian ayah Marie berganti pakaian dan kemudian mengganti pakaian adik Marie. Pukul 9 pagi, ayah dan adik Marie naik ke ruangan di atas untuk sarapan bersama. Setelah itu ayah Marie mengajak adik Marie turun lagi untuk belajar hingga pukul 11 siang. Setelah itu adik Marie bermain-main. Pukul 9 malam, ibunda Marie turun ke ruangan ayah Marie untuk mengganti pakaian adik Marie persiapan tidur. Setelah tidur, semuanya naik ke atas, ayah Marie duduk hingga pukul 11 malam.

Bibi Elisabeth menghabiskan waktu berdoa, membaca buku agama dan meditasi. Sang bibi dan ayah Marie juga menjalani puasa yang diwajibkan oleh gereja Katolik. 

Ayah Marie diharuskan menjalani persidangan yang sebenarnya tak berguna sebab akhirnya juga harus dihukum mati. Dari total 690 voting, 380 memvoting eksekusi segera. Sisanya meminta pengampunan untuk Louis XVI. Pada 20 Januari 1793 malam, ayah Marie melakukan pertemuan keluarga. Ia menasihati adik Marie untuk memaafkan mereka yang telah menjatuhi hukuman mati kepadanya. Ia kemudian memberkati Marie dan sang adik. Ibunda Marie mengatakan bahwa sebaiknya mereka menghabiskan waktu terakhir bersama. Namun ayah Marie menolak, ia ingin menghabiskan waktu dengan tenang. Ibunda Marie kemudian meminta agar esok hari bertemu lagi dan disetujui. Namun pada faktanya, esok hari ayah Marie meminta petugas penjara untuk melarang mereka turun ke ruangan. Ayah Marie tak ingin larut dalam perasaan sedih.'

Kemudian datang seorang pria sepuh bernama Malesherbes, yang datang menangis sambil memeluk kaki Louis XVI. Ia diajak berbincang berdua oleh ayah Marie Therese dan kemudian tidur di kamar Clery. Malam hari terakhir, ayah Marie masih bersantap malam seperti biasa. Hal ini mengagetkan petugas sebab mereka mengira ayah Marie bakal bunuh diri. Ayah Marie mengatakan "saya tidak selemah itu" Setelah santap malam, ia pun pergi tidur. Lagi-lagi mengesankan, sebab ayah Marie Therese tidur sangat pulas hingga mengorok keras dan terbangun jam 4 pagi oleh suara tabuhan drum.

Malesherbes, pria sepuh berusia 71 tahun ini adalah salah satu dari tiga pria yang membela Louis XVI di hadapan Majelis Rakyat Perancis. Ketika voting untuk mengeksekusi Louis XVI lebih banyak daripada yang menolak, adalah Malesherbes sangat kecewa. Kelak pada April 1794, Malesherbes bersama putrinya, menantu laki-laki, cucu dan cucu menantu ditangkap dengan tuduhan membantu para pelarian politik. Setelah ditahan, mereka akan dihukum penggal. Sebulan kemudian, tepatnya pada 10 Mei 1794, giliran adik perempuan Malesherbes, Nyonya Senozan, bersama adik perempuan Louis XVI, putri Elisabeth, yang menjalani hukuman mati. 

Clery, sang asisten setia menjadi saksi di jam-jam terakhir hidup Louis XVI. Sementara Turgy menjadi saksi bagaimana sang istri, Marie Antoinette, putri Elisabeth, Marie Therese dan Louis Charles menghadapi situasi ini. Marie Antoinette meminta kedua anaknya untuk sarapan, namun mereka menolak. 

 Ayah Marie dibawa ke tempat eksekusi menggunakan kereta kuda dan diiringi oleh pasukan penabuh drum. Ayah Marie tampak tenang dan tegar. Di atas panggung eksekusi, ayah Marie sempat berpidato singkat namun kurang terdengar. Hanya orang-orang yang didekatnya mendengar. Ayah Marie mengatakan "saya memaafkan mereka yang menjatuhi hukuman mati. Saya bersih dari kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepada saya. Saya berdoa agar darah saya tidak jatuh ke Perancis lagi". Konon ayah Marie hendak mengatakan sesuatu lagi, namun drum segera diperintahkan untuk ditabuh. Raja Louis XVI dieksekusi pada pukul 10.10 pagi. Beberapa penonton mengusap saputangan mereka ke darah ayah Marie. Pada 2012, tes DNA membuktikan bahwa itu benar darah ayah Marie. Adik Marie menjadi raja Louis XVII. Jasad ayah Marie segera dibawa ke pekuburan Madeleine. Sebelum dimakamkan, jasad ayah Marie didoakan secara singkat di gereja dekat pekuburan. Kepala ayah Marie diletakkan di antara kaki dan dimakamkan tanpa nisan.

Di penjara, putri Elisabeth mendengar suara meriam pertanda bahwa Louis XVI sudah wafat, ia segera menengadah ke atas sambil menangis "monster monster, mereka kini senang". Ibunda Marie terdiam dalam kesedihan. Louis Charles menangis. Sementara Marie Therese berteriak sedih. Sebulan sepeninggal ayah Marie, Clery masih berada di temple, namun ia tak dapat berkomunikasi dengan keluarga. Setelah ia dibebaskan, ia bertemu Turgy dan memberikan sebuah catatan yang ditulis oleh raja Louis XVI berisikan "aku memberi wewenang kamu (Clery) untuk memberitahu Turgy betapa senangnya diriku dengan kesetiaannya dan dedikasinya. Aku memberinya restu dan memohon dia untuk melanjutkan perhatiannya untuk keluargaku"

 Saat paman Marie bertahta sebagai raja Louis XVIII pada tahun 1815, ia memerintahkan agar jasad sang kakak dan kakak ipar digali untuk dipindah ke gereja Basilica St Denis. Jasad putri Elisabeth juga dicari, namun hasilnya nihil. Tahun 1816 hingga 1826, dibangun monumen untuk Louis XVI dan juga Marie Antoinette. Monumen ini menggambarkan keduanya sedang berdoa.

Sehari setelah wafatnya ayah Marie, ibu Marie meminta bertemu dengan Clery. Ia adalah orang yang terakhir menemani ayah Marie, berharap mungkin ada pesan yang disampaikan sebelum eksekusi. Namun petugas mengatakan kondisi Clery sangat buruk sehingga tidak memungkinkan bertemu. Konsel Umum melarang ibu Marie bertemu Clery namun mengijinkan ibu Marie mengenakan pakaian berkabung. Clery konon menyimpan cincin pernikahan untuk disimpan ibu Marie. Ayah Marie juga memberikan sebuah paket berisi seikat rambut ibu Marie dan berpesan ia sangat menyayangi rambut itu.

Bagaimana perasaan Clery sepeninggal sang majikan? Saat dikunjungi, ia tampak depresi dan enggan makan. Bahkan beberapa kali hampir pingsan. Dalam wasiatnya, ayah Marie memberikan pakaian, jam tangan, buku-buku, dompet dan barang-barang kecil lain yang masih disimpan di Dewan Pimpinan Rakyat kepada Clery.

Sepeninggal ayah Marie, ibunda Marie tak lagi mau turun ke taman. Hal itu disebabkan ia harus melewati ruangan bekas ayah Marie dan ia tak bisa menahan perasaannya. Namun ibu Marie mengkhawatirkan kondisi adik Marie yang membutuhkan udara segar. Sehingga pada akhir Februari 1793, ibu Marie meminta ijin untuk naik ke atas untuk menghirup udara segar. Pada 25 Maret 1793 malam, cerobong asap mengalami kebakaran. Saat dijenguk oleh petugas bernama Chaumet, ibu Marie ditanya memiliki keinginan apa. Ibu Marie ingin dibuatkan pintu tambahan antara ruangannya dengan bibi Elisabeth (adik ipar) sehingga ada tambahan udara. Keinginan ini ditanggapi dengan omelan oleh petugas lain. Chaumet mengatakan kesehatan memang penting, ia akan menyampaikan ke petinggi lain. Namun keinginan ini ditolak. 

Meskipun banyak petugas bersikap kasar, namun Marie mengatakan ada beberapa yang sangat baik terhadap mereka. Namun Marie tidak menyebutkan siapa saja demi keselamatan mereka. Suatu hari saat pemeriksaan, mereka menemukan sebuah topi yang disimpan bibi Elisabeth. Bibi Elisabeth mengatakan bahwa topi itu diberi kakaknya (ayah Marie) saat mereka baru tiba di Temple. Mereka menyita topi itu sebagai barang yang patut dicurigai. 

Di lain hari pada hari Kamis, adik Marie terserang demam dan mengeluh pusing. Ibu Marie meminta petugas mengirim dokter namun ditolak. Mereka mengatakan bahwa ibu Marie berlebihan, itu hanyalah perasaan cemas seorang ibu. Namun demam adik Marie berkelanjutan hingga esok hari. Setiap menjelang malam, demam sang adik semakin tinggi. Bibi Elisabeth meminta Marie untuk tidur di ruangannya agar Marie tidak tertular sakit. Baru pada hari Minggu, dokter penjara bernama Thierry datang untuk mengecek kondisi adik Marie. Ia pun diberikan obat. Pada Mei 1793, Chaumet datang lagi bersama rekan Hebert. Ia menanyakan ada keluhan apa dari ibu Marie. Ibu Marie mengeluhkan susahnya mendapat dokter untuk adik Marie. 

Pada 3 Juli 1793 sekitar pukul 10 malam, para penjaga datang hendak memindahkan paksa adik Marie. Sang adik sedang tertidur. Namun seorang petugas tampaknya bersandar pada sebuah selendang yang digunakan sebagai tirai ranjang. Tirai itu terjatuh ke arah sang adik hingga terbangun. Adik Marie langsung memeluk ibu Marie sambil menangis memohon agar tidak dipindah. Selama satu jam, keduanya beradu argumentasi. Seorang petugas mengatakan "untuk apa ribut, toh anak ini tidak akan dibunuh". Petugas beberapa kali mengancam akan menggunakan kekerasan. Pada akhirnya ibunda Marie menyerah, Ia mengganti pakaian adik Marie sambil menangis dan menyerahkan kepada petugas. Namun sang adik kembali berbalik. Petugas mulai kehilangan kesabaran "Berhenti menceramahi anak ini!". Sebelum pergi, adik Marie mencium sang ibu, kakak dan bibi Elisabeth. Ibu Marie kemudian memohon agar bisa dipertemukan dengan adik Marie hanya di setiap jam makan. Keinginan ini tidak dikabulkan. Belakangan diketahui bahwa adik Marie dirawat oleh Simon, tukang sepatu yang berpendidikan rendah dan berperangai kasar.

