Saturday, July 11, 2020

Kisah Cinta Pangeran Raksasa dan Putri Mungil, Bagian 2

Pada November 1894 Nicky telah menjadi seorang kaisar Russia, Nicholas II. Ia juga telah menikah dengan Alexandra. Akan tetapi Minnie tetap mempertahankan posisinya sebagai wanita nomer satu di kerajaan. Dalam acara negara, Minnie akan berjalan di samping sang putra. Sementara Alix berjalan di belakang mereka. Setahun setelah menikah, Nicky dan Alix dikaruniai seorang putri bernama Olga. Tahun-tahun berikutnya, mereka akan dikaruniai empat orang anak lagi yaitu Tatiana, Maria, Anastasia dan Alexei. Tanggal 29 September 1898, ibunda Minnie wafat di usia 81 tahun. 

Pada 10 Juli 1899, putra ketiga Minnie yaitu George wafat di usia 28 tahun akibat tuberkulosis saat berada di Georgia. George memang sudah lama menderita TBC dan oleh dokter ia disarankan untuk tinggal di daerah yang beriklim hangat. Namun saat ia mengendarai motor seorang diri, ia terjatuh. Seorang wanita melihat George terkapar dengan mulut mengeluarkan darah dan nafas terengah-engah. Ia memegang George yang sekarat sampai menghembuskan nafas terakhir. Pegawai George menyadari bahwa sang tuan tidak kembali dalam waktu lama berusaha mencari, namun sang tuan sudah meninggal dunia. Ratu Victoria mengirim telegram ungkapan duka cita dan dibalas oleh Minnie. Sepanjang prosesi pemakaman, Minnie yang digandeng oleh putrinya, Xenia tampak tabah. Namun begitu peti George hendak diturunkan, Minnie tiba-tiba menatap Xenia dengan mata terbuka lebar "Ayo pulang, ayo pulang! Aku sudah tidak tahan lagi". Minnie bergegas menuju kereta kuda. Di dalam, Minnie menangis sambil memeluk topi George yang ia ambil dari atas peti jenazah. 


Group photograph, Denmark, 1899-1900
Reuni Di Copenhagen, Denmark tahun 1899
Duduk, Kiri ke Kanan : Axel Denmark, Viggo Denmark, Andrei Russia, Irina Russia, Margarete Denmark, Olga Russia, Tatiana Russia, Erik Denmark, Aage Denmark
Berdiri di barisan pertama, kiri ke kanan : Putri Inggris Victoria, Alexandrine istri Christian menggendong bayi Frederick, raja Denmark Christian IX, Alexandra, Dagmar, Marie istri Valdemar Denmark, Alexandra istri kaisar Nicholas II Russia.
Berdiri di barisan kedua : pangeran Denmark Christian, raja Yunani George I, Kaisar Russia Nicholas II.
Berdiri di barisan belakang : Pangeran Yunani Nicholas, Pangeran Glucksburg John, Pangeran Denmark Valdemar.

Pada 9 Agustus 1901, putri terkecil Minnie yaitu Olga menikah dengan adipati Oldenburg Peter Alexandrovich. Pernikahan itu tidak menguntungkan buat Olga sebab Peter hanya menginginkan teman hidup, bukan seorang istri. Akibatnya Olga tidak memiliki anak. Rumor tentang Peter seorang homoseksual berhembus kencang. Olga telah meminta ijin sang suami untuk bercerai dan menikah dengan Nikolai Kulikovsky, seorang pria dari kalangan biasa, namun tidak diijinkan oleh Peter. Namun Peter mengijinkan Nikolai untuk menjadi pengawal pribadi Olga, dan itu berlangsung selama 13 tahun sebelum akhirnya Olga dan Peter berpisah. Selain Peter, Olga juga meminta ijin kepada kakak sulungnya, kaisar Nicholas II untuk bercerai. Namun Nicky menolak dengan alasan agama hanya memperbolehkan menikah sekali dan sebagai anggota kerajaan harus mencari istri dari kalangan kerajaan. 


Pada 1903, Minnie dan kelima saudaranya berkumpul di Denmark untuk berfoto bersama ayahnya. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 29 Januari 1906, ayah Minnie, Christian IX wafat di usia 87 tahun saat tidur siang. Saat itu Minnie sedang berada di Denmark, ia sempat melihat ayahnya menyambut masyarakat Denmark di pagi hari seperti biasa. Siangnya Minnie menengok ayahanda di kamar dan ternyata sudah tidak bernyawa lagi. Kakak sulung Minnie menjadi raja Frederick VIII. Pada 1909, Minnie datang lagi ke Denmark menjenguk adik iparnya, putri Marie yang sakit radang otak parah. Minnie merasa kasihan melihat Marie yang tampak linglung namun memaksa diri untuk ikut berburu. Seminggu kemudian, Marie wafat di usia 44 tahun.

Pada 1912, kakak sulung Minnie, Frederick VIII wafat di usia 68 tahun akibat gagal jantung. Pada tahun yang sama tepatnya pada 16 Oktober 1912 di Vienna, Austria, putra terkecil Minnie yang bernama Misha/Michael menikah dengan janda cerai satu anak bernama Natalia Brasova. Minnie dan sang kakak, kaisar Nicholas II mengetahui pernikahan ini dari surat yang dikirim Misha. Minnie & Nicky merasa kecewa sebab Misha digadang-gadang menjadi penerus Nicky. Putra satu-satunya Nicky yaitu Alexei menderita hemofilia. Alexei kerap sakit-sakitan dan divonis tidak akan berusia panjang. Nicky melarang Misha & Natalia kembali ke Russia serta membekukan semua aset Misha di Russia. Misha dan Natalia tinggal di hotel antara Perancis dan Swiss. Kakak Misha yaitu Xenia bersama saudara sepupu mereka, Andrei Vladimirovich menjenguk Misha dan istrinya. 

Pada tahun 1913, kakak Minnie yang merupakan raja Yunani tewas ditembak oleh pria gangguan jiwa di Yunani. Pada 26 Maret 1915 atas permintaan Misha melalui surat, Nicky mengesahkan putra Misha dan Natalia yang bernama George. George kecil diberi gelar count Brasov. Pada tanggal 16 Oktober 1916, pernikahan pertama Olga dibatalkan. Tepat sebulan kemudian, Olga menikah dengan Nikolai Kulikovsky. Setahun kemudian, Olga dikaruniai seorang putra.

Pada Februari 1917, pecah Revolusi Russia yang memaksa putra Minnie, Nicholas II untuk turun tahta pada Maret 1917. Beberapa hari setelah turun tahta, Minnie datang dari Kiev ke Moghilev untuk sarapan bersama Nicky dan kemudian mengobrol hingga sore. Kegiatan itu dilakukan selama tiga hari berturut-turut sebelum Nicholas kembali ke istana Alexander di Tsarskoe Selo. Itu adalah pertemuan terakhir Minnie bersama Nicky. Di Tsarskoe Selo, Nicky sekeluarga menjadi tahanan rumah. Saat Minnie kembali ke Kiev, ia sadar bahwa kota itu sudah berubah. Bersama kedua putri, Xenia dan Olga bersama suami mereka serta anak-anak Xenia, Minnie menuju ke villa Aitodor di Crimea. Setelah menjalani kehidupan bebas beberapa saat di Crimea, Minnie sekeluarga kemudian juga menjadi tahanan rumah. Namun nasib Nicky sekeluarga dan Minnie sekeluarga akan berbeda. Suami Olga yaitu Nikolai adalah pria dari kalangan biasa sehingga ia diperlakukan lebih bebas oleh Bolsheviks. Nikolai menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan makanan dan kabar dari luar. Minnie kemudian menerima surat dari putra terkecilnya, Michael yang memberitahu pertemuan sang putra dengan sang kakak, Nicky sekeluarga sebelum mereka dibawa ke Tobolsk. Pada musim gugur 1917, Nicky mengirim surat untuk Minnie dan menerima balasan dari sang ibunda pada akhir 1917. Itu adalah surat menyurat terakhir antara Nicky dan ibunya. 

Setelah dua surat terakhir dari kedua anak laki-lakinya, Minnie tidak pernah tahu lagi kabar Michael. Tanpa sepengetahuan Minnie, Michael, asistennya bernama Nicholas Johnson dan dua asisten laki-laki lain dibawa ke kota Perm. Pada 13 Juni 1918, Michael dan Nicholas Johnson tewas ditembak. Jasad Michael dan Johnson belum pernah ditemukan hingga kisah ini dibuat. Sebulan kemudian, tepatnya tanggal 17 Juli 1918, Nicky sekeluarga tewas dieksekusi di Ekaterinburg. Minnie diberitahu perihal ini, namun ia menolak untuk percaya :"tidak ada yang melihat Nicky dibunuh. Itu adalah rekayasa Bolsheviks sebab Nicky sebenarnya sudah berhasil lolos dari Russia". Sehari kemudian, adik ipar Minnie yaitu Ella bersama rekan kesusteran Varvara, pangeran John bersama dua adiknya yaitu Igor dan Konstantin, dan sepupu Sasha yaitu Sergei Konstantinovich dan sekretarisnya Fyodor Remez dibunuh dengan cara sangat keji. Keji karena mereka tidak langsung tewas ditembak, melainkan dilempar ke tambang sedalam 20 meter setelah dipukuli dibagian belakang kepala. Fyodor yang kritis, masih mampu merangkak ke ruang mesin. Di sana jasadnya ditemukan.

Ratu Rumania Marie yang akrab disapa Missy mengirim surat permohonan kepada Xenia memohon agar mereka secepatnya angkat kaki dari Russia selagi masih ada kesempatan. Tentara Jerman sudah mulai meninggalkan Crimea dan sanak saudara khawatir jika tentara merah Bolsheviks mengambil kesempatan untuk mendatangi Crimea. Missy adalah saudara sepupu Xenia (ibu Missy, Adipatni Russia Maria Alexandrovna adalah adik kandung Sasha). Missy juga mengirim utusannya yaitu Kolonel Joseph Whiteside Boyle mendatangi Xenia sekeluarga. Missy meminta agar Xenia sekeluarga menaruh kepercayaan penuh kepada Boyle. Tanggal 24 November 1918, Boyle datang bersama 200 pasukan bersenjata, bantuan dan sebuah mobil ke Crimea untuk membawa Minnie dan Xenia sekeluarga dengan kapal, namun Minnie menolak. Minnie merasa sudah menjadi kewajibannya untuk tetap tinggal di Russia sehingga baginya tidak perlu untuk pergi. Suami Xenia, Alexander alias Sandro marah kepada Xenia. Tepat hari natal 1918, Sandro memutuskan untuk meninggalkan Crimea menuju ke Italy. Ia hendak mendatangi beberapa kepala negara sahabat di Eropa untuk meminta dukungan terhadap tentara putih Russia (Tentara Putih adalah tentara pro kerajaan Russia, mereka mati-matian melawan Tentara Merah). Sehari kemudian, Sandro berangkat naik kapal HMS Forsythe. Sandro ditemani oleh putra tertua Andrei dan menantunya, Elisabeta. Tanggal 17 Januari 1919, Sandro mengirim telegram, ia meminta Xenia sekeluarga selekasnya pergi. Sandro kemudian tiba di Perancis pada akhir Januari 1919. 

Missy mengirim surat lagi menyebut bahwa ia sekeluarga di Rumania merasa sangat cemas. Ia berharap agar Xenia sekeluarga mendengarkan permintaan Boyle untuk meninggalkan Crimea secepatnya. Upaya Missy tidak berhasil membujuk Minnie untuk meninggalkan Crimea. Kini giliran keponakan Minnie yaitu raja Inggris George V yang mengirim utusan bernama Komandan Turle ke Crimea. Sama halnya Boyle, Turle hendak membawa Minnie sekeluarga ke Konstantinopel dengan kapal perang, Minnie menolak sambil tertawa. Entah saat itu Minnie menyadari tidak bahwa Tentara Merah Bolsheviks sudah bergerak menuju Crimea.

Pada pagi yang dingin dan berkabut tanggal 4 April 1919, kapal perang Inggris HMS Marlborough berlayar dari Konstantinopel menuju ke kota Sevastopol di Semenanjung Crimea. Kapten kapal bernama Charles Johnson diberi kepercayaan membawa surat ibu ratu Inggris, Alexandra untuk disampaikan kepada adiknya, Minnie. Sama seperti keinginan Missy, Alexandra menginginkan Minnie segera keluar dari Russia sebelum terlambat untuk menyelamatkan diri dari fraksi Bolsheviks. Bolsheviks adalah fraksi pecahan dari Partai Sosial Demokrat Russia yang muncul dalam konferensi di Brussel, Belgia pada 1903. Fraksi Bolsheviks berisikan orang-orang garis keras yang berpendapat bahwa perubahan harus dimenangkan dengan senjata. Pemimpin Bolsheviks adalah Vladimir Lenin. Kapten Charles Johnson juga membawa surat perlindungan politik bagi Minnie, Xenia dan semua anak laki-lakinya yang masih ada di Crimea. Minnie pun menyerah.

Kapal HMS Marlborough yang dikirim raja Inggris George V telah tiba di kota Sevastopol dan siap membawa Minnie untuk kemudian dibawa ke Malta dan Inggris. Dari kota Sevastopol, kapten Johnson memakai jalan darat untuk menemui Minnie di kota Yalta. Sekembalinya ke Sevastopol, ia langsung memerintahkan agar HMS Marlborough diarahkan ke Yalta dan tiba di hari yang sama pada 7 April 1919. Yalta merupakan kota wisata yang dikelilingi oleh Laut Hitam. Minnie berat hati harus meninggalkan Russia, negara yang telah ia diami selama lebih dari 50 tahun. Namun Minnie menginginkan satu hal sebelum ia berangkat. Orang-orang di Yalta yang setia kepada keluarga kerajaan Russia dan menginginkan pergi, harus dibawa serta. Informasi : jarak dari Crimea menuju Yalta adalah 2,5 jam menggunakan transportasi darat.