 Pada 2 Agustus 1793 pukul 2 pagi, ibunda Marie dibangunkan paksa. Ia akan dipindah ke Conciergerie untuk disidang. Marie dan bibi Elisabeth memohon untuk menemani namun tidak diperbolehkan. Ibu Marie berganti pakaian di hadapan petugas. Sebelum pergi, ia menciumi Marie, meminta untuk menjaga kesehatan dan memperlakukan bibi Elisabeth sebagai ibu sambung. Anjing kecil jenis spaniel bernama Thisbie berusaha mengikuti ibunda Marie namun dilarang petugas untuk ikut ke kereta. Thisbie berlari mengikuti kereta tersebut. Setiba di Conciergerie, Thisbie berusaha menyusup di antara kaki ibu Marie namun ditendang keluar oleh petugas. Sejak itu, setiap hari Thisbie menunggu di tempat yang sama sambil meraung. Penjaga yang merasa terganggu oleh si anjing, berusaha menakuti dengan menodongkan pucuk bayonet. Thisbie tidak pernah meninggalkan tempat itu kecuali saat lapar. Thisbie pergi dari rumah ke rumah di sekitar untuk mendapatkan sisa makanan. Di hari pertama setiba di Conciergerie, ibu Marie ditempatkan sementara di ruangan milik pemimpin penjara bernama Richard. Setelah itu, ibu Marie ditempatkan di ruangan yang sangat lembab sebab di dekat situ ada aliran sungai. Petugas selalu mengawasi ibu Marie di ruangan itu. Marie dan bibi Elisabeth memohon agar ibu Marie dibawakan air minum dari Viledavre sebab ibu Marie tidak dapat meminum air dari sungai, yang dapat membuatnya sakit. Sebagian petugas setuju, yang lain keberatan.

Tentang adik Marie, setiap hari ia mendengar Simon dan adiknya bernyanyi dengan jendela terbuka sehingga petugas bisa mendengar. Simon memakaikan topi merah di kepala sang adik. Sebelum sang adik dipindah, ibu Marie berharap agar baju berkabung sang adik tidak diganti. Namun setelah di tangan Simon, pertama yang dilakukan justru mengganti pakaian berkabung tersebut. Pada akhir Agustus, sang adik jatuh sakit setelah dipaksa makan banyak dan minum anggur.

Marie menghabiskan bulan September 1793 dengan lumayan tenang. Ia masih bisa ke atap setiap hari. Marie mendengar selentingan bahwa sang ibunda hampir lolos dari tahanan. Namun penjaga terakhir yang sudah disuap justru menolak melepaskan ibu Marie. Marie juga mendengar bahwa istri penjaga ruangan ibu Marie (nyonya Richard) sangat baik terhadap ibu Marie. Mengetahui ibu Marie tak bisa minum air dari sungai, Nyonya Richard mengambil resiko membawakan dari mata air lain. Ia juga menyediakan makanan yang layak seperti ayam dan buah-buahan yang diperoleh langsung saat Nyonya dan bapak Richard belanja ke pasar. Pasutri Richard dibantu ole Rosalie Lamorliere. *Silahkan baca di bagian lain tentang Marie Antoinette dan Rosalie Lamorliere*.

Petugas kembali mendatangi ruangan Marie untuk mengambil sisa pakaian ibu Marie tetapi menolak memberitahu kondisinya. Diketahui ternyata Ibu Marie Therese menulis surat untuk dirinya, tidak panjang namun jelas : "Saya hendak memberitahu kamu, anakku, bahwa saya baik, saya tenang, dan saya merasa damai jika anakku yang kasihan ini terbebas dari perasaan gelisah. Saya memelukmu dan juga bibimu. Tolong kirimkan (menyebut beberapa potong pakaian dan asesoris)" Surat ini tidak ditandatangani sang ibunda namun oleh petugas. Tetapi surat ini juga tidak sampai di tangan Marie Therese. 

Tison yang biasa mengerjakan tugas domestik seperti membersihkan lantai dan merapikan tempat tidur, tiba-tiba diberhentikan. Mereka tak ingin tahanan mereka diberikan kenyamanan. Jadi, Marie Therese dan bibi saling membantu mengerjakan. Esok harinya, datang lagi untuk mengumumkan perubahan pada menu makanan, dengan alasan ekonomi. Untuk peralatan makan, tidak diperbolehkan menggunakan keramik dan juga perak. Alas tidur diganti bahan yang lebih rendah kualitas. Sang bibi menderita radang kulit di lengan. Seorang penjaga penjara memberikan obat oles, sementara yang lain tak peduli. Bibi Elisabeth menyuruh Marie untuk membiasakan diri berjalan cepat selama satu jam setelah makan. Memercikkan air ke udara di ruangan agar merasa segar. Merapikan ruangan. Ia juga mengajarkan sang keponakan untuk menata sendiri rambutnya, memakai baju, memasang korset, menambal stoking dan pakaian seorang diri. 

Pada 8 Oktober 1793, Chaumet datang lagi bersama Pachet, David dan selusin petugas. Pachet meminta Marie untuk turun ke bawah. Bibi Elisabeth hendak menemani tentu ditolak. Ia menanyakan apakah Marie akan kembali, Chaumet pun membalas "kamu bisa mempercayai kata-kata republikan" Marie menyerahkan keselamatan dirinya pada Tuhan. Di tengah perjalanan, Marie berpapasan dengan adiknya. Ia pun menciumi Louis namun segera ditarik oleh istri Simon dan meminta Marie masuk ke ruangan sebelah. Di ruangan itu Marie duduk berhadapan dengan Chaumet. Marie ditanya apakah ia mengenal beberapa nama yang disebutkan, Marie menjawab tidak. Setelah menjawab semua pertanyaan dan kembali ke ruangan, giliran bibi Elisabeth yang diberikan pertanyaan yang sama. 

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 11 Oktober 1793, tukang masak yang setia dan cerdas bernama Turgy dipaksa keluar dari penjara Temple. 

Tanggal 16 Oktober 1793, sekitar 4.30 subuh dan setelah melewati persidangan yang hampir 23 jam, ibu Marie didakwa mati. Ibu Marie menghabiskan sisa jam untuk menulis surat kepada bibi Elisabeth. Namun surat ini tidak disampaikan ke bibi Elisabeth namun beruntung sejarah merekam isi surat ini. Berita eksekusi ibu Marie tidak disampaikan kepada bibi Elisabeth dan Marie. 

Bibi Elisabeth mengeluarkan sebuah paket kecil berisi potongan rambut ayah dan ibu Marie Therese, kemudian ditambahkan potongan rambut sang bibi. Suvenir rambut itu diberikan kepada Marie Therese. "Berikan hatimu kepada Tuhan. Tuhan memberi kita ujian karena Tuhan sayang kita" Sejatinya bibi Elisabeth hendak memberikan kenangan berupa tulisan, namun semua peralatan tulis sudah disita dari ruangan. 


Bibi Elisabeth

Pada 9 Mei 1794 pagi, pintu penjara diketuk dengan kasar. Bibi Elisabeth meminta waktu sebentar untuk berpakaian sebelum membuka pintu. Petugas mengatakan "tak ada waktu untuk itu". Pintu seolah mau didobrak saking kasarnya. Beberapa petugas datang hendak membawa sang bibi pergi. "Apakah keponakanku akan tetap di sini?" Dengan kasar dijawab "bukan urusanmu!" Sang bibi mengatakan "Jangan sedih. Aku akan kembali". Petugas penjara menjawab "Tidak. kau tidak akan kembali. Ambil topimu dan turun! ". Bibi Elisabeth memeluk Marie, dan meminta Marie berserah pada Tuhan. Saat di bawah Temple, Marie melihat petugas mengecek bibi Elisabeth lagi dan tidak menemukan apapun di dalam pakaiannya. Dalam ketakutan, Marie Therese melihat kepergian sang bibi sampai tak lagi nampak di pandangannya. Beberapa hari kemudian, Marie Therese meminta petugas penjara membawakan beberapa pakaian untuk sang bibi sebab saat pergi, sang bibi hanya membawa sedikit pakaian. Petugas mengatakan "itu sangat tidak mungkin". 

Bibi Elisabeth sampai di Conciergerie pukul 8 pagi. Ia diharuskan menunggu dua jam di ruang tunggu, bagian dokumentasi. Kemudian sang bibi dibawa ke atas untuk menjalani interogasi. Salah satu pertanyaan adalah mengenai pelarian Elisabeth bersama keluarga Marie Therese pada pertengahan 1791 silam. Mereka menuduh bahwa Elisabeth dan yang lain hendak melarikan diri dari Perancis dan bergabung dengan para pendukung revolusi Perancis di luar negeri dan juga negara musuh Perancis. Hal ini dibantah oleh Elisabeth. Sejatinya kakak Elisabeth, raja Louis XVI hendak ke Montmeidy, salah satu kota di Perancis yang masih memiliki dukungan besar ke kerajaan. Dalam pelarian ini, bukanlah keinginan Elisabeth, namun karena ia menghormati ajakan sang kakak. Setelah persidangan selesai, Elisabeth menandatangani setiap dokumen sebelum kembali ke Conciergerie. 

Di masa Revolusi ini, setiap hari selalu ada tahanan yang masuk ke Conciergerie, tetapi juga ada tahanan yang keluar untuk dieksekusi. Ruang tunggu Conciergerie berada di sebelah kiri pintu masuk utama. Ruang ini dibagi dua bagian. Satu ruang untuk dokumentasi, untuk para tahanan yang baru datang. Satu ruang lagi untuk para tahanan sebelum dibawa pergi untuk dieksekusi. Biasanya para tahanan malang ini menunggu 36 jam di ruang tunggu. 

Agak beruntung bahwa Elisabeth diberikan ruang untuknya seorang diri. Ia menempati area di bawah pengawasan bapak Richard (baca artikel Marie Antoinette dan Rosalie Lamorliere). Bibi Elisabeth menanyakan keberadaan Marie Antoinette pada bapak Richard. Bibi Elisabeth tahu betul bahwa Marie Antoinette dibawa dan ditahan di gedung yang kini ia tempati. Takut menjawab dengan jujur, bapak Richard berbohong "Dia sangat baik, dan tidak butuh apapun". Pagi harinya, Elisabeth menanyakan waktu pada bapak Richard. Bapak Richard menunjukkan jam saku ke arah Elisabeth. "kakak perempuanku juga memiliki jam yang sangat mirip". Diketahui bahwa saat ditahan di Conciergerie, Marie Antoinette menggantung jam saku pemberian ibunya yang ia berhasil bawa hingga ke Perancis saat menikah. Namun petugas diperintahkan untuk mengambil jam tersebut dengan alasan khawatir akan digunakan untuk menyuap penjaga penjara. Marie Antoinette menjelaskan bahwa jam itu bukan dibeli menggunakan uang rakyat Perancis, namun tetap saja diambil paksa. Ia pun menangis getir. Apakah jam yang dipakai bapak Richard milik mendiang sang kakak ipar, tak ada yang tahu.