 Sementara Olga bersama Nikolai Kulikovsky dan putranya, Tikhon pergi ke Kaukasus yang baru saja dikuasai oleh tentara putih. Di sana pada tahun 1919, Olga dan Nikolai dikaruniai putra kedua yang diberi nama Guri. Olga sekeluarga pindah lagi ke Novorossiysk, di rumah konsulat Denmark bernama Thomas Schytte sebab Kaukasus dikuasai lagi oleh Tentara Merah Bolsheviks. Thomas memberitahu Olga bahwa Minnie telah tiba di Denmark dalam kondisi selamat. Olga akan pindah lagi ke Buyukada, Turki, kemudian pindah lagi ke Belgrade, Yugoslavia. Pewaris tahta Yugoslavia, Alexander menawarkan Olga sekeluarga tempat tinggal tetap. Namun Minnie mengajak Olga untuk tinggal bersama di Hvdore, Denmark. Maka Olga sekeluarga berangkat ke Denmark. Setelah Minnie wafat pada tahun 1928, Olga akan berpindah-pindah lagi hingga akhirnya menuju ke Toronto, Kanada. Olga tinggal di ruko lantai dua hingga meninggal pada tahun 1960.

Setiba di Inggris, Minnie, Xenia dan keenam anak Xenia menetap sementara di Inggris. Namun kemudian, hanya Xenia yang akan menetap di Inggris sampai akhir hayat. Minnie memutuskan pindah ke Denmark dan sementara tinggal bersama sang keponakan, raja Christian X. Setelahnya, Minnie pindah ke villa Hvdore yang sudah ia beli patungan bersama Alexandra beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 1925, Alexandra wafat di usia 81 tahun. Tiga tahun kemudian, Minnie wafat di usia 80 tahun di villa Hvdore dan dimakamkan di mausoleum kerajaan Denmark. Minnie sangat berharap ia bisa dimakamkan di sisi Sasha. Namun kondisi politik kala itu tidak memungkinkan. Baru pada tahun 2005, tercapai kesepakatan antara ratu Denmark, Margarethe (cicit keponakan Minnie) dengan presiden Russia Vladimir Putin bersama pemerintah masing-masing. Jasad Minnie pada akhirnya bisa berdampingan dengan Sasha lagi pada tahun 2006.


Peter and Paul Cathedral, St. Petersburg, Russia | Peter and paul ...
Kiri Makam Alexander III alias Sasha dan Kanan Makam Maria Feodorovna Alias Minnie



Friday, July 10, 2020

Kisah Cinta Pangeran Raksasa dan Putri Mungil, Bagian 1

Pada 26 November 1847 di Istana Kuning, Copenhagen, Denmark lahirlah seorang bayi perempuan melengkapi kebahagiaan pasangan Christian dan Louisa. Tentu juga kebahagiaan ketiga kakak kandungnya yaitu Frederick, Alexandra dan William. Ia diberi nama Dagmar namun di lingkungan keluarga, ia akrab disapa Minnie. Keluarga Minnie bertambah dengan kelahiran dua adik yaitu Thyra dan Valdemar. Minnie dan kelima saudaranya tumbuh dalam keluarga yang hangat dan bahagia meskipun kedua orang tua mereka tidak kaya. Louisa mengajarkan ketiga anak perempuannya untuk menjahit pakaian mereka. Christian rutin memanggil Hans Christian Andersen untuk membacakan cerita di depan Minnie dan saudaranya. 

Dua tahun sebelumnya, Alexander lahir pada 10 Maret 1845 sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara. Ia akrab disapa Sasha. Ayah Sasha adalah kaisar Russia Alexander II dan ibunya adalah Marie, putri Hesse. Kakak sulung Sasha yang bernama Alexandra wafat di usia 3 tahun. Ia masih punya kakak laki-laki yang konon pandai membuat puisi, yaitu Nicholas. Ibunda Sasha memiliki penyakit tuberkulosis yang melemahkan tubuhnya. Oleh karenanya dokter melarang ibunda Sasha berhubungan intim dengan ayahnya. Sejak itu, ayah Sasha menjalin hubungan dengan beberapa wanita. Salah satunya adalah asisten wanita bernama Catherine Dolgoruky hingga dikaruniai empat orang anak. Meski Sasha tidak pernah berdebat dengan ayahnya tentang ini, namun kondisi demikian membuatnya menjadi pria dengan moral yang tinggi. 

Pada Maret 1863, Minnie bersama keluarganya menemani Alexandra ke Inggris. Sang kakak tercinta dipersunting oleh Albert Edward, pangeran Inggris. Setahun kemudian, Minnie bertunangan dengan Nicholas alias Nixa. Nicholas merupakan pangeran pewaris tahta kerajaan Russia. Sambil menunggu hari pernikahan, Minnie dan Nixa saling berkirim surat setiap hari. Namun tiba-tiba surat dari Nixa tak datang lagi. Minnie merasa tak enak hati. Ia berspekulasi bahwa Nixa jatuh cinta dengan wanita lain. Ternyata Nixa terkena radang otak hingga lumpuh. Kaisar Alexander datang dari Russia bersama Minnie untuk melihat Nixa terakhir kali. Sesampai di Perancis, raja Perancis Napoleon III bergabung dan memerintahkan agar kereta dipacu tiga kali lebih cepat dari biasa. Saat harapan sembuh sudah tidak ada, Nixa berharap agar adiknya yaitu Alexander untuk mempersunting Dagmar. Nixa wafat pada 24 April 1865 di usia 21 tahun. Ayah Nixa, kaisar Alexander II mengirim surat untuk menghibur Minnie yang patah hati. Ia berharap Minnie masih menganggap dirinya bagian dari keluarga kerajaan Russia. Sementara di sisi lain, Sasha jatuh cinta dengan asisten wanita ibunya, putri Maria Elimovna alias Dusenka. Saking cintanya, Sasha bahkan siap melepas hak tahtanya asal bisa menikahi Dusenka. 

Tanggal 19 Mei 1866, kaisar Alexander II memberitahu Sasha bahwa ia sudah berjanji kepada orang tua Minnie (agar Sasha menikahi Minnie). Namun Sasha menolak sebab ia tidak mencintai Minnie. Ayah Sasha marah dan memberi perintah agar Sasha datang ke Copenhagen, Denmark untuk melamar Minnie. Sasha tersadar bahwa ia bukanlah pria yang bebas bisa melakukan apa saja. Ia harus mengutamakan tugas dan kewajiban. Sasha mengucapkan selamat tinggal kepada Dusenka. Dusenka dan tantenya dikirim keluar Russia untuk tinggal di Paris. Setahun kemudian, Dusenka menikah dengan pria Russia bernama Pavel. Namun Dusenka meninggal saat baru melahirkan anak mereka, Elim.

Pada Juni 1866, Sasha datang ke Copenhagen untuk melamar Minnie. Tiga bulan kemudian, Minnie siap meninggalkan kota kelahirannya untuk menuju ke Russia. Saat hendak ke kapal, Minnie berpapasan dengan Hans Christian Andersen yang menangis. Minnie menggenggam tangan Hans. Hans tahu betul bahwa istana di Santo Petersburg sangat mewah dan kedua calon mertua Minnie sangat baik. Namun tetap saja negara Russia masih asing bagi Minnie sebab penduduk dan agama di Russia berbeda. Terlebih lagi Minnie masih belum memiliki seorang pun teman di Russia. Minnie meninggalkan Denmark dengan hati yang sedih sebab kedua orang tuanya hanya mengantar sampai di pelabuhan. Orang tua Minnie tidak mampu menghadiri pernikahan Minnie di Russia sebab mereka merasa tidak memiliki kekayaan seperti keluarga kerajaan Russia.

Kapal yang membawa Minnie berlabuh di kota Cronstadt,  Minie disambut hangat oleh Adipati Agung Konstantin Nikolaevich (kakek buyut pangeran Philip, Adipati Edinburgh). Minnie diantar ke kota Santo Petersburg untuk bertemu calon ibu mertuanya, Marie. Minnie segera berpindah keyakinan mengikuti sang calon suami, Ortodoks Russia. Ia juga mengambil nama Russia sebagai Maria Feodorovna. Pernikahan dilangsungkan secara megah pada 9 November 1866 di kapel kerajaan di Istana Musim Dingin, Santo Petersburg. Orang tua Minnie diwakili oleh kakak kandung Minnie yaitu Frederick dan kakak ipar Minnie yaitu pangeran Albert Edward alias Bertie. Alexandra tidak dapat hadir sebab sedang hamil.
Tsar Alexander III and Tsarina Maria Feodorovna | Maria feodorovna ...
Alexander/Sasha dan Dagmar/Minnie
Picture Courtesy of a Website

Di malam pertama, Alexander menggambarkan di buku hariannya :"Aku melepas sandalku dan jubah brodir perakku dan merasakan tubuh sayangku di sebelahku. Apa yang aku rasakan berikutnya tak ingin aku gambarkan di sini. Setelahnya, kita mengobrol sangat lama". Pasangan Sasha dan Minnie seperti dongeng Disney berjudul Beauty and The Beast. Sasha yang tingginya mencapai 191 cm, berwajah pas-pasan dan bertubuh besar jatuh cinta pada putri mungil nan cantik, Minnie. Namun mereka beruntung menikmati pernikahan yang cukup bahagia. Sasha selalu menemani Minnie di manapun dan kapanpun. Pernah suatu saat Minnie pulang kampung tanpa ditemani Sasha. Sasha disebut duduk sedih seorang diri di kamar. Setelah menikah, mereka akan tinggal di istana Anichkov di Santo Petersburg selama 15 tahun.  Masih pengantin baru yang hangat, Minnie dan Sasha pergi ke Denmark. Minnie dalam kondisi hamil sangat muda. Ia kemudian keguguran akibat berkuda. Saat Minnie hamil lagi, ia mengalami mual seperti kebanyakan ibu hamil di dunia. Dokternya menyarankan agar setiap pagi makan ham mentah di ranjang. Saat hamil besar, Minnie mengeluh pada ibunya sebab ia merasa gendut dan mengerikan.

Pada 18 Mei 1868, ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Nicholas untuk mengenang Nixa. Saat proses melahirkan, Sasha dan kedua orang tua Sasha hadir. Satu tangan Minnie dipegang oleh Sasha, satu lagi dipegang oleh kaisar Alexander II. Sementara ia mengejan, ia rutin dicium oleh Marie. Meskipun ini adalah bentuk kasih sayang, namun Minnie merasa gamang. Tahun-tahun berikutnya, Sasha dan Minnie akan dikaruniai lima orang anak lagi. Mereka adalah Alexander yang wafat di usia 1 tahun, George, Xenia, Olga dan Michael. Kelima anak Minnie dan Sasha dalam kehidupan yang bahagia dan hangat. Sasha kerap bermain bersama anak-anaknya. Hampir tiap tahun, Sasha dan Minnie mengajak kelima anak mereka pergi ke Denmark. Mereka juga rutin mengunjungi keluarga Alexandra di Inggris. Sasha menyertakan seratus orang pegawai untuk menemani perjalanan mereka. Ia juga membawa seekor sapi di atas kapal sehingga kelima anak mereka bisa mendapatkan susu segar setiap hari. Terhadap Christian IX dan Louisa, kelima anak Minnie memanggil dengan Apappa dan Amamma. 


Maria and Alexander III with their children. Via Velkoknezna Maria ...
Duduk : Kaisar Alexander III Mendekap Olga, George
Berdiri : Michael, Minnie, Nicky, Xenia


Ibunda Sasha meninggal pada 3 Juni 1880 di usia relatif muda yaitu 55 tahun. Pada 18 Juli 1880, ayah Sasha menikahi Catherine secara diam-diam dan melegalkan tiga anak mereka yang masih hidup, George, Olga dan Catherine. Namun baru delapan bulan menikmati pernikahan legal bersama selirnya, Alexander mengalami kejadian tragis. Pada 13 Maret 1881, Catherine meminta ayah Sasha untuk tidak pergi sebab ia memiliki firasat kuat akan terjadi sesuatu. Namun sang kaisar malah mengajak Catherine berhubungan intim di atas meja di dalam kamar Catherine. Setelah itu, sang kaisar pergi. Benar saja, beberapa jam kemudian sang kaisar dibawa kembali ke Istana Musim Dingin dalam kondisi terluka parah. Kaisar Alexander baru terkena serangan bom. Selain dirinya, sekitar 20 orang di sekitarnya juga menjadi korban luka. 

Minnie yang sedang bermain skating es dipanggil datang. Ia berdiri di sebelah Sasha. Sambil mendekap sepatu esnya, ia sangat kaget melihat ayah mertuanya dalam kondisi parah. Satu matanya terkatup, satu matanya terbuka namun tidak bereaksi. Satu kakinya hancur, sementara kaki yang lain terdapat luka menganga lebar. Darah mengucur sangat deras dari kedua kakinya. Tiga dokter yang menangani tidak dapat berbuat apapun. Putra sulung Minnie dan Sasha yang masih berusia 13 tahun terpana melihat kondisi sang kakek yang sekarat. Catherine datang sambil menangis dan memanggil nama sang suami. Gaun panjangnya terbasuh oleh darah yang menggenang. 

 Di upacara pemakaman, Catherine Dulgoruky dan ketiga anaknya diwajibkan menunggu di pintu masuk dan tidak diperbolehkan bergabung dengan keluarga mendiang kaisar di dalam gereja. Setelah semua urusan pemakaman selesai, Catherine mendapat uang pensiun yang cukup besar di masa itu. Ia tidak lagi diperbolehkan tinggal di Istana Musim Dingin. Namun Sasha memperbolehkan Catherine tinggal sementara sebelum meninggalkan istana. Catherine bersama ketiga anaknya kemudian menetap di Perancis. Membawa Minnie dan seluruh anaknya pindah ke istana Gatchina yang berlokasi sekitar 30 km dari Santo Petersburg. Meskipun istana Gatchina memiliki 900 kamar dan megah, namun Sasha memilih tinggal di bangunan bekas tempat tinggal pegawai yang memiliki atap rendah. Di dalam, Sasha berlatih memainkan banyak alat musik. Di luar, Sasha sekeluarga dijaga ketat oleh polisi. Meski begitu, Sasha sesekali mengajak dua anaknya termuda yaitu Michael dan Olga pergi mendaki di hutan Gatchina. Setelah dua tahun menjadi kaisar, akhirnya Sasha menjalani upacara naik tahta di Kremlin. Sesaat, Sasha melepas mahkotanya dan menaruhnya di kepala Minnie, menandai Minnie telah menjadi seorang permaisuri. Minnie mendekap Sasha dan saling mencium.

Sebagai seorang kaisar, Sasha sangat mendukung perdamaian dunia. Namun bukan berarti ia tidak siap jika sewaktu-waktu Russia harus berperang. Secara politik, Sasha dianggap kaisar dengan pikiran sempit sebab Russia menjadi negara blok. Namun di mata kelima anaknya, Sasha adalah ayah yang amat sangat menyenangkan. Saat mereka reuni keluarga di Denmark pada tahun 1883, Sasha bersama anak-anaknya asyik mencari kodok di rawa berlumpur. Sasha bahkan iseng mencuri apel di kebun ayah mertuanya, raja Christian IX. Pada reuni ini, keluarga Sasha dan Minnie bertemu dengan keluarga Alexandra dan Albert Edward alias Bertie dari Inggris, keluarga raja George I dari Yunani. Tentu juga keluarga pewaris tahta Frederick, Thyra dari Austria dan juga Valdemar.

Tahun 1884, adik Sasha yang bernama Sergei menikah dengan Elisabeth, Putri Hesse alias Ella. Ella adalah cucu ratu Victoria melalui ibunya, Alice putri Inggris. Sergei menikah saat sudah menjadi yatim piatu, sementara Ella sudah menjadi piatu sejak tahun 1878. Pernikahan adik Sasha ini berjalan bahagia namun tidak dikaruniai anak.

Pada hari Paskah tahun 1885, Sasha meminta desainer Peter Carl Faberge untuk membuat telur paskah unik sebagai hadiah paskah kepada sang istri tercinta, Minnie. Telur yang kemudian dikenal sebagai Telur Faberge itu terbuat dari bahan emas, enamel, berlian, mirah delima dan opak. Meskipun keluarga kerajaan hidup di bawah ancaman pembunuhan setiap saat, namun Sasha ingin Minnie tetap bahagia dan tidak banyak pikiran. Minnie sangat bahagia dengan kado Sasha. Sejak itu, hampir tiap tahun Sasha memberi kado telur Faberge dengan desain berbeda-beda. Saat bertemu dan makan bersama keluarga di Denmark, Minnie menempatkan telur faberge di sisi setiap piring saji sebagai kado kecil.

Pada 16 Juli 1886, Sasha mengeluarkan peraturan baru bahwa anak-anak yang lahir bukan dari keturunan kaisar akan memperoleh gelar "pangeran" dan "putri", dengan panggilan "Yang Mulia". Peraturan ini mengganti peraturan lama yang telah dimulai sejak tahun 1797 berisikan semua anak-anak kerajaan Romanov mendapatkan gelar Adipati dan Adipatni, dengan panggilan "Yang Mulia Agung". Anggota kerajaan pertama yang terdampak peraturan baru adalah pangeran John Konstantinovich yang lahir pada 5 Juli 1886. Pada 1887 polisi menahan beberapa mahasiswa yang berencana melempar bom ke arah keluarga kerajaan. Mereka kemudian dihukum gantung mati. Salah satu yang digantung adalah pria berusia 21 tahun bernama Alexander Ilyich Ulyanov. Adiknya yang dikenal dengan nama Vladimir Lenin akan membalas dendam 30 tahun setelah sang kakak tewas.

Pada 29 Oktober 1888, Sasha bersama Minnie dan kelima anak mereka sedang dalam perjalanan menggunakan kereta api di desa Borki, Ukraina. Tiba-tiba kereta yang mereka tumpangi keluar dari jalur sehingga gerbong kereta terbalik dua kali. Saat mengerikan itu, Sasha sekeluarga berada di gerbong makan. Atap gerbong runtuh. Olga yang kala itu masih berusia 6 tahun terlempar keluar namun selamat tanpa luka sedikitpun. George dan Xenia tergores pecahan gelas kaca. Kaki Sasha terjepit. Ternyata saat itu Sasha mengalami benturan keras di bagian pinggang yang berakibat di fungsi ginjal Sasha kelak. Sebanyak 21 penumpang lain tewas. Tak jelas apa penyebab kecelakaan itu, apakah kereta melaju terlalu cepat atau upaya pembunuhan kepada keluarga kerajaan. Dua bulan kemudian, Xenia sakit demam tifoid. Rambutnya rontok sehingga harus dipotong pendek.

Tahun 1889, adik bungsu Sasha yang bernama Paul Alexandrovich menikah dengan Alexandra, putri Yunani & Denmark. Alexandra merupakan keponakan Minnie sebab wanita yang akrab disapa Aline itu anak dari kakak laki-lakinya, George I. Keluarga Aline datang ke Russia untuk menghadiri pernikahan mereka di istana Musim Dingin. Aline adalah kakak kandung pangeran Andrew yang menjadi ayah pangeran Philip, Adipati Edinburgh. Pernikahan Paul dan Aline dikaruniai seorang putri. Namun tragedi datang di tahun kedua pernikahan mereka. Saat itu Aline sedang hamil tujuh bulan, melompat ke perahu. Namun ia tergelincir. Keesokan harinya, ia mengalami kontraksi hebat dan melahirkan secara prematur. Enam hari kemudian, Aline wafat. Batin Paul terguncang hebat sehingga ia tak mampu merawat kedua anaknya yang masih bayi. Kedua anak Paul dirawat oleh adik Sasha, Sergei bersama istrinya, Ella.

Pada Agustus 1894, putri tertua Sasha dan Minnie yaitu Xenia hendak menikah dengan Adipati Agung Alexander Mikhailovich . Minnie enggan melepas Xenia dinikahi oleh Alexander. Xenia dan saudaranya kerap bermain dengan Alexander bersaudara sejak kecil, dan lagi Alexander merupakan anggota kerajaan Romanov. Ayah Alexander adalah Michael, adik bungsu kaisar Alexander II. Jadi Alexander merupakan paman dari Xenia. Namun Minnie tahu bahwa Alexander adalah pria yang kasar dan arogan. Ayah Alexander turun tangan demi sang putra. Sasha dan Minnie akhirnya menyetujui pernikahan mereka. Dari pernikahan Xenia, Sasha dan Minnie dikaruniai tujuh cucu. Namun Sasha tidak berkesempatan melihat satupun cucunya.

Awal November 1894, Sasha jatuh sakit akibat gagal ginjal. Perjalanan tahunan ke Denmark tahun itu terpaksa dibatalkan. Putra sulung mereka Nicky diminta membawa Alix mengunjungi Sasha. Untuk menyambut calon menantunya, Sasha minta dipakaikan seragam kebesaran miliknya. Di depan Alix dan Nicky, Sasha memberi restu. Pada 13 November 1894, Sasha menghembuskan nafas terakhir. Minnie sangat sedih namun begitu melihat Sasha tersenyum damai, ia merasa ikhlas melepas kepergian sang suami tercinta. Nicky merasa tak siap menjadi seorang kaisar. Kepada pamannya (yang juga baru menjadi adik ipar), adipati agung Alexander Mikhailovich, Nicky berujar :"Aduh, aku tidak mau jadi kaisar, aku harus berbuat apa ini? Aku bahkan tidak tahu caranya berkomunikasi dengan perdana menteri!". Sebagian menganggap Nicky tidak salah mengeluh demikian sebab ia tidak pernah dilatih untuk dipersiapkan menjadi seorang kaisar.

Kisah Berlanjut Ke Bagian 2


Wednesday, July 8, 2020

Kisah Hidup Putri Kerajaan Yang Menjadi Seorang Biarawati

she was a rare precious jewel on the earth,
and now she is a precious jewel in the happiest palace by God

Elisabeth lahir pada 1 November 1864 sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah Louis, Adipati Agung Hesse dan ibunya adalah Alice, putri Inggris. Maka itu, wanita yang akrab disapa Ella ini cucu dari ratu Inggris Victoria. Ibunda Ella adalah anak ketiga putri kedua ratu Victoria dan pangeran Albert. Ayahanda Ella memiliki wajah tampan. Saat Ella lahir, ayahnya masih menjadi calon pewaris keharyapatihan Hesse. Ayah Ella menjadi Adipati Agung Hesse pada tahun 1877, saat Ella berusia 13 tahun. Ella dan saudaranya menggunakan bahasa Jerman saat bercakap dengan ayah mereka, dan menggunakan bahasa Inggris saat bercakap dengan ibu mereka. Meski keluarga kerajaan, kehidupan sehari-hari mereka terbilang sederhana. Ella dan saudaranya terbiasa membersihkan kamar. 

 Hidup Ella dan keluarganya terbilang penuh kisah dramatis. Adik laki-lakinya yang bernama Frederick/Frits lahir dengan penyakit hemofilia. Frits meninggal di usia 2 tahun setelah terjatuh dari lantai dua rumah mereka. Setelah terjatuh, Frits mengalami pecah pembuluh darah otak. Adik laki-laki tertua Ella yang bernama Ernest mengatakan "aku tidak mau meninggal seorang diri seperti Frits. Kenapa kita tidak bisa meninggal bersama?" (Kelak pada tahun 1937, Ernest meninggal karena sakit. Namun dua bulan kemudian, istri, anak laki-laki sulungnya, menantu dan tiga cucunya tewas dalam kecelakaan pesawat. Insiden tragis ini disusul oleh cucu perempuannya yang meninggal akibat radang otak. Malangnya, Ernest tidak memiliki keturunan sama sekali. ).

Pada awal November 1878, kakak Ella yang bernama Victoria menderita difteria dan cepat menular ke seluruh anggota keluarga. Hanya Ella dan Alice yang tidak tertular. Ella langsung diungsikan ke rumah neneknya (ibunda dari Louis). Dibantu asisten, Alice merawat ayah dan semua saudara Ella tanpa lelah. Namun adik bungsu Ella yang bernama Marie/May tidak bertahan dan meninggal dunia. Alice memakamkan May hanya ditemani oleh asistennya. Alice hanya mengabarkan berita duka ini kepada sang suami yang mulai pulih. Namun anak laki-laki tertua Alice mulai menyadari bahwa May tidak tampak di rumah. Saat ia mengetahui berita duka tentang May, Ernest langsung histeris. Ibunda Ella langsung memeluk dan mencium Ernest agar ia tenang. Alice lupa dengan larangan dokter agar ia tak tertular. Begitu tertular, ibunda Ella sudah tidak memiliki stamina lagi untuk berjuang melawan penyakitnya. Alice sudah sebulan merawat keluarganya. Alice wafat pada 14 Desember 1878 di usia 35 tahun. Hari kematian ibunda Ella tepat 17 tahun perayaan kematian sang kakek, pangeran Albert. Usia Ella baru 14 tahun. Semua mainan Ella dan saudaranya terpaksa dibakar agar tidak membawa virus difteria. 

Sepeninggal sang ibunda, nenek Ella yaitu ratu Victoria sedapat mungkin mengisi kekosongan hidup Ella dan saudaranya. Ella dan saudaranya diajak tinggal di kastil Windsor selama beberapa tahun. Ratu Victoria meminta penjahit membuatkan pakaian untuk Ella dan saudaranya.

Dari seluruh saudarinya, Ella disebut paling cantik, murah senyum dan suka membantu orang lain. Tak heran jika banyak pria yang menaksir Ella! Di antaranya adalah sepupunya sendiri, pangeran Wilhelm (Kaisar Jerman yang kemudian mengabdikan diri dan hidup di pengasingan di Belanda). Wajah Ella mirip dengan Alix tetapi Alix tidak memiliki wajah yang menyenangkan. Tante Ella yaitu Marie, Putri Hesse & Rhine menikah dengan Alexander (kaisar Russia Alexander II) pada tahun 1841. Mereka dikaruniai delapan orang anak. Marie sering pulang kampung ke Hesse membawa dua putranya yang termuda yaitu Sergei dan Paul. Saat dewasa, Sergei berperawakan tinggi dan sangat kurus. Sergei terbiasa memakai korset.  Sergei ingin menikahi Ella namun Ella menolak saat pertama kali dilamar. Baru pada lamaran kedua, Ella menerima. Sebelum Ella dan Sergei menikah, kakak Ella yang bernama Victoria menikah terlebih dahulu. Victoria menikah dengan kakak sepupu Sergei yaitu Louis Battenberg pada 1 Mei 1884. Dari pernikahan Victoria dan Louis, lahir cucu yaitu pangeran Philip, Adipati Edinburgh yang menjadi suami ratu Inggris Elizabeth II. Victoria hadir dalam pernikahan Elizabeth dan Philip pada 20 November 1947 di London, Inggris. Ia juga hadir dalam pembaptisan pangeran Charles pada November 1948. 
Grand Duke Sergei and Grand Duchess Elizabeth | Grand duke ...
Elisabeth & Sergei
Picture Courtesy of a Website


Kemudian Ella dan Sergei menikah pada 15 Juni 1884 di Istana Musim Dingin, Russia. Pernikahan Ella hanya sebulan setelah pernikahan sang kakak, Victoria. Pernikahan mereka cukup mengharukan sebab Sergei sudah menjadi yatim piatu, sementara Ella sudah menjadi piatu. Sergei dan Ella menikah beda agama. Sergei menganut Ortodoks Russia sementara Ella menganut Lutheran (Kristen). Di pernikahan, keponakan Sergei yaitu Nicholas, jatuh hati pada adik kandung Ella yang bernama Alix alias Alicky. Sergei dan Ella mewarisi beberapa rumah dari mendiang ibunda Sergei. Ella kemudian belajar bahasa Russia dari Catherine Schneider. Sayang pernikahan Sergei dan Ella tidak dikaruniai anak. Muncul rumor yang menyebut sebenarnya Sergei adalah penyuka sesama jenis namun ia terdesak oleh ajaran agama dan posisinya sebagai anggota kerajaan. Namun Ella membantah rumor ini. Ia bahkan menyebut bahwa selama pernikahan, ia dan Sergei tidur di satu ranjang. Hal ini tidak biasa dilakukan oleh anggota kerajaan lain.

Tanggal 24 Mei 1888, adik Ella yang bernama Irene menikah dengan sepupu mereka yaitu Henry, pangeran Prussia. Pada 24 September 1891, adik Sergei yang bernama Paul ditinggal wafat istri yang bernama Alexandra, putri Yunani & Denmark akibat komplikasi melahirkan secara prematur. Catatan tambahan : putri Alexandra merupakan tante dari pangeran Philip, Adipati Edinburgh. 
Kematian Alexandra membuat Paul terguncang hebat karena mereka baru dua tahun menikmati indahnya berumah tangga. Kondisi Paul demikian membuat dirinya tak bisa merawat dua anaknya Maria yang masih bayi dan Dmitri yang baru lahir prematur. Sergei dan Ella mengambil alih merawat anak Paul. Setiap hari Sergei menaruh beberapa botol berisi air panas di bawah tempat tidur Dmitri. Pada tahun yang sama yaitu 1891, Ella akhirnya memutuskan untuk pindah ke agama yang dianut oleh sang suami. Tahun 1892, ayah Ella wafat akibat serangan jantung di usia yang terbilang masih muda yaitu 54 tahun. Pada Mei 1894, adik laki-laki Ella satu-satunya yang hidup yaitu Ernest menikah dengan sepupu mereka, Victoria Melita. Pada November 1894, kakak kandung Sergei yang juga kaisar Russia, Alexander III wafat setelah menderita gagal ginjal. Seminggu setelahnya, adik Ella yang bernama Alix menikah dengan kaisar Russia Nicholas II.  Pada tahun 1897, Ella dan Sergei mewakili Russia hadir dalam perayaan Lima Puluh Tahun Tahta Ratu Victoria di Inggris.