 Kemudian Elisabeth meminum sedikit coklat panas untuk sarapan sebelum menuju ke pintu utama penjara pada pukul 11. Di sana, sudah menunggu beberapa tahanan wanita. Salah satunya adalah nyonya Senozan, saudari dari Malesherbes. Malesherbes adalah salah satu orang yang membela Louis XVI di hadapan Majelis Rakyat Perancis. Malesherbes telah dipenggal mati sebulan sebelumnya bersama putri, menantu, cucu dan cucu menantu dengan tuduhan membantu para pelarian politik. Adalah Malesherbes salah satu pria yang menghabiskan malam bersama ayah Marie Therese bersama Clery, pegawai setia sang ayah di malam terakhir sang ayah. 

Sambil menunggu, Elisabeth meninggalkan pesan kepada bapak Richard untuk disampaikan kepada Marie Antoinette. Seorang tahanan yang akan menjalani eksekusi mengatakan "nona, kakakmu telah bernasib seperti yang akan kita jalani". Mereka sengaja menempatkan Elisabeth di urutan paling terakhir yang akan dieksekusi. Namun Elisabeth disebut sangat tenang, ia siap mengorbankan dirinya untuk Tuhan. Ia bahkan menguatkan beberapa wanita yang dieksekusi sebelum dirinya. Mereka saling berpelukan. Elisabeth yang sudah seperti ibu angkat bagi Marie, wafat pada 10 Mei 1794 di usia 30 tahun.  Padahal jika mau, sebelum ditangkap pun Elisabeth punya banyak kesempatan untuk menyelamatkan diri. Namun ia tetap berada di samping sang kakak tercinta, raja Louis XVI. Elisabeth telah menjadi yatim dan piatu sebelum ia berusia 4 tahun namun memiliki jiwa yang mengayomi. Pada hari yang sama, Maximilien Robespiere, tokoh revolusi yang dianggap jujur mengunjungi kios buku yang terletak di Palais-Royal, dan melihat-lihat buku seperti yang sering ia lakukan. Penjual buku bernama Maret berkata terus terang "Masyarakat bersuara lantang menentang kamu. Memang Elisabeth sudah berbuat kejahatan apa sehingga kamu menghukum dia mati?" Sambil melihat ke arah Barere yang menemani, Robespiere menjawab "percayalah Maret, bukan aku. Aku malah risau ingin menyelamatkan dia, namun bajingan Collot d'Herbois itu yang mengambil Elisabeth dariku"

Sehari setelah Elisabeth dipenggal, turun hujan sangat deras. Tak disangka, Robespiere mendatangi Marie Therese di penjara Temple. Ia hanya memandangi remaja yatim piatu itu sambil sesekali berbisik kepada penjaga penjara. Penjaga pun tak mengenali siapa pria di depannya. Bagaimana Marie Therese bisa mengenali Robespiere, ia tak menjelaskan namun ia memberi secarik nota yang memberitahu bahwa adiknya sakit. Ia sudah meminta ijin kepada pemerintah untuk merawat, namun belum ada jawaban, sekarang waktunya untuk meminta ijin lagi. Nota itu diambil oleh Robespiere dan ia pergi. 


Saturday, October 2, 2021

Kisah Cinta Indah Nan Tragis Seperti Kapten Pierre Tendean dan Rr Nurindah Rukmini Chamim

 Kita semua mengetahui bagaimana kisah cinta Pierre dan Rukmini yang tak sampai di pelaminan pada tahun 1965 silam. Berikutnya Rukmini berjodoh dengan seorang pria yang juga berasal dari Jawa Tengah. Rukmini menetap di Klaten, Jawa Tengah hingga akhir hayatnya pada Juli 2019 di usia 72 tahun. Kisah cinta tersebut dirangkum dalam sebuah buku biografi yang mengulas perjalanan hidup Kapten Pierre Tendean yang berjudul : Sang Patriot. Menariknya, di buku tersebut terdapat beberapa foto kebersamaan sang patriot dengan pujaan hatinya. Buku itu diberikan khusus kepada Rukmini untuk ia baca, hanya beberapa bulan sebelum wafat. 

Kisah cinta mengharukan itu juga dialami oleh beberapa pasangan prajurit TNI dengan kekasih mereka masing-masing. Berikut rangkumannya :

  1. Lettu Angga Pradipta Adhyaksa Putra, ST.Han (26) dan Diar Kusuma Devi. Mungkin ini termasuk kisah cinta yang paling tragis. Bagaimana tidak. Angga tewas sehari sebelum akad nikah yang sedianya akan dilangsungkan pada Sabtu, 24 Agustus 2019. Mobil avanza yang dikemudikan ayah Angga tewas disambar kereta api barang semen holcim di perlintasan KA tanpa palang, desa Karangkantri, Cilacap. Ayah Angga menderita luka berat sementara Angga tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Tentu peristiwa ini bak petir bagi Diar. Resepsi pernikahan mereka sedianya akan dilangsungkan pada 31 Agustus 2019. Diar menjelaskan bahwa calon ayah mertuanya itu dalam kondisi lelah setelah menyebar undangan hingga keluar kota. Kemudian harus ke stasiun Kroya untuk menjemput sang putra yang baru tiba. Selama perjalanan di kereta, Diar selalu berbalas pesan dengan Angga hingga tengah malam. Bahkan keduanya juga sempat video call. Pesan terakhir putra pertama dari dua bersaudara ini menyebut ia telah sampai di stasiun. Diar dan Angga telah menjalin kasih tujuh tahun, sejak dari SMA. 
  2. Pratu Dedi Hamdani, Praka Anumerta (26) dan Anissa Dwi Laras. Dedi dan Anissa berasal dari kampung yang sama di desa Pelambik, Lombok Tengah. Keduanya telah menjalin kasih selama 11 tahun dan tentu sudah merencanakan pernikahan. Saat Dedi akan bertugas di Papua, ia sempat bertengkar hebat dengan Laras, sang kekasih. Laras tak menyetujui kepergian Dedi ke Papua sementara Dedi tak dapat mangkir dari perintah tugas. Laras mengatakan sejak Dedi bertugas di Papua, dirinya tak pernah tenang. Namun Dedi tetap berusaha menepati janjinya untuk menikahi Laras pada Maret 2021. Untuk itu, Dedi menelepon sang ayah memberitahu rencana pernikahan tersebut. Sang ayah mempersilahkan. Namun Dedi gugur saat dalam tugas pada 22 Januari 2021, hanya beberapa jam setelah rekannya di Yonif 400/Banteng Raider yang bernama Roy Vebrianto. 
  3. Lettu Erizal Zuhri Sidabutar, ST.Han, Kapten Anumerta (29) dan Putri Kladia Khairunissa. Sang prajurit kelahiran Sidikalang, Sumatra Utara pada November 1990 ini sejatinya akan menikahi putri komandannya. Rencana pernikahan akan dilangsungkan pada April 2020 di TMII Jakarta. Sementara Erizal sendiri purna tugas dari Papua pada 25 Desember 2019. Namun takdir tak dapat dielak, seminggu sebelum kepulangannya Erizal gugur. Disebutkan bahwa Erizal hendak menolong anggotanya, serda Rizky Ramadan yang ditembak terlebih dahulu. Seperti calon pasutri lain, keduanya memiliki rencana-rencana. Erizal menginginkan Kladia berhenti bekerja untuk mengurus suami dan kelak anak mereka. Namun beberapa hari sebelum terjadi, Putri Kladia sudah merasakan firasat tak enak hingga ia meminta ibunda Erizal untuk membantu mendoakan sang putra. Takdir tak dapat dielak, Putri Kladia harus menyobek kain perpisahan sebelum sang kekasih dimakamkan. 
  4. Serda Yusdin, Sertu Anumerta (25) dan Atik Chandrawaty. Baik Yusdin maupun Atik sama-sama merupakan anak sulung. Yusdin berasal dari Luwu, Sulawesi Tengah. Sementara Atik berasal dari Ternate. Pada September 2018, Yusdin dan Atik bertunangan. Sebelum ditugaskan kedua kali ke Papua, Yusdin meminta Atik untuk menjaga mata dan hati sebab ia pergi ke Papua karena bekerja. Namun Yusdin gugur pada 7 Maret 2019 saat baku tembak. Selain Yusdin, rekannya yang bernama Serda Mirwariyadin dan Serda Bayu ikut gugur. Pada 25 Maret 2019 sejatinya merupakan hari ulang tahun Yusdin yang ke-26. Hari itu diperingati dengan pengajian yang dihadiri oleh Atik.