Pada 18 Februari 1905, Sergei naik kereta terbuka yang ditarik dua ekor kuda. Seorang anggota Partai Revolusioner Sosialis yang bernama Ivan Kalyayev melempar sebuah bom tepat di pangkuan Sergei. Sergei tewas dalam kondisi tubuh hancur. Beberapa jari tangan Sergei dengan cincin pernikahan masih terpasang, ditemukan di atap bangunan dekat lokasi kejadian. Penarik kereta bernama Andrei Rudinkin terbakar parah dan dalam kondisi setengah sadar. Andrei meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit. Ella dan asistennya langsung menuju ke lokasi kejadian. Ella terhenyak namun ia mampu menguasai diri. Ella memberi instruksi kepada asistennya dan berlutut di salju untuk mengumpulkan potongan tubuh sang suami. Ia mengatakan "Sergei tidak suka suasana berantakan"

Ella kemudian mendatangi Ivan di penjara untuk menanyakan alasan Ivan membunuh Sergei. Ivan menjawab "beberapa kali aku mau melempar bom, tetapi ada kamu di sebelahnya. Jadi aku tunda. Harusnya kamu bersyukur tidak ikut tewas". Ella membalas :"kamu tahu tidak, dengan membunuh suamiku, kamu juga membunuh aku". Namun secara terbuka, Ella memaafkan Ivan dan mengupayakan pengampunan hukuman bagi Ivan. Ivan menolak. Ia merasa pantas dijatuhi hukuman sesuai dengan perbuatannya. Selain itu, Ivan juga merasa bahwa kematiannya lebih berarti daripada kematian seorang Sergei. Saat melempar bom, Ivan sempat mengira bahwa ia juga akan ikut tewas ketika melempar bom namun ia selamat. Ivan dijatuhi hukuman mati dan digantung mati dua bulan setelah kejadian. 

Peristiwa terbunuhnya Sergei sangat mempengaruhi batin Ella. Ia menjual semua perhiasannya, kecuali cincin pernikahan. Ia juga perabotan mewahnya. Uang hasil penjualan itu digunakan untuk membangun rumah sakit, panti asuhan dan biara bernama Santa Martha & Maria. Ella juga menjadi biarawati dan vegetarian. Asisten rumah tangga Ella yang bernama Varvara Yakovleva tetap mengikuti sang majikan. Bahkan Varvara juga ikut menjadi biarawati. Dalam sehari, biara milik Ella menghidangkan 300 makanan gratis bagi kafir miskin dan anak-anak terlantar. Meski sudah menjadi biarawati dan disibukkan oleh kegiatan kemanusiaan, Ella masih sering berkumpul dengan Alix sekeluarga. Ia muncul dalam acara besar kerajaan Russia. Kadang ia makan siang bersama Nicholas. Semua ini akan terhenti setelah Nicholas mengabdikan diri pada 2 Maret 1917. Nicholas, Alix dan kelima anaknya akan menjadi tahanan.

Bermula dari perintah Lenin kepada Cheka untuk menangkap Elisabeth. Cheka merupakan organisasi pertahanan Russia yang didirikan Lenin pada 20 Desember 1917. Sekelompok orang mendatangi biara Martha dan Maria, disambut oleh seorang biarawati yang menanyakan maksud kedatangan mereka. Kelompok orang itu meminta bertemu dengan Adipatni Agung Serge, yang mereka sebut sebagai kakak dari wanita mata-mata Jerman yang tinggal di Tsarkoe Selo (istri dari Kaisar Nicholas II). Ella mengatakan dengan suara jelas terdengar : "saya adalah Adipatni Agung Serge. Apa yang kalian inginkan dari saya?" Kelompok orang Cheka itu berseru "kita datang hendak menangkap kamu". Dengan tenang Ella menjawab "baiklah. Kalau kalian ingin menangkap saya, berarti saya harus ikut kalian. Tetapi saya memiliki peraturan, bahwa setiap kali saya keluar dari biara dengan tujuan apapun, saya harus berdoa dulu. Kalian ikut saya ke gereja. Setelah berdoa, saya akan ikut kalian". Semua biarawati yang ikut berdoa bersama Ella menangis, hanya Ella yang tidak menangis. 


 Varvara Yakovleva dengan setia mengikuti Ella, ditemani oleh suster Ekaterina Yanysheva. Ella bertiga kemudian dibawa ke kota Perm, sebelah barat Russia. Dari Perm, Ella bertiga dipindah lagi ke Ekaterinburg untuk bergabung dengan anggota kerajaan lain yang ditangkap. Mereka adalah Adipati Agung Sergei Mikhailovich (saudara sepupu suami Dagmar, Alexander III), pangeran Russia John Konstantinovich beserta tiga adiknya yaitu Konstantin dan Igor, Vladimir Paley (keponakan suami Dagmar, Alexander III) dan sekretaris pribadi Sergei yang bernama Fyodor Remez. Pada 20 Mei 1918, Ella dan semuanya tiba di kota kecil Apalayevsk. Mereka dimasukkan ke gedung sekolah Napolnaya yang terbuat dari bangunan batu. Di salah satu ruangan, Ella tidur bersama Varvara dan Ekaterina. Mereka diperbolehkan ke gereja terdekat dan juga berjalan-jalan di lahan belakang sekolah tanpa diawasi penjaga.

Ella disebut melewatkan waktu dengan banyak berdoa dan menggambar. Makanan Ella dan yang lain dimasak oleh wanita bernama Krivovna, dibantu oleh asisten bernama Pozdina. Kedua tukang masak ini tidak tinggal di dalam gedung sekolah. Seorang pengawas Cheka bernama Startsev juga tidak tinggal di dalam. Saat makan, para pangeran akan berkumpul di ruang tidur Sergei Mikhailovich. Sementara Ella makan di ruangannya sendiri. Ella dan yang lain juga disibukkan bercocok tanam sayuran dan bebungaan di kebun sekolah. Mereka menggali tanah dengan tangan kosong. Ella dan semuanya juga membersihkan sekaligus merapikan halaman sekolah hingga enak dilihat dan nyaman. Di halaman itu para pangeran dan Fyodor biasa berkumpul menghirup udara segar sambil minum teh, membaca dan mengobrol. Saat malam hari, Ella dan semua tidak bisa tidur nyenyak sebab hampir setiap jam Tentara Merah masuk ke setiap ruangan untuk memeriksa. Adipati Agung Sergei Mikhailovich memprotes hal ini namun tidak ditanggapi.

Tanggal 21 Juni 1918, hampir semua barang milik Ella dan yang lain disita oleh Tentara Merah. Barang yang disisakan hanyalah baju dalam, sepatu dan dua lembar seprei. Mereka dilarang berjalan lebih dari pagar sekolah dan juga dilarang belanja makanan di pasar. Untuk itu, penjaga mendatangkan makanan yang sudah dimasak dari pusat. Namun kemudian Krivovna diperbolehkan memasak makanan dari tokonya. Memasuki Juli 1918, Lenin memberi perintah bahwa semua orang yang tidak berkaitan keluarga dengan Ella dan semua harus dibawa pergi kecuali Varvara Yakovleva dan Fyodor Remez. Itu berarti Ekaterina Yanysheva tidak akan lagi tinggal bersama Ella dan Varvara. Tepat tengah malam masuk tanggal 17 Juli 1918, Startsev datang bersama penjaga fraksi Bolsheviks. Mereka menyita sisa uang dari para tahanan, lalu mengatakan bahwa Ella dan semua yang masih ditahan akan dibawa keluar sekitar 16 km dari Apalayevks. Mereka kemudian meminta Tentara Merah untuk pergi meninggalkan gedung sekolah. Tanpa Ella dan semuanya sadari, tepat pada saat itu keluarga Nicholas dan pegawainya ditembak mati di Ekaterinburg. 


Royal Menus - Tsar and Tsarina with Eliz
Depan : Nicholas, Anastasia, Alexandra
Belakang : Elisabeth (berkerudung), Maria, Tatiana, Olga

Ella dan tahanan kemudian dibawa ke pinggir kota Apalayevsk. Di tempat terakhir itu terdapat bekas tambang sedalam 20 meter. Dalam kondisi mata tertutup, Ella dan tahanan lain dipukuli sebelum dilempar ke dalam tambang hidup-hidup. Meski jatuh sangat dalam, Ella dan tahanan lain ternyata masih hidup. Cheka melempar granat sehingga menewaskan Fyodor Remez seketika namun tidak dengan Ella dan yang lain. Mereka bernyanyi lagu rohani. Granat kedua dilempar namun mereka masih tetap hidup. Cheka kemudian memasukkan semak-semak yang telah dibakar ke dalam tambang. Kemudian mereka pergi. Hasil autopsi menyebut bahwa Ella dan semua korban meninggal akibat pendarahan dalam dan luar setelah dijatuhkan dari ketinggian. Tubuh Fyodor Remez juga mengalami pendarahan luar dan dalam, Dengan segala kekuatan yang masih tersisa, Ella masih sempat membebat kepala John dengan kerudungnya. 

Tanggal 8 Oktober 1918, Tentara Putih menemukan jasad Ella dan semuanya. Meskipun sudah meninggal hampir tiga bulan lamanya, jasad Ella dan semuanya masih dalam kondisi relatif baik. Jasad Ella dan semuanya diangkat dari dalam tambang dan dipindahkan ke Gereja Ortodoks Russia di Beijing, Cina. Tentara Putih tak ingin jasad Ella dan semuanya kembali ditemukan Tentara Merah. Pada akhirnya, jasad Elisabeth dan Varvara dibawa ke Gereja Ortodoks Russia bernama Maria Magdalena di Getsemane, Bukit Zaitun, Yerusalem. Jasad yang lain tetap berada di pekuburan gereja Beijing, Cina. Pada tahun 1986, di atas pekuburan itu dibangun parkiran. Pada tahun 1981, Elisabeth dikanoninasi oleh gereja Ortodoks Russia di Luar Russia. Dan pada tahun 1992, gereja Ortodoks Russia mengkanoninasi Elisabeth sebagai Martir Suci.

Tuesday, July 7, 2020

Pegawai Kerajaan Russia Yang Sangat Setia

Hampir semua mengikuti sang majikan kemanapun ditahan, sekalipun harus menempuh perjalanan jauh yang memakan waktu hingga berhari-hari. Mereka juga tetap menghormati sang majikan meskipun nasib sang majikan sudah berubah drastis. Selama hidup, mereka memang tidak memiliki kedudukan yang setara anggota kerajaan. Bahkan tidak dianggap penting. Namun bagi saya, jasa dan pengorbanan mereka sangat mulia dan tinggi. Maka itu harus dihargai dan diingat dalam sejarah.


Aleksei Volkov
Kembali lagi ke waktu ketika Nicholas II sekeluarga dipindah ke rumah Ipatiev di Ekaterinburg. Dari semua pengurus rumah tangga, sebagian dilarang menemani Nicky sekeluarga menuju ke Ekaterinburg. Mereka yang dipisah adalah Pierre, Catherine, Anastasia dan Volkov. Catherine, Anastasia dan Volkov akan ditahan di penjara dan nantinya dieksekusi. Namun mujizat akan datang bagi Volkov. Pada 4 September 1918 tengah malam, Volkov dibangunkan di penjara untuk diantar ke kantor penjara. Di kantor, Volkov bertemu Anastasia dan Catherine. Kemudian datang lagi delapan tahanan, salah satu di antaranya adalah pelayan di rumah tangga Adipati Agung Michael alias Misha, adik Nicky. Mereka kemudian digiring ke pinggir kota dengan jalan kaki. Sesampainya di dalam perkebunan, Volkov menyadari bahwa mereka akan dieksekusi. Volkov segera kabur, lari sekencang mungkin sambil mendengar suara tembakan. Sebuah peluru lewat tipis di telinganya. Kemudian ia mendengar tembakan lagi yang ternyata diarahkan ke tahanan lain. Volkov pergi ke kota Omsk untuk meminta perlindungan dari Tentara Putih. Volkov kemudian berhasil lolos keluar Russia. Pada 1922, Volkov menetap di Estonia sebelum pindah ke Denmark sampai akhir hidupnya. Di Denmark, Volkov sangat dihormati sebab ia adalah salah satu pelayan kerajaan yang setia seumur hidupnya.


Colonel Alexander Von Leiming
Leiming merupakan ajudan Adipati Agung Dmitry Konstantinovich.  Dmitry adalah paman dari pangeran Philip, Adipati Edinburgh. Nenek Philip yang bernama Olga merupakan kakak kandung dari Dmitry. Pada pertengahan Mei 1918, Leiming memberitahu Dmitry bahwa jalan untuk meloloskan diri ke Finlandia telah dipersiapkan namun Dmitry menolak meninggalkan Russia. Pada 21 Juli, Dmitry ditahan di penjara Kresty di Petrogad. Kemudian ia bersama adipati agung Nicholas dan George dipindahkan ke penjara Shpalernaya. Di sana, adipati Gavril juga ditahan, namun kemudian ia berhasil dibebaskan berkat upaya istrinya. Leiming setiap hari mengantar makanan untuk Dmitry. Pada 28 Januari 1919, Dmitry, Nicholas dan George dibawa keluar. Di tempat eksekusi, mereka bertemu dengan saudara sepupu mereka, adipati Paul Alexandrovich yang sudah payah akibat sakit. Mereka kemudian ditembak mati. Leiming datang ke tempat jasad Dmitry, membungkusnya dengan karpet dan dimakamkan di halaman sebuah rumah. 

Alexei Yegorovich Trupp
Lahir pada 8 April 1857 di negara Latvia (dulu bagian negara Russia), Trupp bekerja sebagai kepala asisten rumah tangga di keluarga kaisar Russia terakhir, Nicholas II. Seperti puluhan pengurus rumah tangga lain, Trupp setia mengikuti keluarga Nicholas yang sudah menjadi tahanan sejak di istana Alexander, Tsarskoe Selo. Pada Agustus 1917, Trupp dan yang lain mengikuti keluarga kerajaan saat mereka pindah ke Tobolsk. Pada musim semi 1918, Trupp bersama Anna Demidova, Ivan Sednev, Dokter Eugene Botkin dan pangeran Vasily Dolgoruky menemani Nicholas, Alexandra dan Maria menuju ke Ekaterinburg. Meski semasa hidup Trupp adalah pemeluk Katolik, namun ia tetap dikanoninasi sebagai Martir oleh Gereja Ortodoks Russia Di Luar Russia pada tahun 1981. 


Anastasia Hendrikova
Lahir pada 23 Juni 1887, Anastasia merupakan asisten wanita keluarga kaisar Nicholas II. Hari-hari terakhir Anastasia hampir sama dengan Catherine. Hanya saja beberapa jam sebelum ia tewas, Anastasia aktif menanyakan kemana mereka akan dibawa pergi. Mereka baru saja dikeluarkan dari penjara dan diminta menunggu di kantor penjara. Petugas menjawab pertanyaan Anastasia : ke Penjara Pusat. Anastasia kemudian bertanya lagi tujuan berikutnya dan dijawab : ke Moskow. Ia mengulang percakapannya ke beberapa tahanan lain sambil membuat tanda salib. Volkov menyahut "mereka tidak akan menembak kita". Tetapi Volkov keliru sebab mereka menemui ajal tak lama setelahnya. Pada 14 November 1981, Anastasia dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia Di Luar Russia. 


Anna Demidova
Anna lahir pada 26 Januari 1878 dan bekerja di keluarga Nicholas II sebagai asisten rumah tangga. Wanita yang akrab disapa Nyuta ini setia mengikuti keluarga Nicholas sejak menjadi tawanan di istana Alexander, Tsarskoe Selo. Anna mengikuti kepindahan mereka ke Tobolsk dan terakhir ke Ekaterinburg. Pada 17 Juli 1918 subuh, Anna bersama keluarga Nicholas II dan yang lain turun ke lantai satu rumah Ipatiev. Ia memegang bantal. Saat eksekusi berlangsung, Anna menjadi salah satu yang masih hidup sebab ia hanya luka ringan. Ia berujar :"terima kasih Tuhan, Tuhan menyelamatkan aku" Mendengar itu, salah satu eksekutor mendekati Anna. Anna menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Ia tewas ditusuk bayonet. Anna dimakamkan di katedral Peter dan Paul di Santo Petersburg, Russia tepat 80 tahun setelah mereka dieksekusi.


Catherine Schneider
Wanita kelahiran 20 Januari 1856 ini mengajarkan bahasa Russia kepada dua wanita penting di kerajaan Russia. Pertama ia mengajarkan Elisabeth, putri Hesse yang menikah dengan Adipati Agung Sergei Alexandrovich. Kedua, ia mengajarkan Alexandra, putri Hesse yang menikah dengan pewaris tahta kerajaan Russia, Nicholas. Elisabeth adalah kakak kandung Alexandra. Ia mengikuti keluarga Nicholas sejak ditahan di Tsarskoe Selo, kemudian Tobolsk. Saat di Ekaterinburg, Catherine dan Anastasia dipisahkan secara paksa dan dibawa jauh lagi menuju ke kota Perm. Mereka ditahan. Bersama Anastasia Hendrikova dan Volkov, Catherine dieksekusi mati pada 4 September 1918. Namun Volkov meloloskan diri saat nyawanya sudah di ujung tanduk. Jasad Catherine dan Anastasia berhasil ditemukan oleh tentara putih.  Pada 14 November 1981, keduanya dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia di Luar Russia, meskipun diketahui bahwa semasa hidup Catherine adalah pemeluk Lutheran (Kristen).


Dokter Eugene Botkin
Dokter Botkin lahir pada 27 Maret 1865. Ia menikah dengan Olga dan dikaruniai empat orang anak yaitu Dmitri, Yuri, Tatiana dan Gleb. Botkin bercerai dari Olga pada tahun 1910. Pada Perang Dunia I tahun 1914, Dmitri dan Yuri tewas dalam pertempuran.  Botkin setia mengikuti keluarga Nicholas sebab ia merasa bertanggung jawab kepada pasiennya, keluarga kerajaan dan juga negara Russia. Beberapa minggu setelah Botkin, Nicholas, Alix, Maria dan pegawai lain dipindah ke Ekaterinburg, keempat anak Nicholas yang masih di Tobolsk diminta untuk menyusul. Tatiana Botkin meminta pada kepala penjaga di Tobolsk bernama Radionov untuk diijinkan ikut pergi bersama adiknya, Gleb. Radionov mengatakan bahwa Tatiana dan Gleb bisa ditangkap saat mereka sudah tiba di stasiun Ekaterinburg sebab tidak ada ijin bagi mereka untuk turut serta. Tatiana dan Gleb terpaksa tetap tinggal di Tobolsk. Pada 17 Juli 1918 subuh, Dokter Botkin tidak tidur. Ia menulis surat. Di surat itu, ia mengaku mendapat penampakan putranya, Yuri, yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Dua putra sang dokter yaitu Dimitri dan Yuri tewas dalam Perang Dunia I. Ia juga menangkap firasat bahwa ajalnya sudah tiba. Ia bersedia berkorban sembari menyebut bahwa Abraham juga bersedia mengorbankan putra semata wayangnya demi permintaan Tuhan. Namun surat itu tampak belum diselesaikan. Rupanya kamar Dokter Botkin didatangi kepala komandan Yakov Yurovsky. Ia diminta untuk membangunkan Nicholas II sekeluarga. Surat itu ditemukan pada tahun 1919 oleh tentara putih. Tahun 2016, dokter Botkin dikanoninasi sebagai Pengemban Sengsara Kudus Kristus Yang Budiman.


Fyodor Semyonovich Remez
Semasa hidup, Fyodor berprofesi sebagai sekretaris pribadi Adipati Agung Sergei Mikhailovich. Sergei yang ini adalah keponakan kaisar Russia Alexander II dan juga adik sepupu dari kaisar Russia Alexander III. Saat Sergei dan anggota kerajaan lain ditangkap dan dibawa ke kota Ekaterinburg, Fyodor dengan setia menemani sang tuan. Sang tuan, Fyodor dan yang lain kemudian dibawa lagi Apalayevks. Di kota kecil Apalayevks, mereka menjalani hidup sebagai tawanan di gedung sekolah Napolnaya. Di salah satu ruang, Fyodor tidur bersama sang tuan dan Vladimir Pavlovich Palei (adik sepupu kaisar Russia Nicholas II). Setelah sang tuan, Fyodor dan yang lain dilempar hidup-hidup ke tambang sedalam 20 meter, Fyodor tewas terkena ledakan granat yang pertama. 

Ilya Leonidovich Tatischev
Ilya lahir pada 11 Desember 1859 di St Petersburg, Russia. Ia bekerja sebagai jenderal ajudan bagi Nicholas. Ibunda Ilya bekerja sebagai pelayan wanita istri Nicholas, Alix. Ilya tidak pernah menikah dan memiliki anak. Sebenarnya pada 18 April 1917, Ilya sudah pensiun dikarenakan kesehatannya yang mulai menurun. Entah mengapa ia secara sukarela mengikuti keluarga Nicholas dari Tsarskoe Selo, ke Tobolsk hingga ke Ekaterinburg. Hari-hari terakhir Ilya sudah dikisahkan di bagian pangeran Vasily. Jasad Ilya dan Vasily ditemukan oleh beberapa biarawati di biara Novo-Tikhvinsky dan dimakamkan di Ivanopsvkoe. Pada Oktober 1981, Ilya dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia Di Luar Russia sebagai Martir Suci. 

Ivan Kharitonov
Lahir pada 1872, Ivan bekerja sebagai kepala koki di rumah tangga keluarga kaisar terakhir, Nicholas. Ivan tetap setia pada majikannya sejak menjadi tahanan di istana Alexander, Tsarskoe Selo. Ketika Ivan mengikuti keluarga majikan pindah ke Tobolsk pada Agustus 1917, istri dan anak Ivan turut serta dan tinggal bersama. Pada musim semi 1918, sang majikan yaitu Nicholas, Alix dan Maria diharuskan pindah ke Ekaterinburg. Lagi-lagi Ivan mengikuti ditemani oleh asisten rumah tangga Anna Demidova, pelayan pria Ivan Sednev dan Alexei Trupp. Istri dan anak Ivan tidak diperbolehkan ikut dan tetap tinggal di Tobolsk. Untuk mengisi waktu selama ditahan, keempat anak perempuan Nicholas II yaitu Olga, Tatiana, Maria dan Anastasia membantu sekaligus belajar masak bersama Ivan. Di Ekaterinburg, Ivan dan yang lain tidak akan pindah lagi selamanya sebab mereka tewas dieksekusi pada 17 Juli 1918. Tahun 1991, Ivan dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia di Luar Russia sebagai Pengemban Sengsara Kudus Kristus. Tepat 80 tahun setelah dieksekusi, Ivan dan keluarga Nicholas dimakamkan di katedral Peter dan Paul di Santo Petersburg, Russia. Upacara pemakaman dihadiri oleh cucu Ivan. 

Ivan Sednev
Pria kelahiran tahun 1881 ini bekerja pada keluarga Nicholas sebagai mekanik di kapal kerajaan Polar Star dan kemudian pindah ke kapal kerajaan Standard. Kemudian ia ditawari menjadi asisten pria anak-anak perempuan Nicholas. Ivan Sednev membawa keponakan laki-lakinya Leonid Sednev untuk bekerja bersama keluarga kerajaan. Leonid akan menjadi teman bermain Alexei. Pada akhir April 1918, Ivan Sednev bersama Ivan Khemodurov, Alexei Trupp, pangeran Vasily, dokter Eugene Botkin serta asisten rumah tangga Anna Demidova mengikuti Nicholas, Alexandra dan Maria menuju ke Ekaterinburg. Seperti yang sudah disebut di bagian Nagorny, ia tewas dieksekusi. Namun Leonid beruntung, sebab kepala eksekusi Yakov Yurovsky tidak merasa harus membunuh bocah itu. Dua hari sebelum pembunuhan, Leonid diungsikan ke depan rumah. Kepada Nicholas II, Yakov beralasan bahwa Leonid didatangi oleh keluarganya. Nicholas II menyangsikan alasan Yakov, tak yakin apakah Leonid akan kembali atau tidak. Leonid menjadi teman sepermainan Alexei selama ditahan.

Nagorny
Pria bernama lengkap Klementy Grigorivich Nagorny ini lahir pada tahun 1887. Ia menjadi asisten Boatswain A.E. Derevenko sebagai penjaga Alexei. Saat Alexei sekeluarga menjadi tahanan di istana Alexander, Tsarskoe Selo, Boatswain Derevenko pergi dan Nagorny menjadi penjaga utama (tentu yang terakhir). Saat ditahan di Tobolsk, Nagorny menggendong Alexei yang tidak bisa berjalan akibat sakit di persendian kaki. Ia tidur sekamar dengan Alexei. Kemudian pada 20 Mei 1918, Alexei dan ketiga kakak perempuannya harus pindah ke Ekaterinburg melalui perjalanan tiga hari lebih dengan kereta kuda, kapal, kereta api dan kemudian kereta kuda lagi. Nagorny tetap mengikuti. Di rumah Ipatiev, Nagorny sangat kecewa dengan perlakuan para penjaga yang keterlaluan terhadap Alexei sekeluarga. Baru empat hari tiba di rumah Ipatiev, Ekaterinburg, Nagorny dan Ivan Sednev kemudian dipindahkan dari rumah. Keduanya ditahan selama sebulan. Tugas menggendong Alexei kemudian dipegang ayahnya, Nicky. Nicky sekeluarga tidak pernah tahu lagi kabar dan keberadaan Nagorny maupun Ivan. Pada 28 Juni 1918, Nagorny dan Ivan dibawa ke kebun di belakang stasiun kereta api di Ekaterinburg. Mereka ditembak mati dari belakang. Parahnya, jasad Nagorny dan Ivan ditinggal begitu saja. Sebulan kemudian Ekaterinburg berhasil dikuasai oleh tentara putih. Mereka menemukan jasad keduanya sudah dalam kondisi setengah membusuk. Mereka memakamkan Nagorny dan Ivan dengan upacara yang khidmat di samping gereja. Namun di atas makam mereka kemudian dibangun taman kota. Pada 14 November 1981, Nagorny dan Ivan dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia Di Luar Russia
170c
Alexei & Nagorny
Picture Courtesy of a Website




Nicholas Johnson
Nicholas merupakan pria berkebangsaan Inggris yang menjadi sekretaris pribadi Adipati Agung Michael alias Misha. Misha adalah adik bungsu kaisar terakhir, Nicholas II. Setelah mengabdikan diri, Nicholas menunjuk Misha sebagai penerusnya, namun tidak pernah terjadi. Saat Misha dibawa ke kota Perm pada April 1918, Misha meminta Nicholas pergi meninggalkan dirinya. Tetapi Nicholas tetap ingin menemani sang tuan. Dari sejarah hidup, Nicholas terbilang baru bekerja pada Misha, yaitu pada tahun 1912. Namun ia dianggap sebagai keluarga sendiri, kerap menemani Misha, istri Misha, anak kandung dan anak tiri perempuan Misha pergi keluar negeri. Bahkan mereka makan bersama di satu meja. Nicholas menguasai tiga bahasa. Awal Nicholas bisa bertemu Misha adalah dari ibunda Nicholas. Ibunda Nicholas adalah wanita kelahiran Russia yang menikah dengan ayah Nicholas yang berkebangsaan Inggris. Ibunda Nicholas memberi kursus piano bagi keluarga kerajaan Russia. Tentu Nicholas sendiri mahir bermain piano. Setelah dieksekusi dengan cara ditembak, jasad Misha dan Nicholas tak ditemukan hingga kini. Namun jam tangan Nicholas dicuri oleh penembaknya, Andrei Markov.