Friday, September 3, 2021

Mengenang Para Prajurit Bangsa Yang Gugur Di Papua


  1. Prada Agus Kurniawan. "Siap untuk menjaga kedaulatan NKRI" begitu cuplikan singkat video yang diunggah oleh seorang rekan Agus. Itu menjadi kenangan tak ternilai bagi mereka yang mengenal Agus.  Agus gugur setelah tertembak di bagian punggung pada Minggu, 10 Januari 2021 di Titigi, Intan Jaya, Papua. Saat itu ia dan rekan-rekannya sedang terlibat baku tembak dengan KKB. Jenazah Agus sempat dipeluk oleh seorang rekannya saat hendak dievakuasi menggunakan mobil. 
  2. Bharada Aldy (21). Berawal dari kontak senjata di kabupaten Nduga pada Rabu, 20 Maret 2019, Aldy gugur. Sementara dua rekan Aldy menderita luka berat. Padahal beberapa hari lagi, Aldy akan berulang tahun yang ke-22. Almarhum yang lahir pada 3 April 1997 ini berasal dari Nunukan, Kalimantan Utara. Ayah Aldy menuturkan bahwa setelah Aldy lulus SMA pada 2016, sang putra sempat membantu ayahnya menjadi buruh angkut di pelabuhan. Pada 2017, Aldy memutuskan bergabung dengan Brimob.
  3. Praka Alif Nur Angkotasan. Praka Alif bersama Prada Ardi dari markas Yonif Para Raider 432 Wira Setia Jaya ditugaskan untuk menjaga bandara Dekai, Yakuhimo, Papua. Namun mereka diserang sekitar 20 orang menggunakan parang. Meski sempat dirawat dalam kondisi kritis, nyawa Alif tidak dapat diselamatkan. Ia meninggalkan seorang istri. Cuplikan Alif bersama rekan-rekannya bernyanyi dalam sebuah grup band khusus TNI dapat ditonton di youtube. 
  4. Serda Ambrosius Apri Yudiman. Prajurit ini berasal dari Sintang, Kalimantan Barat. Ia menjadi salah satu korban gugur bersama tiga rekan yang lain dalam penyerangan pos di Maybrat pada 2 September 2021 subuh. Kejadian ini membuat pangdam Kasuari sangat marah. 
  5. Prada Ardi Yudi Ardianto. Anak ketiga dari empat bersaudara ini memiliki darah Jawa dari sang ayah dan darah Portugis dari sang ibu. Tak heran jika ia memiliki wajah yang tampan. Mendiang ayah Ardi juga merupakan seorang TNI dan telah berpulang pada 2018 silam. Pada 17 Mei 2021, Prada Ardi dan Praka Alif Nur Angkotasan bertugas menjaga bandara Dekai, Yakuhimo, Papua. Tiba-tiba mereka diserang oleh sekitar 20 orang yang membawa golok. Prada Ardi langsung gugur di tempat, sementara Alif kritis dan kemudian gugur saat menjalani perawatan. Semasa hidup, prada Ardi gemar bernyanyi, suaranya sangat merdu. 
  6. Letda Amran Blegur. TNI yang berasal dari Kupang, NTT ini bersama seorang rekan TNI bernama Pratu Freddy tewas setelah dihadang dan ditembak di Tingginambut hanya dua hari setelah kemerdekaan RI yang ke-73. Awal mulanya Letda Amran mendapat telepon dari seorang anggota KKB yang meminta bahan makanan dan aki motor. Konon anggota KKB itu menawarkan akan menukar dengan senjata laras pendek milik mereka. Setelah disepakati, Letda Amran bersama pratu Fredi berangkat pukul 1 siang waktu setempat. Masyarakat kemudian melapor pada pos bahwa kedua TNI ini tewas tergeletak dengan luka tembak dan panah. Letda Amran meninggalkan seorang istri dan seorang putri berusia 13 tahun.
  7. Pratu Dedi Hamdani (26). Pratu Dedi memiliki rencana untuk menikahi kekasihnya, Annisa Dwi Laras pada Maret 2021. Hubungan Dedi dengan Laras sudah terjalin sangat lama, yaitu 10 tahun, dimulai dari 29 November 2010 silam. Namun impian mereka terhempas semenjak Dedi gugur pada 15 Januari 2021 setelah mengalami luka tembak dalam peristiwa pengejaran KKB. Dedi kerap mengunduh status yang memberi pesan moral positif. Bahkan status terakhir rasa rindu yang ia titipkan untuk sang ibu. Ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan kemampuan berbahasa Indonesia dengan sangat baik.  Anak sulung dari dua bersaudara ini sangat patuh kepada orang tua terutama sang ibu. Ia sudi mencuci pakaian sang ibu. Saat dimarahi, Dedi menangis dan menundukkan kepalanya agar mudah dijangkau sang ibu. 
  8. Praka Muhammad Dirhamsyah. Ia merupakan salah satu dari empat prajurit TNI yang gugur dalam penyerangan dini hari tanggal 2 September 2021. Jenazah dimakamkan di TMP Mangilu, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. 
  9. Kapten Anumerta Dirman (41). Komandan pos Dirman ditemukan tak bernyawa di semak-semak tak jauh dari posramil Kisor, Maybrat.  Sementara tiga anak buah lain tewas juga bersimbah darah di dalam posramil. Pada 2 September 2021 sekitar pukul 3 pagi, mereka diserang oleh sekitar 30-50 orang menggunakan senapan, golok dan senjata rakitan. Salah satu prajurit yang semula dikabarkan hilang akhirnya kembali setelah terjun ke sungai tak jauh dari pos. Seorang lagi prajurit bernama Serda Imanuel terluka berat di wajah namun selamat. Jenazah Kapten Anumerta Dirman dimakamkan di Bima, Nusa Tenggara Barat diiringi isak tangis sang istri dan kesedihan ketiga anak mereka. 
  10. Bharada Doni Priyanto. Doni gugur setelah terlibat baku tembak dengan KKB pada 28 Februari 2020 di Kali Kabur, distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Konon baku tembak berlangsung cukup lama yaitu 3 jam. Bharada Doni diketahui telah bergabung dengan kesatuan Brimob sejak tahun 2017. 
  11. Pratu Dwi Akbar Utomo. Dwi Akbar kritis setelah kontak senjata di distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya pada 19 September 2020. Meski sempat dirawat seadanya oleh rekan-rekan, Dwi menghembuskan nafas terakhir. Jenazah Dwi dibawa ke Kampung Terbanggi Agung, Lampung. 
  12. Pratu Edi. Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  13. Kapten Anumerta Erizal Zuhri Sidabutar (29). Lettu kelahiran Sidikalang, Sumatra Utara ini sudah meminang dan siap menikahi putri sang komandan, yaitu Putri Kladia Khairunissa pada April 2020 silam. Bahkan tempat resepsi di TMII pun telah dipesan. Takdir sungguh tak dapat ditolak, Lettu Erizal dan seorang lagi rekan bernama Rizki Ramadan gugur ditembak KKB saat sedang membagi paket natal kepada penduduk Papua pada 17 Desember 2019. Konon Erizal tertembak saat hendak menolong Rizki. Kepergian putra kedua dari enam bersaudara ini sangat ditangisi sang ibu. Ia merupakan "Andy Lau Mama" merujuk pada wajahnya yang putih tampan bak aktor Hong Kong. Sebelum jenazah sang Lettu dimakamkan secara militer, Putri Kladia merobek kain parsirangan yang sebagian ditutupkan di peti sebagai tanda perpisahan. Setelah melihat jenazah sang kekasih yang tersenyum bahagia, Putri Kladia mengikhlaskan kepergiannya.
  14. Pratu Firdaus Kurniawan Nugroho. Firdaus terlahir sebagai anak kembar. Kakak kembar Firdaus juga seorang prajurit dari Angkatan Laut. Anggota Yonif 400 Banteng Raider ini gugur dalam kontak tembak pada hari Jumat, 6 November 2020 di distrik Titigi, Kabupaten Intan Jaya. Tiga hari sebelum gugur, Firdaus sempat menelepon rekannya dan menitipkan keluarganya. Rekan Firdaus pun menegur. Tak dinyana itu menjadi isyarat Firdaus yang terakhir kali. Firdaus dimakamkan di kampung halamannya di Gombong, Jawa Tengah. 
  15. Sertu Frans. Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  16. Pratu Anumerta Ginanjar Arianda (22). Prada dari markas Yonif 400/Banteng Raider ini gugur saat KKB menembaki pos di Sugapa, Intan Jaya, Papua pada 15 Februari 2021. Ginanjar mengalami luka tembakan di bagian perut. Padahal tugas prada Ginanjar akan purna pada April 2021, sungguh takdir tak dapat dielak. Karangan bunga salah satunya datang dari bapak KASAD Andika Perkasa. Ginanjar menjadi TNI keempat Yonif Banteng Raider 400 yang gugur akibat ditembak. Sebelumnya ada lima TNI yang tewas akibat kecelakaan. Pasukan Banteng Raider 400 kemudian ditarik kembali ke Semarang dua bulan lebih awal dari yang dijadwalkan. Pratu Anumerta Ginanjar dimakamkan di kampung halamannya di kota Banjar, Jawa Barat. 
  17. Bharada Hadi Utomo (25). Hadi meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat dari Timika, kabupaten Mimika menuju Ilaga, kabupaten Puncak pada September 2019. Jenazah dimakamkan di Pati, Jwa Tengah. 
  18. Serda Handoko (24). Prajurit dari Yonif 755 Yalet Kostrad Merauke ini gugur di distrik Mbua, kabupaten Nduga pada 5 Desember 2018. Ia tergabung bersama 150 anggota lain dalam tugas sejak Maret 2018. Serda Handoko memang kelahiran Blora, Jawa Tengah namun ia bersama kedua orang tuanya sudah pindah ke Sorong, Papua. 
  19. Briptu Heidar. Semula Heidar bersama rekannya Bripka Alfonso tengah mengendarai motor. Lantas ada sejumlah warga memanggil Heidar. Saat dihampiri, sejumlah orang keluar dari semak belukar dan langsung membawa Heidar. Sedangkan Alfonso sembunyi dan kemudian melapor. Jenazah Briptu Heidar ditemukan di jalan Pinggil, distrik Ilaga, kabupaten Puncak pada 12 Agustus 2019 dengan sejumlah luka tembak di tubuh dan belakang kepala. Diduga saat hendak disandera, Briptu Heidar mencoba melarikan diri sehingga ia ditembak dari belakang. Heidar lahir di Barru, Sulawesi Selatan pada 17 Juli 1995. 
  20. Bripka Hendra Saut Parulian Sibarani. Bripka Hendra gugur pada Rabu,18 Desember 2019 pukul 14.20 siang di polres Dekai, Yahukimo. Beliau dimakamkan di Riau. 
  21. Pratu Ida Bagus Putu. Pratu Ida bersama prajurit lain sedianya hendak mengevakuasi jenazah tenaga kesehatan Gabriella Maelani yang tewas akibat serangan di Kiwirok, Pegunungan Bintang. Namun di hari pertama evakuasi, mereka mendapat serangan sehingga satu prajurit terluka. Proses evakuasi dilanjutkan pada 21 September 2021 namun mereka kembali mendapat serangan yang mengakibatkan Pratu Ida gugur. Jenazah Nakes Gabriella dan Pratu Ida berhasil dievakuasi bersama menuju ke rumah sakit di Jayapura untuk autopsi. 
  22. Bharatu I Komang Wiranatha. Bharatu I Komang merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Sejak ayah mereka wafat, I Komang bersama sang ibu bahu-membahu menghidupi keluarga. Sayang Bharatu I Komang gugur akibat ditembak di distrik Ilaga Utara, kabupaten Puncak pada Mei 2021. Jenazah I Komang dibawa ke Ogan Komering Ilir, Sumatra Utara untuk menjalani prosesi ngaben.
  23. Ipda Jesayas M. Nusi. Ipda Jesayas bersama rekan prajurit yaitu Brigpol Sinton Kabarek gugur dalam serangan pada 27 Juni 2018 sekitar pukul 4 sore waktu setempat. 
  24. Pratu Jojo Wiharjo. Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  25. Pratu Kasnun. Semula Pratu Kasnun bersama rekan-rekan mengadakan patroli untuk memastikan kelancaran pembangunan trans Papua pada 13 Mei 2019 di distrik Mugi, kabupaten Nduga. Tiba-tiba mereka mendapatkan tembakan bertubi-tubi dari arah ketinggian yang kemudian dibalas. Pratu Kasnun sempat kritis setelah mengalami luka tembak di punggung yang menembus bahu depan. Saat diterbangkan menuju rumah sakit di Timika, ia menghembuskan nafas terakhir. Pratu Kasnun meninggalkan seorang istri bernama Wenny Ariesty.
  26. Sertu La Ongge. Pada 9 Maret 2020 sekitar pukul 5 pagi, Sertu La Ongge ditembak saat sedang mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Peluru mengenai telinga kiri La Ongge. Ia dibawa ke pos Yonif 754/ENK untuk diterbangkan helikopter pada pukul 9.20 pagi menuju rumah sakit di Mimika.Penerbangan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Baru lima menit di rumah sakit, dokter memberitahu bahwa La Ongge telah tiada. La Ongge dimakamkan di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.
  27. Sertu M. Udin.Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  28. Serda Mirwariyadin. Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto gugur saat mengamankan pembangunan infrastruktur Trans Papua pada 7 Maret 2019. 
  29. Bharada Muhammad Kurniadi Sutio. Gugurnya anggota polisi ini tak lama setelah gugurnya tenaga kesehatan Gabriella Maelani dan seorang anggota TNI bernama Ida Bagus Putu. Bermula saat markas polisi di Kiwirok mendapatkan serangan pada pagi hari tanggal 25 September 2021. Ia dimakamkan di Aceh Tamiang. 
  30. Pratu Muhammad Makamu. Pada 18 Januari 2019, sang pratu bersama rekan-rekannya sedang mendistribusikan logistik namun kemudian mendapat serangan di distrik Yambi, kabupaten Puncak Jaya.  Sejatinya Pratu Makamu mendapat tembakan di paha yang tidak begitu vital. Namun karena terlambat dievakuasi, ia menghembuskan nafas terakhir. 
  31. Pratu Mustofa. Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  32. Praka Nasrudin. Prajurit dari Yonif 751 ini gugur saat mengamankan Bandara Mapenduma, kabupaten Nduga. Saat itu ada pesawat yang membawa 1100 kilogram logistik mendarat. Praka Nasrudin masih sempat dibawa ke rumah sakit di Timika dengan harapan dapat ditolong. Namun ia menghembuskan nafas terakhir saat masih dalam perawatan.
  33. Briptu Berry Permana Putra (27). Ia merupakan anggota Brimob Polda asal Bengkulu. Briptu Berry gugur ditembak di jembatan Utikini, Tembagapura pada 21 Oktober 2017. Ia meninggalkan seorang istri yang baru dinikahi tujuh bulan, Wyndha Dewanty. 
  34. Sertu Ramadan. Sertu Ramadan merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013.
  35. Serda Rizky Ramadan. Ia tewas hampir bersamaan dengan komandan Lettu Erizal Zuhri Sidabutar, pada 17 Desember 2019. Konon Rizky mengalami tembakan terlebih dahulu saat sedang membagikan paket natal di kampung Kulapa, distrik Hitadipa, Intan Jaya. Mengetahui itu, Erizal pun menolong namun ia ikut ditembak. Jenazah Rizky diterbangkan ke Jakarta untuk disemayankan terlebih dahulu di Rumah Dinas Asrama Cijantung pada 18 Desember 2021. Kemudian dimakamkan di TMP Kalibata pada 19 Desember 2021.
  36. Pratu Roy Vebrianto (25). Ia sedianya hendak merayakan ulang tahun ke-26 pada 11 Februari 2021. Roy berpesan kepada ayahnya di Bandung untuk membeli kue tart. Tak dinyana itu menjadi pesan yang terakhir. Anak sulung dari dua bersaudara ini kritis setelah diberondong peluru di bagian dada saat sedang bersih-bersih selepas salat subuh di Pos Titigi Yonif Banteng Raider 400. Setelah menjalani perawatan singkat, Pratu Roy tidak bertahan. Ia gugur pada 22 Januari 2021 setelah bertugas di Intan Jaya, Papua selama 5 bulan.
  37. Serka Sahlan (45). Bapak empat anak ini ditemukan tewas dengan luka bacok pada 17 September 2020. Saat itu Serka Sahlan tengah mengendarai motor membawa logistik di distrik Sugapa, kabupaten Intan Jaya. Tiga jam sebelumnya, seorang tukang ojek juga tewas dengan luka yang sama. Logistik yang dibawa Sahlan tampak utuh, begitu pula motornya. Jenazah Serka Sahlan dimakamkan di Maros, Sulawesi Selatan. 
  38. Pratu Sandi Nopiana. Saat Pratu Sandi sedang ke pasar Sinak, kabupaten Puncak untuk belanja kebutuhan pokok pada 12 Februari 2018, ia ditembak oleh orang tidak dikenal. Orang tersebut dipastikan kelompok separatis. Sebenarnya Sandi tidak seorang diri, namun mereka jalan di pasar secara terpisah. Rekan-rekan Sandi sempat mendengar letusan senjata api dan begitu mendatangi asal suara, justru mendapati Sandi sudah terkapar dengan luka tembak di wajah. Senjata api milik Sandi juga telah dirampas. Saat para pelaku yang berjumlah lima orang tersebut dikejar, mereka melepaskan tembakan. Jenazah sang prajurit dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa kota Banjar, Jawa Barat.
  39. Brigpol Sinton Kabarek. Brigpol Sinton bersama Ipda Jesayas H. Nusi gugur di distrik Torere, kabupaten Puncak Jaya pada 27 Juni 2018 sekitar pukul 4 sore waktu setempat. 
  40. Pratu Sirwandi. Ia bersama rekannya usai mendistribusikan logistik di distrik Mbua, kabupaten Nduga, yang kemudian mendapat serangan pada 16 Agustus 2019. Ia menderita luka tembak di pinggang dan sempat dirawat di RSUD Wamena. Namun pratu Sirwandi menghembuskan nafas terakhir pada 17 Agustus 2019.
  41. Serda Siswanto Bayu Aji. Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto gugur saat mengamankan pembangunan infrastruktur Trans Papua pada 7 Maret 2019. Serda Siswanto dimakamkan di kampung halaman di Grobogan, Jawa Tengah. 
  42. Pratu Sul Ansyari. Pratu Sul baru dua tahun menikah dengan Nur Janna, wanita yang berprofesi sebagai seorang perawat. Sul tewas dibacok oleh sekitar 50 orang saat sedang beristirahat, sekitar pukul 3 pagi. Ia, Dirhamsyah dan Ambrosius Apri Yudiman tewas di dalam markas. Sementara sang komandan ditemukan tewas di luar markas. Jenazah Sul tiba di Makassar bersama jenazah Praka Muhammad Dirhamsyah sebelum dibawa ke kampung halaman masing-masing. Pratu Sul dimakamkan di kabupaten Barru dengan upacara militer. Sementara dua pelaku berhasil diringkus tak lama setelah kejadian. 
  43. Prada Usman Hembelo. Prada Usman ditembak pada saat sedang ibadah shalat di jembatan Yuguru-Kenyam, distrik Yuguru, kabupaten Nduga. Ia terkena tembakan di bagian pinggang.
  44. Pratu Vicki Rumpaisum. Pratu Vicki merupakan prajurit dari Yonif 751 yang gugur di distrik Tembagapura, kabupaten Mimika pada 1 April 2018.
  45. Pratu Wahyu Prabowo. Pratu Wahyu gugur saat pos TNI Maleo di Tingginambut, kabupaten Puncak Jaya mendapat serangan pada 21 Februari 2013. Jenazah anggota TNI kelahiran 5 Oktober 1988 itu dimakamkan di Purbalingga, Jawa Tengah. Pratu Wahyu memiliki saudara kembar perempuan bernama Wahyu Pratiwi. Pratu Wahyu memiliki rencana untuk menikahi kekasihnya, Merlina Fatmawati Anika. Namun rencana itu harus dikubur bersama jasad sang pratu. 
  46. Praka Wempi. Merupakan satu dari tujuh prajurit TNI yang gugur dalam baku tembak di Sinak, kabupaten Puncak pada 21 Februari 2013. Saat jenazah ketujuh prajurit ini hendak dievakuasi menggunakan helikopter, juga mendapat serangan. Akibat dari itu, tiga awak helikopter terluka. 
  47. Serda Yusdin. Prajurit asal Luwuk, Sulawesi Tengah tewas saat kontak senjata di Nduga pada 7 Maret 2019. Selain Yusdin, dua rekannya lain yaitu Serda Mirwariyadin dan Serda Siswanto juga gugur. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara, juga merupakan tulang punggung keluarga. Yusdin yang membiayai sekolah ketiga adiknya. Sejatinya Yusdin akan berulang tahun pada 25 Maret, yang kemudian menjadi acara yasinan untuk mendoakan arwah almarhum. Impian Yusdin dan tunangannya Atik Chandrawaty harus dipendam bersama takdir yang telah ditentukan.