Varvara Yakovleva
Wanita Russia kelahiran tahun 1880 ini semula berprofesis sebagai asisten rumah tangga putri Hesse, Elisabeth. Pada 1905, suami sang majikan tewas terkena serangan bom. Tak lama setelahnya, Elisabeth menjual seluruh perhiasan dan perabot mewahnya untuk mendirikan klinik ditujukan kaum miskin, panti asuhan dan juga biara. Sang majikan menjadi biarawati sekaligus seorang vegetarian. Varvara yang akrab disapa Varya mengikuti jejak sang majikan. Saat pecah revolusi Russia, Lenin memerintahkan agar Elisabeth ditangkap dan dibawa ke kota Perm. Varya dengan setia mengikuti Elisabeth. Dari kota Perm, mereka dibawa lagi ke kota Ekaterinburg untuk bergabung dengan anggota kerajaan lain yang telah ditahan. Dari Ekaterinburg, Ella dan semua dibawa ke kota kecil terdekat bernama Apalayevks dan dimasukkan ke gedung sekolah Napolnaya. Tanggal 18 Juli 1918, Elisabeth, Varya dan semua tahanan dilempar hidup-hidup ke galian tambang sedalam 20 meter. Sebelum dilempar, mereka dipukuli terlebih dahulu. Di dalam, pasukan Cheka melempar granat dua kali dan kemudian memasukkan semak-semak yang dibakar api. Jasad sang majikan dan Varya akhirnya dimakamkan di gereja Bukit Zaitun, Yerusalem. Tahun 1981, Elisabeth dan Varya dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Di Luar Russia dan juga Gereja Ortodoks Russia.


Pangeran Vasily Alexandrovich Dolgorukov
Pangeran Vasily memiliki usia yang sama dengan Nicholas, keduanya lahir pada tahun 1868. Ia merupakan penasihat militer bagi Nicholas. Vasily menemani Nicholas, Alix, Maria dan yang lain saat mereka datang ke rumah Ipatiev di Ekaterinburg pada akhir April 1918. Awalnya ia diperbolehkan tinggal bersama di rumah Ipatiev namun kemudian ia ditahan bersama Ilya Tatieschev dengan tuduhan hendak merencanakan penyelamatan keluarga kerajaan. Selama ditahan di penjara Ekaterinburg, Vasily menyelundupkan catatan kecil untuk diberikan kepada konsulat Inggris di kota itu. Ia meminta mereka untuk menyelamatkan Nicholas sekeluarga. Vasily dan Ilya ditembak mati di kepala pada 10 Juli 1918, hanya seminggu sebelum Nicholas dan yang bersamanya. Jasad Ilya dan Vasily ditemukan oleh beberapa biarawati di biara Novo-Tikhvinsky dan dimakamkan di Ivanopsvkoe. Pada 1 November 1981, Vasily dikanoninasi oleh Gereja Ortodoks Russia Di Luar Russia sebagai Pahlawan Martir Suci.


Dr Vladimir Derevenko
Dokter kelahiran tahun 1879 ini spesial menjaga Alexei yang menderita hemofilia. Putra sang dokter yang bernama Kolya menjadi teman Alexei. Sama seperti yang lain, Derevenko mengikuti keluarga Nicholas dari Tsarskoe Selo hingga Ekaterinburg. Namun saat pindah bersama Alexei ke Ekaterinburg pada 23 Mei 1918, Dokter Derevenko dilarang tinggal di rumah Ipatiev. Ia ditaruh di rumah seberang. Sesekali ia dibawa masuk ke rumah Ipatiev jika harus memeriksa kondisi Alexei. Itupun dengan kawalan ketat para penjaga. Ia membantu tentara putih melakukan investigasi eksekusi Nicholas sekeluarga. Meski ia terlepas dari eksekusi, namun pada tahun 1930 ditangkap oleh Komisariat Rakyat Untuk Urusan Dalam Negeri. Dokter Derevenko dieksekusi mati pada tahun 1936.



Saturday, July 4, 2020

Kisah Nyata Putri Kerajaan Cantik Yang Malang

Silahkan baca : artikel berjudul Kisah Hidup Kaisar Terakhir Russia dan artikel berjudul Runtuhnya Sebuah Kerajaan Besar Dunia

Dari seluruh saudarinya, menurut penulis Maria adalah yang paling cantik dan paling berisi. Sepupu Maria yaitu Louis Mountbatten pun jatuh cinta pada pandangan pertama saat mereka bertemu di Hesse, Jerman pada tahun 1910. Pria yang akrab disapa Dicky ini juga paman dari pangeran Philip, adipati Edinburgh. Meski usia Dicky baru 10 tahun dan Maria 11 tahun, namun saat itu Dicky bermimpi ingin menikahi Maria setelah dewasa nanti. Dicky menyimpan foto Maria di samping tempat tidurnya hingga akhir hayat. Dicky tewas terkena bom saat memancing bersama keluarga di Sligo, Irlandia pada 27 Agustus 1979.

Maria dilahirkan pada 26 Juni 1899 sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya adalah Kaisar Nicholas II dan ibunya adalah permaisuri Alexandra. Melalui ayahnya, Maria merupakan cicit dari raja Christian IX Denmark(1818-1906). Sementara dari ibunya, Maria merupakan cicit ratu Inggris Victoria (1818-1901). Saat ia dan kedua kakaknya lahir, ayahnya sudah menjadi seorang kaisar. Saat kecil, Maria dan ketiga saudarinya diasuh oleh Margaretta Eagar, wanita kelahiran Irlandia. Rambut Maria berwarna coklat, mata biru dan pipinya kemerahan bak mawar. Tatapan matanya lembut serta berkepribadian ramah. Maria beruntung dikaruniai tubuh yang kuat, ia bahkan bisa mengangkat gurunya. Maria disebut mewarisi kekuatan kakeknya yang juga seorang kaisar, Alexander III. Semasa hidup, Alexander bertubuh tinggi besar dan mampu menekuk tapal kuda yang terbuat dari besi. Setelah Anastasia lahir, Maria dan Anastasia akan disebut Pasangan Kecil. Sementara kedua kakaknya yaitu Olga dan Tatiana disebut Pasangan Besar. Untuk keempatnya, mereka akan disebut OTMA, singkatan dari huruf depan nama masing-masing. Maria dan ketiga saudarinya kerap berpakaian sama, terutama untuk acara-acara besar. 

Grand Duchess Maria Nikolaevna of Russia (1899 – 1918). Photo ...
Adipatni Agung Maria Nikolaevna
Picture Courtesy of A Website


Ayah Maria mengundurkan diri pada 2 Maret 1917. Seminggu kemudian, ayah Maria kembali ke kediaman mereka di Tsarkoe Selo. Maria baru saja terserang campak. Ia mengalami demam tinggi sampai beberapa hari. Kondisi ini semakin sulit sebab Anastasia juga menderita sakit telinga dan demam namun tidak setinggi Maria. Hari senin tanggal 20 Maret 1917, kondisi Maria sudah mulai membaik. Anastasia pulih terlebih dahulu.  Sehari kemudian, perdana menteri yang baru bernama Alexander Keresky datang menemui ayah Maria. Tanggal 25 Maret 1817, Maria dan keluarganya resmi menjalani tahanan rumah. Saat kondisi Maria perlahan pulih, giliran Olga mulai sakit. Sementara Nicky, Tatiana dan Alexei cukup sehat sehingga mereka bisa beraktivitas di taman sekedar jalan, membersihkan salju dan memecah bongkahan es.
Selama menjalani tahanan di istana Alexander Tsarskoe Selo, ayah Maria sekeluarga diperbolehkan jalan keluar dua kali sehari. Siang jam 11 hingga 12 siang. Kemudian jam 2.30 hingga 5 sore. Tanggal 19 April 1917, untuk pertama kalinya Maria dan seluruh keluarganya bisa makan bersama di satu meja. Selain kegiatan jalan dan membersihkan salju, ayah Maria juga mulai fokus kepada pendidikan Alexei yang dirasa kurang. Ayah Maria memilih mengajarkan sejarah dan geografi. Sementara ibu Maria memilih mengajarkan agama dan bahasa Jerman. Ayah Maria juga mengisi waktu menyiapkan lahan untuk ditanami sayur-mayur. 

Pada Agustus 1917, Maria beserta keluarganya dan puluhan pengurus rumah tangga meninggalkan rumah tahanan di Alexander. Mereka menuju ke Tobolsk dan menjalani masa tahanan di rumah gubernur. Di rumah ini, Maria dan saudaranya tetap membantu ayah mereka memotong, mengangkat dan menumpuk kayu bakar. Kadang Maria dan saudaranya menemani sang ayah sekedar berjalan. Di rumah, ayah Maria melewatkan waktu dengan membaca, membacakan buku, mengisi buku harian atau sekedar bermain. Oleh karena masih banyak pengurus rumah tangga yang setia mengikuti mereka sejak ditahan di Tsarskoe Selo, tentu Maria dan keluarganya tidak begitu merasa kesepian. 

 Pada akhir April 1918, Maria menemani ayah ibunya berikut dokter Botkin, asisten rumah tangga Anna Demidova, tukang masak Ivan Kharitonov dan pegawai Alexei Trupp untuk menuju ke Ekaterinburg. Di kota yang terletak Russia timur ini, Maria dan lainnya ditempatkan di rumah Ipatiev. Ayah Maria selalu menyukai kegiatan fisik di luar rumah. Namun di rumah Ipatiev ini segalanya dibatasi. Mereka tak lagi diperbolehkan memotong kayu. Kegiatan jalan di taman depan rumah dibatasi satu jam sehari, yaitu pada pagi dan siang hari. Tetapi ayah Maria diperbolehkan menanam sayuran di kebun. Mereka dijaga oleh pasukan yang dipimpin oleh Alexander Avdayev. Meski Avdayev berjaga selama 12 jam, namun ia tidak tidur di dalam rumah Ipatiev. Malam hari, tugas Avdayev digantikan oleh wakilnya, Konstantin Ukraintsev. 


Penduduk Ekateriburg sudah mendengar bahwa bekas kaisar Nicholas II dan keluarganya ditahan di rumah itu. Banyak yang berhenti untuk mengintip namun segera diusir oleh penjaga : "pergi sana, tidak ada apa-apa di sini". Penduduk tak kalah pintar :"kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kita tidak boleh berdiri di sini? Apa kaisar berada di rumah ini?" Malam di hari mereka tiba, Nicky, Alix dan Maria mengenali Konstantin Ukraintsev. Ia adalah bekas penjaga kerajaan yang menemani adik Nicky yaitu Misha/Michael pergi berburu dan juga bermain dengan adik perempuan Nicky yaitu Olga Alexandrovna. Alix berbincang lama dengan Konstantin. Intinya seputar rasa penasaran sang ibunda tentang nasib mereka. Maria mengirim surat tentang Konstantin kepada saudarinya :"Konstantin banyak bercerita tentang hal-hal menarik dalam hidupnya". 


Pada 5 April 1918, Konstantin menyampaikan telegram dari Olga di Tobolsk kepada Nicky. Itu adalah hari terakhir bagi Konstantin di rumah Ipatiev. Esoknya, datang pasukan penjaga baru yang dilengkapi dengan senapan dan pedang. Alasan Konstantin diberhentikan bisa jadi karena atasan Konstantin mengetahui kedekatannya dengan keluarga kerajaan. Ini diperoleh dari isi surat Maria yang dikirim kepada saudaranya yang masih di Tobolsk. Konstantin digantikan oleh Moshkin, pria yang disebut Alix sebagai porno dan tidak menyenangkan. Avyadev, Moshkin dan para penjaga kerap membongkar barang-barang keluarga Maria yang disimpan di gudang. Mereka mencuri perhiasan yang dianggap bernilai. Namun saat Avyadev dan pasukannya diberhentikan dan diganti oleh Yakov Yurevsky, perhiasan itu dikembalikan. Maria memberitahu saudarinya di Tobolsk :"hampir setiap hari kita mendapat kejutan menjijikkan. Siapa yang mengira akan mendapat perlakuan seperti ini setelah empat belas bulan ditahan?"

Maria bersama keluarga dan beberapa pengurus rumah tangga tewas dieksekusi pada 17 Juli 1918 subuh. Saat penembakan berlangsung di ruang tengah lantai bawah rumah Ipatiev, Maria disebut hendak lari menggapai pintu yang ada di belakang. Namun Maria tertembak di bagian paha. Setelah Maria dan semuanya tewas, komandan Bolsheviks memerintahkan agar jenazah dilucuti. Mereka menemukan sulaman permata yang dijahit rapi di bawah pakaian ketiga saudari Maria dan juga di bawah topi Alexei. Namun mereka tidak menemukan yang sama di bawah pakaian Maria. 

Tahun 1979, jasad keluarga Maria dan pengurus rumah tangga ditemukan. Namun setelah diteliti, jasad Maria dan adiknya, Alexei tidak di antaranya. Tahun 1998, jasad keluarga Maria dimakamkan secara militer dan agama di katedral. Pemakaman dihadiri oleh keluarga Romanov,  Michael pangeran Kent dan bahkan cucu pegawai Nicholas yang ikut dieksekusi. Presiden Boris Yeltsin dan istri juga hadir. Istri presiden Boris disebut menangis sepanjang acara. 

Tahun 2007, dua jasad ditemukan tak jauh dari lokasi penemuan jasad keluarga Maria. Setelah delapan tahun disimpan, baru pada 2015 jasad itu diperiksa. Ternyata milik Maria dan Alexei.  Bagaimana bisa jasad Alexei dan Maria ditemukan terpisah? Menurut penuturan komandan eksekusi bernama Yakov Yurevsky, truk yang mengangkut jenazah sempat terhenti sebab ban truk terbenam lumpur. Maka Yakov Yurevsky memerintahkan agar muatan truk dikurangi. Tentara pun menurunkan dua jenazah secara acak. Dua jenazah itu kemudian dimasukkan ke lubang, disiram cairan sulfur dan kemudian dibakar. Itu mengapa jasad Maria dan Alexei hanya tersisa sedikit tulang belulang. Jasad Maria dan Alexei belum dimakamkan bersama kedua orang tua mereka dan saudari mereka di gereja Katedral St Petersburg.

Friday, July 3, 2020

Kisah Nyata : Runtuhnya Sebuah Kerajaan Besar Di Dunia

Silahkan baca : Kisah Hidup Kaisar Terakhir Russia, Kisah Hidup Putri Kerajaan Yang Menjadi Biarawati

Kaisar Nicholas II resmi mengabdikan diri pada 2 Maret 1917. Beberapa hari kemudian, ibunda Nicholas bernama Dagmar alias Minnie alias Maria Feodorovna datang di Moghilev menemui Nicholas alias Nicky. Selama tiga hari berturut-turut, Dagmar dan Nicky sarapan bersama dan berbincang hingga sore. Itu adalah pertemuan terakhir antara Dagmar dan Nicky. Nicky kemudian pergi ke istana Alexander di Tsarskoe Selo untuk berkumpul dengan Alexandra dan kelima anak mereka. Kedatangan Nicky di istana Alexander juga menandai ia dan keluarga resmi menjalani tahanan rumah. Saat Nicky dan keluarga sudah dipindah ke Tobolsk, Nicky mengirim surat kepada Dagmar. Surat yang diterima pada musim gugur 1917 itu akan menjadi surat terakhir Nicky kepada ibunya. Istri Nicky dan kelima anak Nicky juga menyisipkan surat untuk Dagmar. Dagmar kemudian mengirim balasan dan juga akan menjadi surat terakhir Dagmar untuk Nicky. Dagmar menceritakan bahwa kini mereka tinggal di villa Aitodor, Crimea bersama Xenia dan Olga, berikut anak-anak mereka. Sama halnya Nicky, Dagmar dan kedua putrinya juga menjalani tahanan rumah. Ayah Felix Yusupov (Felix = cucu menantu Dagmar) mengirim kepiting dan mentega kepada Dagmar untuk dinikmati sebab Dagmar sekeluarga di Crimea sudah tidak boleh menikmati roti dan mentega lagi. Dagmar beruntung masih bisa menerima surat dari kakak tercinta, Alexandra di Inggris dan adik tercinta, Waldemar di Denmark. Saat rumahnya di Kieff digeledah oleh tentara Bolsheviks, barang-barang pemberian Nicky dan anak-anak disita. Dari dokter gigi bernama Kastritsky, Dagmar bisa memperoleh sedikit kabar mengenai Nicky sekeluarga. Meski hampir sama, namun kelak nasib mereka akan berbeda dari Nicky.  

Pada pagi yang dingin dan berkabut tanggal 4 April 1919, kapal perang Inggris HMS Marlborough berlayar dari Konstantinopel menuju ke kota Sevastopol di Semenanjung Crimea. Kapten kapal bernama Johnson diberi kepercayaan membawa surat ibu ratu Inggris, Alexandra untuk disampaikan kepada adiknya, Dagmar. Dagmar adalah ibu permaisuri Russia. Intinya Alexandra menginginkan Dagmar segera keluar dari Russia sebelum terlambat untuk menyelamatkan diri dari fraksi Bolsheviks. Bolsheviks adalah fraksi pecahan dari Partai Sosial Demokrat Russia yang muncul dalam konferensi di Brussel, Belgia pada 1903. Fraksi Bolsheviks berisikan orang-orang garis keras yang berpendapat bahwa perubahan harus dimenangkan dengan senjata. Pemimpin Bolsheviks adalah Vladimir Lenin. Putra sulung Dagmar, yaitu kaisar Nicholas II mengundurkan diri pada 2 Maret 1917. Enam bulan kemudian, perdana menteri baru Alexander Kerensky mengumumkan Russia berganti menjadi negara republik. Tak lama setelah Nicholas mengundurkan diri, Dagmar yang berada di kota Kiev, Ukraina mendatangi Nicholas di kota Mogilev, Belarus. Itu merupakan pertemuan terakhir antara ibu dan anak. Sekembalinya ke Kiev, Dagmar menyadari bahwa ia tak bisa tinggal di sana lagi. Dagmar disarankan naik kereta api menuju ke Crimea ditemani oleh beberapa anggota kerajaan lain. Di Crimea terdapat sedikitnya empat villa milik anggota kerajaan. Salah satunya adalah villa Harax milik Dagmar.

Dagmar mengetahui betul bahwa Nicholas telah ditahan bersama istri dan kelima anaknya. Sebagai seorang ibu, Dagmar tak berhenti memikirkan Nicholas dan mengirimkan surat balasan untuk membesarkan hati Nicholas. Akan tetapi Dagmar tidak dapat berkomunikasi dengan putra bungsunya, Michael. Xenia juga mengirim surat kepada sang kakak tercinta "Hati ini berdarah memikirkan apa yang sedang kamu lewati sekarang. Namun jangan takut, Tuhan melihat semuanya, selama kamu masih sehat dan baik Kasihan negara Russia. Apa yang akan terjadi pada negara ini?".
Kemudian Dagmar mendapat informasi bahwa Nicholas sekeluarga telah tewas dieksekusi. Dagmar tak mempercayai kabar itu "Tak ada yang melihat Nicky (Nicholas) dibunuh. Bolsheviks hanya ingin menutupi fakta bahwa Nicky sebenarnya telah meloloskan diri keluar Russia". Sementara ia tidak lagi mengetahui kabar Michael. Lebih baik Dagmar tidak mengetahui, sebab apa yang sesungguhnya terjadi pasti akan mengoyak batinnya sebagai seorang ibu. Terlebih Dagmar sudah pernah ditinggal wafat oleh kedua anaknya, Alexander di usia 1 tahun dan George di usia 28 tahun. Sementara sang suami, kaisar Alexander III wafat saat masih berusia 49 tahun. Dan revolusi Russia juga mengorbankan dua putranya yang masih hidup. Michael tewas ditembak di kota Perm bersama sekretaris pribadinya, Nicholas Johnson pada 13 Juni 1918. Sebulan kemudian tepatnya tanggal 17 Juli 1918, Nicholas sekeluarga ditembak mati di rumah Ipatiev, kota Ekaterinburg. Tanggal 18 Juli 1918, adik ipar Dagmar yang bernama Elisabeth putri Hesse bersama anggota kerajaan lain juga tewas atas perintah Lenin. 

Pada Januari 1918, Tentara Merah dari Fraksi Bolsheviks berhasil menguasai kediaman Adipati Agung Nicholas Mikhailovich (adik sepupu kaisar Alexander III) di Petrogad. Dua bulan kemudian, Bolsheviks mengirim Nicholas ke kota Vologda menggunakan kereta api. Nicholas ditemani oleh asisten bernama Brummer, seorang koki dan sahabatnya. Di Vologda, Nicholas berempat ditinggalkan di sebuah rumah dua kamar. Adik kandung Nicholas yang bernama Adipati Agung George Mikhailovich dan sepupunya Adipati Agung Dimitri juga dibawa ke Vologda namun tinggal di rumah terpisah. Mereka awalnya saling mengunjungi satu sama lain dengan bebas asal tidak keluar kota Vologda. Pada 14 Juli 1918, Nicholas, George dan Dimitri dipindahkan ke penjara kecil. Brummer tidak diperbolehkan menemani Nicholas. Namun Brummer berusaha agar Nicholas dibebaskan. Brummer pula yang menginformasikan Nicholas bertiga bahwa Nicholas II sekeluarga baru dieksekusi mati. Esoknya, Nicholas bertiga dibawa balik ke Petrogad dan ditahan di kantor pusat Cheka. Nicholas, George & Dimitri masing-masing menempati tiga sel. Pada 28 Januari 1919, Nicholas bertiga dibawa ke Benteng Petrus & Paulus, Santo Petersburg. Di sana, mereka mengenali seorang pria yang ditandu mendekat. Ternyata pria itu adalah sepupu mereka, Adipati Agung Paul Alexandrovich dalam kondisi sakit parah. Satu persatu menemui ajal dengan cara ditembak. Nicholas menyerahkan kucing peliharaannya kepada seorang penjaga dan minta dibantu pelihara. Dimitri mengatakan :"maafkan mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Ajudan setia Dimitri secara diam-diam mengambil jasad tuannya, dibungkus karpet dan dimakamkan di halaman rumah di Santo Petersburg. Makam Dimitri masih ada hingga kini.

Kapal HMS Marlborough yang dikirim raja Inggris George V telah tiba dan siap menyambut Dagmar untuk kemudian dibawa ke Malta dan Inggris. Di kota Sevastopol, kapten Johnson memakai jalan darat untuk menemui Dagmar di kota Yalta. Sekembalinya ke Sevastopol, ia langsung memerintahkan agar HMS Marlborough diarahkan ke Yalta dan tiba di hari yang sama pada 7 April 1919. Yalta merupakan kota wisata yang dikelilingi oleh Laut Hitam. Dagmar berat hati harus meninggalkan Russia, negara yang telah ia diami selama lebih dari 50 tahun. Namun Dagmar menginginkan satu hal sebelum ia berangkat. Orang-orang di Yalta yang setia kepada keluarga kerajaan Russia dan menginginkan pergi, harus dibawa serta. Semula kapal HMS Marlborough diperkirakan dan telah dipersiapkan hanya mengangkut beberapa orang, di antaranya tentu Dagmar dan sekitar 12 orang yang menyertai Dagmar. Namun ternyata jumlah orang yang diangkut jauh melebihi perkiraan dan persiapan. Ia dan para kru harus melakukan yang terbaik menyiapkan makanan dan tempat tidur agar mencukupi. Ruang tidur kapten Johnson akan diberikan kepada Dagmar dan sang kapten pindah ke ruang lain. Total ruangan di HMS Marlborough adalah 35. Para kru kapal menempatkan 2 atau 3 tempat tidur di setiap ruangan. Sayangnya HMS Marlborough hanya memiliki cadangan kasur sebanyak 30. Dagmar tak ingin naik melalui dermaga Yalta sehingga HMS Marlborough melaju lagi beberapa mil ke teluk kecil Coriez. Di dekat Coriez terdapat istana musim panas milik Dagmar yang bernama Harax. Hanya satu putri Dagmar ikut ke kapal, ia adalah Adipatni Agung Russia Xenia. Xenia diikuti oleh keenam anaknya termasuk menantu, Felix Yusupov dan cucu, Irina Yusupova. Putra tertua Xenia telah mengungsi ke Paris terlebih dahulu bersama suami Xenia, Alexander Mikhailovich. Kapten dan kru kapal mulai sibuk mengatur barang bawaan sebab selain kapasitas bagasi terbatas, kebanyakan barang bawaan itu ditandai dengan bahasa Russia. Tidak ada satupun kru kapal yang memahami. Hebatnya, semua bawaan mampu dibereskan dan para penumpang sudah naik hanya dalam sehari. Tanggal 7 April 1919 malam, HMS Marlborough berlayar meninggalkan Coriez menuju ke Yalta. Sejauh ini, HMS Marlborough sudah mengangkut 50 orang, di antaranya terdapat 38 orang wanita/perempuan. Di Yalta, HMS Marlborough berdiam tiga hari sebelum berangkat ke Konstantinopel. 

Pada 8 April 1919 pagi, HMS Marlborough mendapat tambahan penumpang dan tentunya barang bawaan. Salah satu penumpang adalah Nicholas Nikolaevich, Adipati Agung Russia. Nicholas yang ini adalah adik sepupu mendiang kaisar Alexander III, suami Dagmar. Ia bekerja sebagai Kepala Komandan Angkatan Kerajaan Russia. Nicholas mendekati Dagmar yang telah duduk di atas kapal. Setelah memberi hormat militer, ia membungkuk dan mencium tangan Dagmar. Penumpang lain adalah istri Nicholas yaitu Anastasia, adik Nicholas yaitu Peter Nikolaevich bersama istrinya, Milica, ketiga anaknya yaitu Marina, Roman, Nadezhda dan cucunya, Irina. Usia Irina baru 13 bulan menjadikan ia sebagai penumpang kapal yang termuda. Milica merupakan kakak kandung Anastasia. Jadi kakak beradik Nicholas dan Peter menikahi adik kakak Anastasia dan Milica. Pada saat bersamaan, kapten Johnson menerima kabar bahwa tentara merah Bolsheviks sudah mencapai Crimea utara dan dalam perjalanan menuju ke selatan di mana HMS Marlborough sedang berlabuh. Pada 8 April 1919 malam, polisi setempat memberitahu kapten Johnson bahwa pendukung Bolsheviks lokal di Yalta bisa muncul setiap saat untuk menyerang. Sepanjang malam yang menegangkan itu, lampu-lampu kapal dinyalakan untuk memantau kondisi di sekitar kapal.

Esoknya pada tanggal 9 April 1919, datang lagi beberapa orang yang berharap bisa bertemu Dagmar untuk memohon bisa naik ke kapal. Kapten Johnson khawatir Dagmar akan frustasi sebab tak mungkin bisa menolong mereka semua. Sesaat sebelum proses evakuasi di HMS Marlborough selesai, sebuah kapal sekoci Inggris berhasil mengangkut 400 orang pengawal kerajaan yang berkumpul di Yalta untuk kemudian menuju ke kota Sevastopol. Kapal sekoci Inggris itu kemudian berlayar perlahan mengitari kapal HMS Marlborough agar ratusan pengawal kerajaan tersebut dapat memberi hormat kepada Dagmar, dan melihat Dagmar untuk terakhir kali. Dagmar berdiri seorang diri dengan raut wajah sedih. Di belakang kanan, berdiri Nicholas Nikolaevich. Para pengawal kerajaan menyanyikan lagu kerajaan Russia dengan indah. Peristiwa ini sungguh mengharukan bagi siapa saja yang menyaksikannya dan pasti takkan terlupakan. Setelah sekoci menjauh dan menghilang dari pandangan, Dagmar tetap berdiri menatap ke arah perginya mereka. Tak ada yang berani mendekati wanita mungil ini.


ONE OF THE LAST PHOTOS OF MARIE FEODOROVNA BEFORE SHE LEFT RUSSIA ...
Dagmar Alias Maria Feodorovna Alias Minnie Bergaun dan Bertopi Hitam
Pria tinggi di belakang memakai mantel coklat adalah Adipati Agung Nicholas Nikolaevich.
Di atas kapal HMS Marlborough pada 9 April 1919.


Tanggal 11 April 1919, semua telah beres dan HMS Marlborough siap berlayar menuju ke Konstantinopel. Kapten Johnson memperkirakan total barang bawaan penumpang adalah 200 ton. Hari yang seharusnya menjadi hari lega itu bukan untuk Dagmar. Sepanjang pagi, ia harus menerima orang-orang yang datang memohon untuk ikut atau sekedar mengucap selamat tinggal. Dagmar sudah tidak dapat berbuat apapun untuk mereka yang memohon. Namun ia sangat mengkhawatirkan kondisi mereka yang terpaksa ditinggal. Siang hari, HMS Marlborough mulai berlayar meninggalkan Yalta. Sejak itu, Dagmar dan 17 anggota kerajaan di atas kapal tidak akan pernah kembali ke Russia lagi selama mereka hidup. Hari itu, kerajaan Russia wangsa Romanov yang berkuasa sejak tahun 1613 resmi berakhir. Kapten Johnson memberikan sertifikat yang ia tandatangani kepada setiap pengungsi termasuk Dagmar. Contoh isi sertifikat untuk Xenia : Saya menyatakan bahwa Yang Mulia Adipatni Agung Xenia Alexandrovna meninggalkan Russia dengan HMS Marlborough pada 11 April 1919. (Tanda Tangan) Kapten Johnson. 