Monday, August 23, 2021

Selebriti Tanah Air Yang Wafat Akibat COVID-19, Sebagai Sarana Untuk Mengenang

  1. Birgaldo Sinaga (46). Pegiat sosial Birgaldo memang telah wafat pada 16 Mei 2021. Namun aksi kemanusiaannya sangat dikenang oleh para sahabatnya dan mereka yang pernah diperjuangkan. Salah satu sahabat yang juga pegiat sosial Ni Luh Jelantik memprakarsai sebuah rekening khusus yang menampung sumbangan yang kemudian diberikan kepada istri dan anak Birgaldo. 
  2. Farida Pasha (68).  Semula Farida dilarikan ke rumah sakit karena mengalami vertigo dan radang paru tahap awal. Namun ternyata ia terpapar virus mematikan ini. Farida menghembuskan nafas terakhir pada 16 Januari 2021.
  3. Jane Shalimar (41). Jane wafat hanya sebulan lebih dua hari setelah ia berulang tahun yang ke-41, tepatnya pada 4 Juli 2021. Terpapar virus sejak 24 Juni 2021, kondisi Jane dikabarkan terus drop. Setelah sempat membaik, Jane tidak bertahan dan harus meninggalkan putra semata wayangnya, Muhammad Zarno yang masih remaja.
  4. Rahmawati Soekarnoputri (70). Rahmawati telah menderita stroke selama beberapa tahun. Sehingga saat ia terpapar virus, kondisi ibu Didi Mahardika ini tentu sulit untuk bertahan. Rahmawati berpulang pada 3 Juli 2021, hanya sehari sebelum kepergian Jane Shalimar. Jane Shalimar merupakan bekas calon menantu Rahmawati. 
  5. Rina Gunawan (46). Kondisi Rina yang terpapar virus diperburuk oleh komorbid asma dan sinusitis yang diidapnya. Detik-detik kepergian Rina pada 2 Maret 2021 disaksikan oleh suami dan kedua anak Rina hanya melalui sambungan telepon. Rina dimakamkan di liang yang sama dengan mendiang sang ayah yang wafat pada tahun 2016 silam.
  6. Soraya Abdullah (42). Wafat pada 1 Februari 2021, Soraya merupakan janda cerai dengan dua orang anak. Nama Soraya sempat menjadi perbincangan di media sosial saat ia mengatakan diam-diam menikah dengan aktor Indra Bruggman. Berita ini ditepis oleh sang aktor. 
  7. Ki Manteb Sudarsono. Pedalang ternama Ki Manteb memang telah berusia sepuh dan di saat pandemi merebak, namun tetap saja kepergian si dalang mengejutkan publik. Ia meninggal pada 2 Juli 2021 di kediamannya di Karanganyar, Jawa Tengah saat tengah menjalani isolasi mandiri. 

Saturday, April 17, 2021

Mengenang Pangeran Philip, Kisah Hidup Panjang Seorang Adipati Edinburgh

Bayi Philip dilahirkan di meja dapur di kota Corfu, Yunani pada 10 Juni 2021. Ayahnya adalah Andrew, pangeran Yunani dan Denmark. Ibunya adalah Alice, putri Battenberg yang menderita tuna rungu sejak lahir. Kelahiran Philip bisa dikatakan istimewa sebab keempat kakaknya adalah perempuan. Mereka adalah putri Margarita, putri Theodora, putri Cecilie dan putri Sophie. Baru berusia 1,5 tahun, bayi Philip beserta seluruh keluarga mengungsi keluar dari Yunani dengan menumpang kapal perang Inggris. Mereka menuju ke Italia sebelum akhirnya menetap di rumah milik tante Philip di pinggiran kota Paris, Perancis. Tahun 1930, ibunda Philip didiagnosa menderita szikofrenia paranoia yang menjadikan dia seolah "satu-satunya wanita di dunia" dan "menikah dengan Yesus Kristus". Ibunda Alice yaitu Victoria, Marchioness Milford Haven menyetujui saran dokter agar Alice sebaiknya dirawat secara khusus. Maka pada musim semi 1930, Philip sekeluarga berlibur di rumah Ernest, Adipati Agung Hesse di Jerman. Saat Philip sedang keluar, dokter datang membius Alice dan membawanya ke mobil untuk menuju ke sebuah klinik di dekat Danau Constance, Swiss. Sejak itu, ayah Philip memutuskan untuk tinggal di Monte Carlo bersama seorang artis berkebangsaan Perancis. Meski tidak resmi bercerai, pernikahan kedua orang tua Philip telah berakhir. Pengasuhan Philip diambil alih oleh sang nenek dibantu oleh sang paman yaitu George Mountbatten, Marquess Milford Haven Ke-2. Philip menjadi dekat dengan anak laki-laki sang paman yang bernama David. David berusia 2 tahun di atas Philip. Philip tidak pernah bertemu atau mendengar kabar ibunya dari tahun 1932 hingga 1937. Sementara itu dalam kurun waktu delapan belas bulan, keempat kakak Philip masing-masing menikah dengan pria Jerman. Jika ayah Philip hadir di pernikahan mereka, tidak demikian dengan ibunda Philip.

Kabar duka datang dari kakak Philip yaitu putri Cecilie pada Oktober 1937. Ia bersama suami yaitu Georg Donatus, Adipati Agung Hesse, kedua putra dan ibu mertua Cecilie tewas dalam kecelakaan pesawat. Mereka hendak menuju ke pernikahan adik Georg Donatus. Putri Cecilie sedang hamil delapan bulan. Diduga saat terbang, Cecilie mengalami kontraksi tiba-tiba sehingga memaksa pesawat mendarat darurat namun justru jatuh. Dugaan lain, akibat benturan hebat saat kecelakaan, janin yang dikandung Cecilie keluar dengan paksa. Janin laki-laki itu ditemukan masih lengkap bersama ari-arinya di reruntuhan pesawat. Anak perempuan Cecilie yang bernama putri Johana yang ditinggal di rumah saat kejadian menjadi sebatangkara. Putri Johana sempat diasuh oleh adik Georg Donatus dan istri namun ia wafat pada 1939 akibat radang otak. Philip datang ke Jerman untuk berjalan di belakang peti jenazah sang kakak sekeluarga. Kejadian ini mempertemukan kembali orang tua Philip untuk pertama kalinya setelah enam tahun tak bertemu. Setelah pemakaman selesai, ibunda Philip kembali ke Athena untuk melayani kaum papa. Ia menyewa apartemen dua kamar di dekat museum Benaki. 

Duka masih menyelimuti kehidupan Philip. Sang paman yaitu George Mountbatten wafat akibat kanker tulang sumsum pada tahun 1938. Adik George yaitu Louis Mountbatten atau akrab disapa Dickie mengambil alih kepengasuhan Philip remaja. Berbeda dengan George, kepribadian Dickie yang lebih berambisi berdampak banyak kepada masa depan Philip. Dickie berhasil mengubah cita-cita Philip yang semula ingin menjadi pilot tempur dan kemudian berkarir di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Tahun 1939, raja George VI membawa istri dan kedua anak mereka yaitu putri Elizabeth dan putri Margaret mengunjungi sekolah angkatan laut kerajaan. Kesempatan itu menjadi momentum pas buat Dickie. Ia menginstruksikan Philip untuk menemani putri Elizabeth dan putri Margaret. Mereka sempat bermain kriket.

Pangeran Philip dan putri Elizabeth merupakan keturunan dari ratu Victoria. Putra sulung ratu Victoria yaitu pangeran Albert Edward (raja Edward VII) adalah kakek buyut ratu Elizabeth II. Sementara adik kandung pangeran Albert Edward yaitu putri Alice, merupakan nenek buyut bagi pangeran Philip.  Dari garis ayah, kakek Philip (George I, raja Yunani) merupakan adik kandung nenek buyut Elizabeth (Alexandra, ratu Inggris). Jauh kembali ke abad 19, pada 10 Februari 1840, ratu Victoria menikah dengan sepupu pertama yaitu pangeran Albert.

Hari natal 1943, pangeran Philip diundang ke kastil Windsor untuk merayakan natal bersama keluarga kerajaan. Tahun 1944, ayah Philip wafat. Ia meninggalkan sedikit warisan tanah, benda-benda yang tak bernilai dan juga hutang yang menggunung. Nenek Philip mengeluh betapa mewah dan boros kehidupan ayah Philip bersama wanitanya itu. Tahun 1946, saudari sepupu Philip yang juga putri sulung Dickie yaitu Patricia menikah. Dickie meminta putri Elizabeth, putri Margaret, putri Alexandra dan adik Patricia yaitu Pamela untuk menjadi pengiring pengantin. Dalam kesempatan ini, Philip semakin dekat dengan putri Elizabeth. Setelah pernikahan, Philip melamar Elizabeth dan diterima tanpa berdiskusi dengan ayah Elizabeth. Ayah Elizabeth merasa tak siap melepas Elizabeth sebab dianggap masih terlalu muda untuk menikah. Oleh karenanya, pertunangan Philip dan Elizabeth dirahasiakan terlebih dahulu. Philip memberikan cincin lamaran yang diambil dari tiara milik ibunya, berupa cincin berlian 3 karat yang dikelilingi oleh berlian-berlian kecil. Raja George VI memutuskan untuk membawa istri dan kedua putrinya mengikuti tur ke Afrika Selatan selama empat bulan. Philip menjadi warganegara Inggris. 

Pada 9 Juli 1947, pertunangan Philip dan Elizabeth resmi diumumkan ke publik. Mereka merayakan pernikahan pada 20 November 1947 di gereja Westminster Abbey. Terjadi masalah kecil saat prosesi pernikahan. Bunga buket Elizabeth sempat hilang sebelum ditemukan kembali. Kemudian tiara yang dipakai Elizabeth patah di bagian tengah namun beruntung bisa lekas diperbaiki di istana Buckingham sebelum Elizabeth berjalan ke pelaminan. Ibunda Philip hadir bersama nenek Philip. Akta pernikahan Philip ditandatangani bukan oleh sang ibunda melainkan oleh saudari sepupunya yaitu putri Marina.

Setahun setelah menikah, tepatnya pada 14 November 1948, Philip dan Elizabeth dikaruniai seorang putra yang diberi nama Charles. Di usia satu bulan, tepatnya pada 15 Desember 1948, Charles dibaptis. Orang tua baptis Charles salah satunya adalah George, pangeran Yunani dan Denmark. Namun pangeran George tidak dapat hadir dan diwakili oleh pangeran Philip. Dua tahun kemudian pada Agustus 1950, Charles mendapat adik perempuan yang diberi nama Anne. Kakak sulung Philip yaitu putri Margarita diundang menjadi ibu baptis bagi putri Anne. Awal Februari 1952, Philip dan Elizabeth menggantikan tugas ayahnya untuk tur kerajaan di Afrika. Elizabeth menunjuk saudari sepupu Philip yang bernama Pamela untuk menjadi asisten wanita. Ibu ratu Mary mengajak Pamela untuk berbicara secara pribadi, ia meminta agar Pamela tak lagi memanggil Elizabeth dengan sebutan Lilibet, melainkan "ibu". Di bandara, Elizabeth dan Philip diantar oleh raja George VI, ratu Elizabeth dan putri Margaret. Raja George VI baru menjalani operasi pengangkatan satu paru akibat tumor. Meski tampak jauh lebih tua dari usianya, ia tampak relatif sehat. Sang raja bisa naik turun tangga pesawat dan berjalan tanpa dibantu siapapun dan alat apapun. Siapa yang menyangka bahwa itu adalah pertemuan terakhir ayah dan anak yang ia banggakan. 