HMS Marlborough akhirnya berlabuh di pulau Halki, Konstantinopel. Laksamana Calthorpe menuju ke kapal untuk berdiskusi tentang kehidupan pengungsi kerajaan selanjutnya. Keputusan kilat datang bagi Dagmar, Xenia dan keenam putra Xenia. Mereka akan dibawa ke Inggris melalui Malta dan mendapatkan perlindungan politik dari negara Inggris. Akan tetapi pemerintah Inggris tidak mengijinkan dua adipati bersaudara yaitu Nicholas Nikolaevich dan Peter Nikolaevich untuk tinggal di Inggris. Dagmar merasa sangat sungkan juga kasihan pada kedua adipati ini. Ia meminta agar Nicholas dan Peter dipindahkan ke kapal lain dengan tujuan lain sebelum HMS Marlborough berlayar lagi ke Malta. Pada 16 April 1919, Nicholas dan Peter naik kapal Lord Nelson menuju ke Genoa, sebuah kota pelabuhan di utara Italia. Sesampai di Genoa, Nicholas dan Peter menjadi tamu raja Italia, Victor Emmanuel III yang juga merupakan kakak ipar Nicholas. Setelah itu, Nicholas dan istrinya tinggal di pinggir kota Paris. Sementara Peter menetap di kota Antibes, Perancis Selatan.
Tepat pada hari Jumat Agung, 18 April 1919 HMS Marlborough kembali berlayar dengan tujuan Malta. Di atas kapal, Dagmar dan penumpang lain merayakan paskah. Saat mendekati Malta, sebuah telegram dikirim kepada gubernur Malta memberitahu bahwa keluarga kerajaan Russia akan datang. Gubernur Lord Methuen diminta untuk melakukan upacara penyambutan kecil-kecilan dan informal atau jika perlu, jangan ditemui. Jangan sampai juga berita kedatangan mereka muncul di koran lokal. Namun setelah sampai, pesan telegram itu seolah tak dihiraukan.

Pada 20 April 1919 jam 5 sore, HMS Marlborough telah berlabuh di kota Valetta, Malta. Esok paginya, Dagmar dan penumpang lain turun kapal disambut oleh Lord Methuen dan istrinya. Angkatan laut Malta mengumandangkan lagu kebangsaan Russia. Dagmar, Xenia, keenam putra Xenia dan para pegawai di rumah tangga Dagmar diantar ke istana San Antonio. Di antara pegawai itu terdapat asisten wanita Dagmar yang bernama Zina Mengden, asisten wanita Xenia yang bernama Sophie Evreinoff, pengasuh anak Xenia bernama Jane Coster, tukang masak Sergei Dolgoruky dan beberapa bodyguard. Sementara yang lain seperti Irina, Felix Yusupov dan putri mereka menginap di hotel. Istana San Antonio merupakan villa musim panas milik gubernur. Sang gubernur memerintahkan bawahannya untuk merapikan villa secepat mungkin. Setelah mengantarkan di villa, Lord Methuen dan istrinya menyerahkan kepada Robert Ingham. Robert mengajak Dagmar dan semua untuk makan bersama. Keesokan malam, Felix Yusupov mengajak salah satu putra Xenia bernama Feodor dan juga beberapa kelasi HMS Marlborough mengunjungi kelab malam di kota Valetta. Kelima putra Xenia setiap pagi diharuskan membungkuk hormat dan mencium tangan Dagmar. Dagmar dan semua akan menginap selama delapan hari di Malta. Dagmar menikmati jamuan minum teh bersama Nyonya Methuen di villa Valetta dan menerima banyak tamu yang datang berkunjung. Dagmar dan Xenia jatuh hati pada Malta. Kelak beberapa tahun kemudian, Xenia memohon kepada raja George V untuk membiarkan dirinya dan Dagmar hidup di Malta untuk seterusnya. Namun George V menjawab bahwa ia memiliki rencana lain untuk sang tante dan sepupunya. Dagmar dan yang lain meninggalkan istana San Antonio pada 29 April 1919. Sebelum pergi, Xenia mencabut empat batu mirah delima dan sebuah berlian dari baju sutra putihnya. Ia memberikan permata tersebut sambil menggenggam tangan Ingham dan berharap bahwa ia akan selalu diingat.

Setelah delapan hari beristirahat di Malta, Dagmar, Xenia dan sisa pengungsi lain menaiki kapal Lord Nelson. Lord Nelson akan membawa Dagmar dan lainnya menuju ke Inggris. Dagmar dan Xenia tiba di Inggris pada 9 Mei 1919. Dagmar memang sempat tinggal di Sandringham, Inggris bersama Alexandra namun kemudian ia pindah ke Denmark. Di Denmark, Dagmar tinggal bersama keponakan, raja Christian X. Sementara Xenia tetap tinggal di Inggris atas biaya saudara sepupunya, raja George V. Kemudian Dagmar pindah lagi dan terakhir kali ke villa Hvdore yang ia dulu beli bersama Alexandra. Villa itu terletak di pinggir kota Copenhagen. Xenia berusaha mengunjungi Dagmar sesering mungkin. Dagmar masih tetap dianggap sebagai permaisuri Russia oleh pengungsi dari Russia di Denmark. Mereka kerap meminta tolong. Pada tahun 1925, Alexandra wafat. Tiga tahun setelah sang kakak tercinta, Dagmar wafat. Semula ia dimakamkan di katedral Roskilde, Denmark meski ia berwasiat ingin dimakamkan di samping sang suami. Pada tahun 2005, tercapai kesepakatan antara ratu Denmark Margarethe dan presiden Russia Vladimir Putin beserta pemerintah masing-masing untuk memindahkan jasad Dagmar ke Russia. Jasad Dagmar pada akhirnya berdampingan lagi dengan sang suami pada tahun 2006.

Tuesday, June 30, 2020

PANGERAN KERAJAAN RUSSIA YANG WAFAT DI USIA MUDA

  1. Alexander I, Kaisar Russia : 47 Tahun. Hanya segelintir anggota kerajaan Romanov Russia bisa hidup hingga usia tua. Alexander I merupakan paman dari kaisar Alexander II. Pernikahan Alexander dengan Louise, putri Baden dikaruniai dua orang anak. Namun mereka meninggal saat masih bayi akibat sakit. Karena itu tahta Alexander I turun ke adik kandungnya, Konstantin. 
  2. Alexander III, Kaisar Russia : 49 Tahun. Lahir pada 10 Maret 1845 sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara. Pada 1866, Alexander menikah dengan Dagmar, Putri Denmark dan dikaruniai enam orang anak. Pada 17 Oktober 1888, kereta api yang ditumpangi Alexander sekeluarga keluar dari rel dan terbalik. Meski luka dalam, Alexander berusaha mengangkat gerbong kereta agar seluruh keluarganya bisa keluar dan menyelamatkan diri. Luka ini menyebabkan ginjal Alexander bermasalah. Pada 1894, kaisar Alexander III meninggal akibat gagal ginjal stadium akhir. Tahta Alexander III diteruskan oleh anak sulung yaitu Nicholas II.
  3. Alexis, Kaisar Russia : 46 Tahun. Lahir pada 19 Maret 1629. Pernikahan pertama dengan Maria Miloslavskaya berjalan harmonis dan dikaruniai 13 anak. Sayang setelah 21 tahun membina rumah tangga, Miloslavskaya wafat. Dua tahun setelah menduda, Alexis menikah lagi dengan Natalya dan dikaruniai tiga orang anak. 
  4. Dmitri Pavlovich, Adipati Agung Russia : 50 Tahun. Lahir pada 18 September 1891, Dmitri sejak kecil mengidap tuberkulosis. Meski demikian, Dmitri sangat piawai dalam beberapa bidang olah raga di antaranya polo, berkuda dan tenis. Oleh karenanya ketika Dmitri meninggal di usia terbilang muda, banyak spekulasi beredar. Namun sebagian besar percaya bahwa penyakit tbc lah yang merenggut nyawa Dmitri.
  5. Fedor Nikitich Romanoff, Pangeran Russia : 33 Tahun. Lahir pada 1974, Fedor merupakan putra dari Nikita, adipati agung Russia dan juga cucu dari Xenia, Adipati Agung Russia. Ia tewas pada 25 Agustus 2007 setelah terjun diri dari jendela di Pantai Pompano, Floria, Amerika Serikat.
  6. George Alexandrovich, Adipati Agung Russia : 28 Tahun. Lahir pada 9 Mei 1871 dari pasangan Kaisar Russia Alexander III dengan Dagmar, Putri Denmark. Ia juga adik kandung dari Kaisar Russia, Nicholas II. Hal yang menyedihkan adalah seluruh saudara laki-laki George tidak ada satupun yang berusia panjang. Nicholas tewas ditembak, sementara kakak kedua meninggal akibat radang otak di usia 10 bulan. Adiknya yang bernama Michael tewas dibunuh hanya 3 minggu sebelum Nicholas. George sendiri wafat akibat tuberkulosis.
  7. Georgy Konstantinovich, Pangeran Russia : 35 Tahun. Lahir pada 6 Mei 1903, Georgy bersama ibu dan adiknya berhasil meloloskan diri ke Swedia menggunakan kapal laut saat terjadi revolusi Russia 1918. Georgy kemudian menetap di New York, Amerika Serikat dan menjadi desainer interior yang sukses. Sayang hidupnya memang tak panjang. Ia meninggal akibat komplikasi setelah menjalani operasi. 
  8. Michael, Kaisar Russia : 49 Tahun. Lahir pada 22 Juli 1596, Michael menjadi kaisar Russia yang pertama bertahta di bawah wangsa Romanov. 
  9. Michael Alexandrovich, Adipati Agung Russia : 39 Tahun. Ia adalah anak kelima dari enam bersaudara pasangan kaisar Alexander III dan Dagmar. Pada 13 Juni 1918, Michael tewas ditembak bersama sekretaris pribadinya, Nicholas Johnson. Jasad Michael dan Nicholas belum ditemukan hingga kini.
  10. Michael Mihailovich, Pangeran Russia : 41 Tahun. Lahir pada 31 Juli 1959, Michael merupakan putra semata wayang pasangan Michael Feodorovich dengan Helga. Michael merupakan cicit dari kaisar Russia, Alexander III. 
  11. Nicholas II, Kaisar Russia : 50 Tahun. Lahir pada 18 Mei 1968 sebagai anak sulung dari enam bersaudara. Nicholas tewas ditembak bersama kelima anak, istri dan empat pegawainya di rumah Ipatiev, Ekaterinburg pada 17 Juli 1918. Adik kandung Nicholas juga tewas ditembak mati pada 13 Juni 1918. Mereka adalah korban dari aksi fraksi Bolsheviks pimpinan Vladimir Lenin.
  12. Nicholas Alexandrovich, Adipati Agung Russia : 21 Tahun. Lahir pada 20 September 1843, Nicholas menjadi putra pertama sehingga ia menjadi calon pewaris kekaisaran Russia setelah sang ayah, Alexander II. Pada usia 20 tahun, Nicholas bertunangan dengan Dagmar, Putri Denmark. Sayang setahun kemudian ia wafat akibat radang otak. 
  13. Paul I , Kaisar Russia : 46 Tahun. Paul lahir pada 1 Oktober 1754. Ia menikah dua kali. Istri pertama bernama Wilhelmina, putri Darmstadt, wafat setelah melahirkan. Bayi laki-laki yang dilahirkan juga sudah tak bernyawa. Paul kemudian menikah lagi dengan Sophie dan dikaruniai sembilan orang anak.
  14. Peter II, Kaisar Russia : 14 Tahun. Lahir pada 23 Oktober 1715 sebagai anak bungsu dari dua bersaudaara. Ia menjadi kaisar Russia saat baru berusia 12 tahun. Tragisnya, kakak semata wayang Peter yang bernama Natalya Alexeyevna juga wafat di usia persis dirinya, 14 tahun. Ibunda Peter bernama Charlotte, wafat di usia 21 tahun akibat komplikasi setelah melahirkan Peter. Tiga tahun kemudian, ayah Peter wafat pada tahun 1718 di usia 28 tahun. Ini menjadikan Peter dan Natalya yatim piatu saat masih kecil. Dengan wafatnya Peter dan Natalya, maka keluarga inti mereka sudah lenyap.
  15. Peter III, Kaisar Russia : 34 Tahun. Peter lahir di Kiel, Jerman pada 21 Februari 1728 dengan nama Charles Peter Ulrich. Ia menikah dengan Sophie (Catherine, Permaisuri Russia) dan dikaruniai seorang putra bernama Paul. Peter bertahta sejak Januari 1762 namun hanya berlangsung setengah tahun sebab kemudian ia ditangkap dan dipaksa turun dari tahta. Pada bulan yang sama, Peter wafat. Banyak yang berspekulasi bahwa ia dibunuh meski pernyataan resmi menyebut ia terkena mulas akibat wasir.
  16. Sergei Alexandrovich, Adipati Agung Russia : 47 Tahun. Lahir pada 11 Mei 1857, Sergei merupakan adik kandung kaisar Russia, Alexander III dan juga suami dari Elisabeth, Putri Hesse-Rhine. Ia tewas termutilasi pada Februari 1905 akibat dilempar bom saat hampir sampai di depan kediamannya.
  17. Sergei Mikhailovich, Adipati Agung Russia : 48 Tahun. Lahir pada 7 Oktober 1869, Sergei merupakan salah satu anggota kerajaan yang tewas dibunuh pada masa Revolusi Russia. Semasa hidup, Sergei berhubungan dengan Mathilde, seorang balerina Russia. Namun kemudian Mathilde jatuh cinta kepada keponakan Sergei yaitu Andrei. Sergei juga menjalin hubungan dengan Barbara dan dikaruniai seorang putra bernama Alexander.
  18. Vladimir Paley, Pangeran Russia : 21 Tahun. Lahir pada 9 Januari 1897 di St Petersburg, Russia. Vladimir dibesarkan di Paris, Perancis. Pada masa revolusi Russia, Vladimir beserta beberapa anggota keluarga kerajaan lain dibunuh. Ibunda Vladimir hanya sempat menyelamatkan kedua adik perempuan Vladimir. Sementara ayah Vladimir, kakak tiri laki-laki, para sepupu termasuk Kaisar Russia Nicholas II bersama seluruh keluarga ikut terbunuh.