Sesampai di Kenya, Philip dan Elizabeth menginap di hotel yang dibangun di atas pohon tinggi sehingga mereka bisa mengamati hewan-hewan yang berada di bawah. Raja George VI wafat pada 6 Februari 1952. Philip bertugas menyampaikan kabar duka itu saat mengajak Elizabeth berjalan berdua. Mereka kembali ke Inggris untuk pemakaman. Pada Maret 1953, ibu ratu Mary wafat di usia 85 tahun. Pada 2 Juni 1953, Elizabeth II menjalani upacara penobatan. Ibunda Philip yang sudah menjadi seorang biarawati pun hadir. Ia berjalan seorang diri di belakang prosesi. Di waktu ini, putri Margaret dikabarkan ingin menikah dengan Kapten Grup Peter Townsend. Masalah pun muncul. Margaret bisa kehilangan hak waris tahta, gelar dan fasilitas kerajaan apabila menikahi Peter disebabkan Peter seorang duda cerai dengan dua orang anak. Ratu Elizabeth II meminta Margaret menunda pernikahan. Setelah penobatan, ratu Elizabeth II dan pangeran Philip menjalani tur kerajaan selama enam bulan. Masalah lain muncul. Philip ingin Charles dan Anne menyandang nama belakang Mountbatten namun keinginan ini ditentang konstitusi kerajaan. Philip meradang, ia merasa satu-satunya pria di Inggris yang dilarang memberikan nama ke anaknya. Elizabeth pun memberi keleluasaan Philip untuk menentukan sekolah bagi Charles dan Anne. 

Tahun 1955, ratu dan Philip membawa serta pangeran Charles, putri Anne dan juga ibu Philip berlayar ke Malta. 

Putri Margaret memutuskan tak jadi menikahi Peter Townsend. Peter menikah dengan wanita lain pada tahun 1959 sementara Margaret menikah dengan fotografer kerajaan bernama Anthony Armstrong Jones pada Mei 1960. Pernikahan dihelat di gereja Westminster Abbey. Pangeran Philip mengantar Margaret ke pelaminan. Pada Februari 1960, Philip dan ratu dikaruniai anak ketiga yaitu pangeran Andrew. Kemudian Philip bersama pangeran Charles dan putri Anne menghadiri pernikahan Pamela Mountbatten. Sebulan setelah Pamela menikah, ibunda Pamela yaitu Edwina Ashley meninggal dunia di Kalimantan utara. Pangeran Philip bertemu sang ibunda untuk menghadiri pemakaman Edwina di laut lepas.

Tahun 1964, Philip dan ratu dikaruniai anak bungsu yaitu pangeran Edward. Berbeda dengan kelahiran Charles, pada proses kelahiran Edward, Philip menemani ratu. Saat ratu melahirkan Charles, Philip sedang bermain cricket. Setelah Charles lahir, Philip datang menemui sang istri membawa sebuket bunga. 

Pangeran Philip dikenal dengan gaya bicara yang ceplas-ceplos, bahkan sering menimbulkan kontroversi. Philip yang gemar memanggang dan makan mengatakan bahwa wanita di Inggris tidak dapat memasak. Suatu hari ia datang ke dapur pada malam hari menanyakan di mana koki. Asisten koki mengira Philip adalah tukang kebun, berdasarkan baju lusuh yang ia pakai. Asisten koki masuk ke dalam mengatakan ada tukang kebun ingin bertemu. Koki sempat heran mengapa ada tukang kebun mau bertemu dengannya pada malam hari. Saat koki terdengar memanggil "selamat malam yang mulia", asisten baru menyadari ia keliru mengenali pangeran Philip. Philip datang ke dapur di hari lain untuk menanyakan menu makanan hari itu. Koki kerajaan menunjukkan daging domba yang sudah dipersiapkan untuk dimasak. Lalu Philip menanyakan daging yang di sebelahnya. Koki menyebut bahwa itu untuk para staf kerajaan. Philip bertanya kenapa bukan daging itu yang diperuntukkan keluarga kerajaan. Ia kemudian meminta kedua daging itu untuk disantap bersama keluarga dan staf kerajaan. Ia bahkan memutuskan untuk memasak sendiri. 

Makanan kegemaran Philip adalah salmon coulibiac, yang berasal dari Russia berupa salmon tanpa kulit yang ditoping dengan irisan jamur, nasi dan juga irisan telur rebus kemudian dibungkus kulit pastri. Setelah dipanggang, disajikan dengan cara diiris sesuai porsi. Philip juga gemar memasak sup krim jamur. Suatu hari Philip datang lagi ke dapur. Ia menanyakan koki sedang melakukan apa : mengupas mangga. Ia mengajarkan teknik mengupas mangga menurut versinya yaitu dengan membelah buah di tengah secara vertikal, membuang biji dan kemudian mengambil daging dari kulit menggunakan sendok.

Pangeran Philip mengatakan bahwa ia senang pergi ke Russia meskipun "bajingan-bajingan itu menghabisi separuh keluargaku". Dua tante Philip bersama keluarga mereka tewas dibunuh saat terjadi revolusi Russia pada 17 dan 18 Juli 1918. Mereka adalah putri Elisabeth dan putri Alix. Suami putri Elisabeth yang bernama Sergei, Adipati Agung Russia tewas terkena serangan bom pada tahun 1905. Sementara Alix tewas ditembak bersama suami (Nicholas II, kaisar Russia) bersama kelima anak mereka dan empat pegawai setia. Saya sudah mengisahkan hidup putri Elisabeth di blog ini.

Tahun 1967, Philip dan ratu mengirim pesawat untuk menjemput ibunda Philip di Athena. Mereka menginginkan ibunda Philip pensiun dari segala tugas. Pesawat tak diijinkan meninggalkan Athena sebelum ibunda Philip benar-benar pergi. Sesampai di London, ibunda Philip menetap di istana Buckingham. Kepada para cucu yang menjenguk, ibunda Philip meminta agar setelah wafat, jasadnya dimakamkan di bukit Zaitun, Yerusalem. Permintaan ini diprotes, mereka akan kesusahan jika ingin berziarah. Ibunda Philip menyela "gak masuk akal, kan bisa menggunakan bis". Pada tahun 1988, jasad ibunda Philip dipindahkan ke gereja Maria Magdalena, Bukit Zaitun, Yerusalem. 

Pada 14 November 1973, putri Anne menikah dengan Mark Philipps. Pada tahun 1977, Philip dan ratu dikaruniai cucu pertama yaitu Peter Philipps. Empat tahun kemudian, Philip dan ratu dikaruniai cucu kedua yaitu Zara Philipps.

Di musim panas, keluarga Dickie Mountbatten biasa berlibur ke kastil Casselblown milik pribadi yang terletak di Irlandia. Di sana Dickie menuju ke laut untuk memancing lobster. Namun pada 27 Agustus 1979, terjadi tragedi yang memilukan. Sebuah bom diam-diam dipasang di bawah perahu yang akan digunakan Dickie sekeluarga untuk memancing. Hari itu, Dickie mengajak putri sulung yaitu Patricia, suami Patricia, kedua anak kembar laki-laki Patricia yaitu Nicholas dan Timothy serta seorang asisten perahu berusia 15 tahun bernama Maxwell. Sementara putri bungsu Dickie yaitu Pamela bersama putrinya, India Hicks memilih tetap di kastil. Mereka tidak menyadari keberadaan bom tersebut hingga diledakkan menggunakan remote control. Perahu hancur berkeping-keping. Dickie tewas seketika namun tubuhnya utuh. Maxwell juga tewas. Patricia, suami, ibu mertua dan Timothy dilarikan ke rumah sakit. Ibu mertua Patricia meninggal keesokan hari. Patricia menyadari bahwa Nicholas ikut tewas sebab ia tak melihatnya di dalam ruangan tempat mereka dirawat. Wajah Patricia menerima 120 jahitan yang ia sebut sebagai "face lift". Upacara pemakaman Louis Mountbatten alias Dickie dilangsungkan secara militer. Tentara pembebasan Irlandia mengklaim mereka bertanggung jawab atas tindakan itu.

Pada 29 Juli 1981, Charles menikah dengan putri Diana di katedral St James. Dua pengiring pengantin putri Diana adalah Sarah Armstrong Jones (putri Margaret) dan India Hicks (putri Pamela Mountbatten). Keluarga putri Diana merupakan bangsawan Inggris yang kenal dekat dengan keluarga kerajaan Inggris. Pangeran Philip, ratu Elizabeth II, ibu ratu dan putri Margaret hadir dalam pernikahan orang tua Diana yang dilangsungkan pada 4 Juni 1954 di gereja Westminster Abbey. Pada Juni 1982, Philip dan ratu dikaruniai cucu ketiga yaitu pangeran William. Dua tahun kemudian, Philip dan ratu dikaruniai cucu keempat yaitu pangeran Harry. 

Pada 23 Juli 1986, pangeran Andrew menikah dengan Sarah Ferguson di gereja Westminster Abbey. Pangeran William dan Zara Philipps (putri Anne) menjadi pengiring cilik. Pada tahun 1988, Philip dan ratu dikaruniai cucu kelima yaitu putri Beatrice. Dua tahun kemudian, mereka dikaruniai cucu keenam yaitu putri Eugenie. Ratu Elizabeth II mewariskan "rumah mainan mungil" miliknya dan putri Margaret saat kecil kepada putri Beatrice.

Masih pada tahun 1986, ratu dan Philip mengadakan kunjungan kerajaan ke Cina. Di sana mereka bertemu dengan mahasiswa Inggris bernama Simon Kerby. Simon mengambil jurusan bahasa Mandarin di universitas Xian. Philip berseloroh "kalau tinggal lebih lama lagi, kamu akan pulang dengan mata yang sipit".

Tahun 1992 merupakan tahun penuh cobaan buat Philip dan ratu. Dimulai dari kastil Windsor yang terbakar. Kemudian perceraian dan perpisahan ketiga anak ratu yaitu putri Anne, pangeran Charles dan pangeran Andrew. Pada Desember 1992, putri Anne menikah lagi dengan Timothy Lawrence di gereja Skotlandia. Putri Anne tidak dikaruniai anak dari pernikahan ini. Charles dan Diana resmi bercerai pada tahun 1996. Diana masih diijinkan tinggal di istana Kensington. Charles menawarkan Diana untuk mengambil barang apapun yang ia mau. Diana meminta Paul, asisten pribadi yang dipinjamkan ratu Elizabeth II kepada Diana. Charles semula keberatan namun akhirnya ia menyerah dan memberitahu kepada ratu perihal ini. Paul pun menghadap ratu untuk pamit. 

31 Agustus 1997, putri Diana tewas kecelakaan di terowongan Alma, Paris, Perancis. Mengetahui cucunya enggan berjalan di belakang peti jenazah sang ibunda, pangeran Philip berbicara dengan pangeran William. "Kamu bisa menyesal nanti kalau tidak melakukannya. Kalau aku berjalan bersama kamu, kamu mau tidak?" Akhirnya pangeran William menyetujui ajakan sang kakek. Pangeran Philip mendapat tuduhan bahwa ia merencanakan "kecelakaan" ini karena tak ingin ibu calon raja Inggris menikah dengan seorang Dodi. Namun di pengadilan, tuduhan ini tak dapat dibuktikan.

Pada 20 November 1997, pangeran Philip dan ratu Elizabeth II merayakan pernikahan emas. Ratu menyebut bahwa sang suami adalah tipikal orang yang tidak mudah menerima pujian, namun menjadi tonggak kekuatan sang ratu dalam menjalani perannya. Sementara Philip dalam pidatonya mengatakan "kunci sukses pernikahan adalah toleransi". Ia meyakinkan hadirin bahwa selama pernikahan, sang istri lah yang memiliki toleransi tak berbatas. Bekas asisten ratu (dan juga bekas asisten putri Diana) yaitu Paul Burell mengisahkan kejadian unik. Paul menyebut bahwa ratu dan Philip bagaikan Yin dan Yang. Philip disebutnya selalu seperti gunung merapi. Suatu hari Philip kesulitan membuka pintu akibat terhalang oleh anjing-anjing ratu yang tidur. Philip mengomel keras mengapa memelihara anjing sebegitu banyak, namun ratu menjawab dengan tenang.

Meskipun ia bersuamikan wanita yang sangat terkenal di dunia, namun tetap saja ada yang tidak mengenali dirinya. Ini terjadi pada tahun 1997 saat Philip berkunjung ke universitas Cambridge. Tukang parkir sepuh tidak mengenali dirinya, lantas Philip menyeletuk "kau memang tolol ". Tahun 1998, Philip bertemu dengan seorang pelajar Inggris yang telah menelusuri Papua Nugini "kamu berhasil (menelusuri) tanpa dimakan waktu itu?". Tahun 1999 Philip bertemu dengan tiga pegawai peternakan ikan Skotlandia di istana Holyrood dan menyeletuk "oh, kalian adalah orang-orang yang merusak sungai dan lingkungan".

Pada tahun 1999, pangeran Edward mempersunting Sophie Rhys Jones di kapel St George, kastil Windsor. Pada Februari 2002, putri Margaret menghembuskan nafas terakhir setelah terserang stroke ketiga kali. Selama hidup, putri Margaret merupakan perokok berat. Jasad Margaret dikremasi agar ia bisa dimakamkan bersama sang ayah, raja George VI di kastil Windsor. Sebulan kemudian, ibu ratu wafat di usia 101 tahun. Pada 2003, Philip dan ratu dikaruniai cucu ketujuh yang diberi nama Louise Mountbatten-Windsor. Ia pertama kali menyandang nama belakang sesuai harapan pangeran Philip. Kehamilan dan proses melahirkan Louise tidaklah mudah bagi Sophie yang sudah berusia 39 tahun. Selama kehamilan, Sophie sempat mengalami pendarahan sebab plasenta terlepas sebelum bayi lahir. Selain itu, Louise juga menderita kelainan bola mata sehingga ia harus menjalani operasi perbaikan. Tahun 2007 dan di usia 43 tahun, Sophie melahirkan anak laki-laki yang diberi nama James Mountbatten Windsor yang menjadi cucu termuda Philip dan ratu. 

Tahun 2002, Philip dan ratu mengadakan kunjungan ke taman budaya aborigin Tjapukai di Cairns, Australia. Philip bertanya kepada pendiri taman bernama William Brims "apakah kalian masih saling melempar tombak?" Brims menjawab "tidak, kita tidak melakukannya lagi".

Pada 9 April 2005, Charles menikah dengan kekasih lamanya, Camilla Parker Bowles di kapel St George, kastil Windsor. Beberapa bulan kemudian, Philip dan ratu menghadiri acara wisuda pangeran William yang bebarengan dengan Catherine Middleton (saat itu sudah menjalin kasih dengan pangeran William).

Tahun 2008, Peter Philipps menikah dengan Autumn Kelly. Tahun 2010, cicit pertama Philip dan ratu lahir diberi nama Savannah Philipps. 

Pada 29 April 2011, pangeran William menikah dengan Catherine Middleton di gereja Westminster Abbey. Pada Juli 2011, giliran Zara menikah dengan Mike Tindall. 

Di tahun-tahun ini, Philip dan ratu berbahagia dikaruniai banyak cicit yang sehat. Tahun 2012, cicit kedua Philip dan ratu lahir yang diberi nama Lena Elizabeth Tindall. Masih di tahun yang sama, cicit ketiga lahir diberi nama Isla Philipps. Tahun 2013, lahir cicit istimewa yang digadang akan menjadi raja Inggris kelak. Dia adalah pangeran George. Tahun 2014, lahir cicit kelima yaitu Mia Grace Tindall. Tahun 2015, lahir adik pangeran George yang diberi nama putri Charlotte. Maret 2018, cicit ketujuh lahir yaitu pangeran Louis. 

Pada Mei 2018, pangeran Harry menikah dengan Meghan Markle, janda cerai tanpa anak yang berprofesi sebagai artis Hollywood. Pernikahan dilangsungkan di kapel St George, kastil Windsor. Pada Mei 2019, Philip dan ratu dikaruniai cicit kedelapan yaitu Archie Mountbatten-Windsor. Meskipun tidak menghadiri acara pembaptisan, namun Philip dan ratu menyempatkan berfoto bersama bayi Archie, pangeran Harry, Meghan Markle dan ibunda Meghan. Philip dan ratu menghadapi permasalahan keluarga. Dimulai dari pangeran Andrew yang mundur dari tugas kerajaan setelah wawancara kontroversinya mengenai Jeffry Eipstein. Kemudian disusul oleh keputusan pangeran Harry dan Meghan Markle yang mundur dari tugas kerajaan. Berikutnya pernikahan sang cucu tertua yaitu Peter Philipps yang berakhir namun belum resmi bercerai. Pada Juli 2020, putri Beatrice melangsungkan pernikahan dengan Edoardo secara privat. Ini adalah pernikahan terakhir yang dihadiri oleh pangeran Philip. Seperti keluarga lain saat menjalani lockdown, Philip dan ratu juga bertatap muka di internet. Pangeran Harry menyebut alih-alih memencet "ending", sang kakek langsung menutup monitor laptopnya.

Pada Februari 2021, pangeran Philip dilarikan ke rumah sakit King Edward VII setelah mengeluh tak enak badan. Kemudian ia ditransfer ke rumah sakit Bartholomew di London untuk menjalani operasi perbaikan jantung dan kembali lagi ke rumah sakit semula untuk pemulihan. Pangeran Charles sempat datang menjenguk. Philip dirawat selama 28 hari sebelum akhirnya pulang ke kastil Windsor untuk pemulihan di rumah. Ratu Elizabeth II disebut gembira mendengar Philip sudah bisa keluar rumah sakit. Namun Philip yang tampak sangat rapuh. Sejak pandemi berlangsung, ratu dan Philip memilih tinggal di kastil Windsor. Pada masa ini, Philip dan ratu masih berbahagia dikaruniai dua orang cicit lagi. Putri Eugenie dikaruniai seorang anak laki-laki dan Zara Tindall juga dikaruniai seorang anak laki-laki. Baik Eugenie maupun Zara menyematkan nama "Philip" untuk menghormati sang kakek yang masih pemulihan. 

Pada hari-hari terakhir, Philip disebut sudah kesulitan berjalan. Namun ia menolak saat pegawainya membawakan kursi roda. Ia juga menolak menggunakan alat bantu pendengaran. Ratu mengatakan "itu artinya kita harus berteriak". Ia masih aktif membaca dan menulis surat. Sesekali ia di luar untuk berjemur sementara kakinya ditutup selimut. Selera makan Philip sudah menurun drastis. Ia wafat pada 9 April 2021, hanya dua bulan sebelum berulang tahun ke-100. 

Kembali ke abad 19, pangeran Albert juga wafat di kastil Windsor akibat sakit. Baik Albert maupun Philip, keduanya memiliki istri ratu Inggris. Ibunda Albert maupun ibunda Philip sama-sama memiliki pernikahan yang tidak ideal. Perbedaannya adalah, pangeran Albert hanya hidup sampai usia 42, separuh kurang dari usia pangeran Philip. Saya sudah mengisahkan hidup pangeran Albert di blog ini. 

Tuesday, February 16, 2021

Mengambil Barang-Barang dari Kamar Hotel

Ada cuplikan video tentang keluarga turis mengambil barang-barang dari kamar hotel di Bali. Keluarga turis ini diberhentikan sebelum pergi dengan mobil van. Saat digeledah oleh beberapa petugas hotel, ditemukan beberapa barang hotel. Turis laki-laki menyela sambil mengatakan mereka siap membayar. Namun petugas membalas "aku tahu kau punya banyak uang, tapi ini tidak hormat" Kejadian ini sebenarnya tidak mengejutkan saya dan bahkan mengingatkan saya pada sebuah keluarga asal Semarang. 

Sebuah keluarga asal Semarang terdiri dari bapak, ibu dan tiga anak laki-laki. Keluarga asal Semarang ini bukanlah keluarga kaya-raya namun gemar menginap di hotel-hotel yang berkelas di Surabaya dan Jakarta. Tak jadi masalah, siapapun berhak menentukan apa yang mereka mau. Lantas masalah ada di mana? Kembali ke cuplikan video tadi. Serupa tapi tak sama. Setiap kali menginap, mereka mengambil barang-barang dari kamar hotel. Semua handuk yang diberikan dibawa pulang. Ah, mungkin mereka tidak memiliki handuk sama sekali di rumah. Kemudian semua sarung bantal dilucuti untuk dibawa pergi. Berpikir positif saja, mungkin sarung bantal di rumah mereka sudah usang. Sprei putih dan selimut juga tak lupa diambil. Ingat, mungkin mereka kedinginan di rumah. Di kesempatan lain, mereka tidak melucuti sarung bantal lagi sebab bantal tersebut dibawa pergi. Wow, mereka benar-benar punya niat sekali.

Suatu hari mereka menginap di JW Marriot Surabaya. Di meja samping ranjang terdapat sebuah jam yang tampak anggun bercat emas. Jam itu tidak dapat dipindah sebab di dasarnya terdapat paku spiral yang menempel di meja. Heran bin ajaib, jam meja itu bisa dibawa pulang oleh keluarga Semarang ini. Si anak sulung mengatakan "jika kita menginap dan sudah membayar, maka barang-barang di hotel itu berhak kita bawa pulang" Tapi mereka juga terlalu pandai untuk membawa barang-barang yang berukuran jumbo dan berat seperti televisi atau sofa.

Setahu saya menginap di hotel berkelas itu diharuskan meninggalkan data kartu kredit si penginap. Apabila terjadi kehilangan atau kerusakan, pihak hotel berhak meminta ganti rugi dengan cara mendebit kartu si penginap. Dahulu, hotel-hotel berkelas di Surabaya tidak mengharuskan cara ini. Ini menjadi kesempatan bagi yang  penginap "berkarakter" seperti mereka.